Page 96 - Santa Klara dan Hal-Ihwal Warisan Rohaninya
P. 96

Bagian II: Riwayat Hidup Santa Klara dari Asisi

           sungguh tak terperikan, entah oleh pemahaman kami yang terbatas, atau oleh kosa
           kata kami yang miskin”. Dan pujian itu ditulis pada tahun 1232 dan dibacakan
           setiap tahun pada pesta St. Fransiskus, yang ramai-ramai dihadiri oleh orang
           banyak. Mendengar pujian semacam itu Klara kiranya senyum simpul saja
           atas kebodohan itu, yang sudah dikecam oleh firman Allah yang menegas-
           kan: jangan memuji orang sebelum mati.

           Nama harum Klara itu pasti turut menarik wanita yang semakin banyak ke
           St. Damiano. Pada tahun 1233 jumlah penghuni St. Damiano mencapai angka
           50. Bagaimana saudari sebanyak itu dapat ditampung di rumah yang kecil
           itu sukar dibayangkan. Tetapi nyatanya terjadi. Sebab tidak ada berita bahwa
           selagi Klara hidup komplek St. Damiano pernah diperluas. Saudari-saudari
           itu pasti berdesak-desakan. Tidur bersama di bangsal tidur, makan bersama
           di ruang makan; bersembahyang bersama, berdiam diri bersama, berpuasa
           dan  berpantang  bersama.  Dan  yang  masuk  di  St.  Damiano,  datang  dari
           segala lapisan masyarakat dan berbagai daerah. Ada bangsawati, tetapi juga
           ada yang berasal dari kalangan warga kota, kaum kaya baru, pun pula dari
           “populo grasso”, lapisan rendah dalam masyarakat kota di abad pertengahan.
           Tentu saja agak sukar membina dan mempertahankan persaudaraan sejati
           dalam  komunitas  semacam  itu.  Tetapi  justru  persaudaraan  rohani  itulah
           yang  dipentingkan  Klara.  Gagasan  “persaudaraan”  rohani  itu  tentu  saja
           bukanlah suatu yang serba baru. St. Augustinus sudah mengembangkan ga-
           gasan injili itu serta menekankan pelaksanaan gagasan itu dalam kelompok
           rohaniwan (dan rohaniwati) seperti yang didirikan Augustinus di kota Hipo.
           Tetapi, sama seperti Fransiskus, Klara kembali menekankan gagasan itu se-
           bagai  tiang  penopong  komunitas  injili.  Dari  Anggaran  Dasar  Fransiskus,
           Klara mengutip desakan sebagai berikut: “Dan kalau seorang ibu mencintai
           dan mengasuh anak kandungnya, apa pula seorang saudari harus mencintai
           dan mengasuh saudari rohaninya dengan seksama”. Persaudaraan itu me-
           mang bukanlah persaudaraan menurut daging, melainkan “dalam roh”. Dan
           roh  itulah  yang  membongkar  segala  pemisahan  dan  rintangan  yang
           terpasang  antara  klas-klas  dalam  masyarakat  biasa.  Persaudaraan  rohani
           tidak tahu akan perbedaan semacam itu. Tentu saja juga di St. Damiano ke-
           manusiaan  serta  kerapuhannya  kadang  kala  memperlihatkan  hidungnya.
           Tetapi “abdis dan saudari-saudarinya jangan marah atau jengkel karena dosa
           seseorang, sebab kemarahan dan rasa jengkel menghalangi kasih di dalam
           94
   91   92   93   94   95   96   97   98   99   100   101