Kapitel Provinsi OFM Indonesia

[tab name=”berita”]

“Persaudaraan Injili : Formasi dan Aktualisasi Identitas Fransiskan di Era Globalisasi”. Inilah tema Kapitel Provinsi Ordo Saudara-Saudara Dina (OFM) Indonesia yang berlangsung dari tanggal 22 – 29 September 2013 di Rumah Retret Santa Klara, Pacet, Jawa Barat. Tiga puluh enam peserta hadir untuk mengikuti kegiatan ini. Mereka datang dari Timor Leste, Atambua, Flores, Jogja, Jawa Barat, dan Jakarta. Kapitel ini merupakan kegiatan rutin yang diamanatkan Konstitusi Umum Tarekat Saudara-Saudara Dina (OFM) untuk dilakukan setiap tiga tahun. Dengan mengusung tema itu, tarekat OFM ingin mengevaluasi perjalanan hidup selama 3 tahun terakhir terkait dengan hidup dan karya persaudaraan. Pada Sidang Provinsi ini pula, akan dipilih empat anggota Dewan Pimpinan (Definitorium) Provinsi yang baru untuk periode 2013-2016. Mereka bertugas untuk membantu Provinsial dan wakilnya.

Hidup Injili Secara Radikal
Para saudara fransiskan mengawali kapitel dengan rekoleksi bersama selama dua hari pertama. Rekoleksi dimulai pkl 20.00 wib bersama Sdr. Martin Harun sebagai pendamping. Beliau mengajak para Saudara untuk menggeluti tema Hidup Injili secara radikal. “Pertobatan St. Fransiskus memberikan kita dua dimensi pertobatan. Di satu sisi, tobat berarti berbalik kepada Allah. Di sisi lain, tobat berarti berbalik kepada orang kecil” pungkas profesor emeritus Kitab Suci STF Driyarkara ini. Dalam konteks globalisasi saat ini, misionaris kelahiran Belanda ini menenggarai adanya segi negatif yang menghambat dan juga segi positif yang membantu kita untuk maju. “Kita, dalam situasi dan budaya kita, ditantang untuk memberi warna baru dalam menghayati dimensi fransiskan kita!” harapnya dengan tegas.

Kembali ke Identitas

Ajakan untuk kembali ke Identitas Fransiskan bergema di hari kedua (23/9/2013) kapitel para Saudara Dina OFM. Minister Provinsi, Saudara Adrianus Sunarko di hadapan peserta kapitel, dalam Ekaristi pembukaan Kapitel sekaligus penutupan rekoleksi menyampaikan bahwa dunia saat ini begitu keras. “Begitu banyak orang menjadi korban globalisasi. Mudah-mudahan, dalam gerak kembali ke identitas itu, kita tetap menyertakan mereka,” ungkapnya di sela-sela homilinya. Lebih lanjut ia menegaskan bahwa perjumpaan dengan orang lain, mengundang para saudara dina untuk pulang ke rumah, yakni identitas fransiskan. Kesederhanaan, persaudaraan, pelayanan, dan amal kasih adalah nilai-nilai yang membentuk identitas fransiskan. Nilai-nilai itu diwujudkan juga oleh kebanyakan orang. Mereka membantu para fransiskan dalam usaha kembali ke rumah. Akan tetapi, ada sebagian orang yang tidak mau kembali karena terhambat oleh kemapanan yang terlanjur dinikmati. Hal ini menghalangi upaya para fransiskan untuk kembali ke identitas Fransiskannya.

Laporan Minister Provinsi
Para peserta Sidang di hari ketiga (24/9/2013) disuguhi pembacaan laporan dari Minister Provinsi, Sdr. Adrianus Sunarko selama kurun waktu pelayanannya bagi persaudaraan fransiskan dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2013. Ia mengawali pembacaan laporannya dengan membacakan surat Minister General OFM, Sdr. Michael Perry OFM terkait harapannya bagi para saudara dina di Indonesia agar tetap setia “sebagai pembawa rahmat Injil”. Dalam laporannya Sdr. Adrianus Sunarko menegaskan bahwa aktualisasi identitas fransiskan hendaknya diwujudkan di era globalisasi. Kekayaan spiritualitas fransiskan mesti dibaca dalam konteks aktual. Ia juga mengharapkan bagi para saudara dina agar mampu membangun hidup komunitas yang peduli akan situasi nyata dunia saat ini. Selain laporan Sdr. Adrianus Sunarko para peserta kapitel juga mendengarkan refleksi Definitor General untuk Asia, Sdr. Paskalis Bruno Syukur yang secara khusus datang dari Generalat di Roma untuk menghadiri Kapitel Provinsi OFM.

Membangun Komunitas Formatif
Dinamika Sidang juga diwarnai dengan diskusi kelompok. Gagasan akhir dari seluruh dinamika diskusi kelompok mengarah pada niat dan harapan bersama yaitu, “membangun komunitas formatif”. Definisi komunitas formatif di sini merupakan tempat di mana setiap saudara baik secara pribadi maupun bersama secara terus-menerus membentuk dan mengaktualisasikan identitas fransiskan secara kontekstual dalam era globalisasi. Gagasan ini merupakan suatu jawaban atas pentingnya program ongoing formation/pembinaan yang terus-menerus bagi seorang religius fransiskan. Pembinaan yang terus-menerus itu sesungguhnya terjadi dalam dan melalui hidup bersama di komunitas. Para peserta Kapitel mulai merumuskan sejumlah poin penting sebagai unsur-unsur yang membangun terbentuknya komunitas formatif. Di penghujung sidang (29/9/2013) para peserta kapitel mengadakan pemilihan 4 anggota dewan pimpinan (definitorium) provinsi untuk masa pelayanan 2013-2016. Empat nama yang terpilih yaitu : Sdr. Antonius Eddy Kristiyanto OFM, Sdr. Michael Peruhe OFM, Sdr. Stanislaus Sukartanto OFM dan Sdr. Robertus Agung Suryanto OFM.
[/tab][tab name=”Foto-foto”]

Semua peserta kapitel.

Semua peserta kapitel.

Definitor General untuk Asia bersama Dewan Pimpinan OFM 2013-2016.

Definitor General untuk Asia bersama Dewan Pimpinan OFM 2013-2016.

Misa pelantikan 4 anggota definitorium 2013-2016

Misa pelantikan 4 anggota definitorium 2013-2016





[/tab][end_tabset]

Post navigation