Page 88 - Santa Klara dan Hal-Ihwal Warisan Rohaninya
P. 88
Bagian II: Riwayat Hidup Santa Klara dari Asisi
Demi kasih yang besar saya meminta kalian,
agar dengan hati-hati menggunakan sedekah yang diberikan Tuhan.
Mereka yang dibebani oleh penyakit
dan yang lain-lain yang karena mereka berpayah-payah,
hendaklah kalian semua menanggungnya dengan tentram.
Sebab susah payah itu nanti
kalian jual dengan harga tinggi,
oleh karena kalian masing-masing akan dinobatkan menjadi ratu di surga,
bersama dengan Perawan Maria.
Pada waktu yang kira-kira sama (th. 1226) Fransiskus juga menulis wasiat-
nya bagi Klara. Wasiat itu oleh Klara dicantumkan ke dalam Anggaran Da-
sarnya (1253) bersama dengan Pola Dasar Hidup karangan Fransiskus.
Jelaslah Fransiskus dan Klara ingin bahwa para saudari di St. Damiano tetap
setia pada apa yang dianggap dasariah. Dalam wasiat itu Fransiskus seolah-
olah mempercayakan mutiara yang paling berharga baginya kepada Klara
dan teman-temannya. Yaitu “hidup tersuci”, yaitu mengikuti kehidupan
Yang Mahatinggi, Tuhan kita Yesus Kristus, dan “kemiskinan” (Yesus
Kristus itu). Seolah-olah Fransiskus kurang percaya pada pengikut-pengi-
kutnya sendiri, sehingga menyimpan mutiara itu di St. Damiano.
Pada tahun 1226 itu juga ibu Klara, Hortulana, menggabungkan diri dengan
putrinya di St. Damiano. Dan pada tahun 1229 diikuti oleh adik Klara yang
bungsu, Beatrice. Hampir seluruh kaum wanita keluarga di Favarone masuk
“Klaris”. Agaknya Hortulana yang waktu masuk St. Damiano menjanda,
meninggal sebelum tahun 1238.
Keluarga di Favarone memang bangsawan. Dan di antara penghuni St. Da-
miano, masih ada puteri bangsawan lain juga. Namun demikian juga ada
puteri dari golongan rendahan, termasuk yang buta huruf. Dalam hal itu
Klara sama seperti Fransiskus – tidak mengambil pusing tentang asal-usul
pengikutnya. Di St. Damiano perbedaan sosial tidak berperan sedikit pun,
seperti halnya di banyak biara lain di masa itu; tidak jarang terdapat berbagai
“kelas” rubiah/rahib Anggaran dasar Klara mengandaikan bahwa di antara
para penghuni St. Damiano ada sejumlah buta huruf, yang tidak dapat mem-
baca ofisi ilahi (bahasa Latin), sehingga sebagai gantinya mereka boleh mem-
baca sejumlah Bapa Kami. Itu diambil alih dari golongan “conversi” (yang
86

