Amo Kor: Sosok Seorang “Saudara” dan “Dina” yang Otentik

Pater Kornelis Keyrans, OFM adalah seorang Saudara Dina yang lama berkarya di Timor Leste  (1994-2020) khususnya di Wilayah Paroki Alas dan Paroki Fatuberliu, Manufahi. Selama di Timor Leste, beliau disapa dengan panggilan “Amo Kor”. Kisah di bawah ini merupakan kesaksian pribadi penulis atas sosok Amo Kor dan teladan hidup yang ditunjukkan ketika kami hidup bersama di Fatuberliu, tahun (2005-2006, sebagai postulan di Wekiar; 2015-2020 di komunitas Fatukahi).

Kesan Pertama

Saya berjumpa pertama kali dengan sosok Amo Kor ketika saya masuk postulan di Wekiar. Kesan pertama yang muncul adalah ‘takut’ karena memang beliau ‘muka ganas’ atau ‘jarang senyum’. Tetapi kalau sudah kenal dan terbiasa dengan beliau ternyata Amo Kor adalah sosok seorang bapak yang berhati lembut. Kiranya benarlah ungkapan yang berbunyi “Jangan tertipu dengan penampilan luar”. Karena Amo Kor biar muka ganas seperti “Rambo” tetapi hatinya selembut “Hello Kitty” (mungkin mirip-mirip dengan Amo Abbah dan Nai Kristo Tara…hehehe) Meskipun Amo Kor “bermuka ganas” tetapi ia tetap menampilkan diri sebagai sosok seorang Saudara Dina yang otentik. Berikut ini adalah beberapa kesan dari saya secara pribadi atas cara hidup dari sosok Amo Kor.

Pertama, Amo Kor menyadari bahwa ia adalah seorang Saudara Dina. Oleh karena itu, ia mencintai persaudaraan dan kedinaan, beliau selalu berusaha menghidupinya setiap hari. Cinta persaudaraan ia tunjukkan lewat bekerja kebun, khususnya mendatangkan dan menanam pohon-pohon yang bisa menghasilkan buah, seperti mangga, jeruk, sawo, rambutan, pepaya dan nanas. Amo Kor menanam pohon-pohon tersebut dengan prospek bahwa kelak saudara-saudara akan menikmati buah dari hasil tanamnya tersebut. Persaudaraan selalu diutamakan, bukan dirinya. Dengan rajin berkebun, Amo Kor juga sedang mempraktekkan identitas kedinaannya. Ia menyadari bahwa seorang saudara dina harus bekerja dengan tangannya sendiri. Artinya harus berani berkotor tangan, bersentuhan langsung dengan ibu bumi, yang dari padanya kita memperoleh sayur-mayur dan buah-buahan.    

Kedua, Amo Kor adalah seorang Pekerja. Setiap hari Amo Kor selalu punya waktu untuk bekerja tangan. Ia rajin membersihkan kebun, merapikan serta menyiram tanaman. Pernah ada keluarga postulant datang ke biara mau mengunjungi anak mereka, ketika tiba di biara mereka berjumpa dengan Amo Kor yang sedang membersihkan tanaman, dan sangka mereka beliau tukang kebun biara, sehingga mereka pun tidak peduli dan langsung menuju ruang tamu untuk bertemu dengan anak mereka. Setelah diberitahu oleh si postulant bahwa yang sedang kerja itu, Amo Kor, mereka pun malu dan pergi minta maaf ke Amo Kor.    

Ketiga, Pencinta Binatang. Waktu saya tiba pertama kali di Biara Wekiar (2005), saya heran sekaligus kagum karena Amo Kor begitu bersahabat dengan kera-kera hutan dan berhasil menjinakkan mereka sampai puluhan ekor banyaknya. Setiap hari mereka (amigo alias saudara-saudara kera) berkeliaran sampai di dapur dan teras-teras biara. Lebih heran lagi ketika Amo Kor memanggil kera-kera itu dengan sebutan “Amigo” yang artinya sahabat, mereka segera turun dari atas pohon dan datang mendekati Amo Kor untuk menerima pisang dari tangan beliau. Amo Kor sampai hafal betul jumlah kera-kera tersebut dari yang kecil hingga yang besar. Setiap hari Minggu, setelah merayakan Ekaristi di daerah-daerah Transmigrasi seperti: SP1 Bitirai, SP2 Quiras dan Sp3 Weleti, Amo Kor selalu membawa pulang pisang dari tempat-tempat yang ia layani tersebut untuk diberikan kepada “Amigo”. Selain bersahabat akrab denga kera-kera, Amo Kor juga suka memelihara anjing dan burung merpati, dan beternak babi, kambing, ayam, dan ikan. Bahkan beliau pernah memelihara ular. Beliau juga selalu memberi nama untuk masing-masing hewan piaraannya, dan ketika memberi mereka makan, ia selalu mengajak mereka berbicara. Hal ini menunjukkan betapa Amo Kor berusaha untuk mewarisi semangat bapa serafik St. Fransiskus Assisi yang begitu akrab dengan binatang.

Keempat, Seorang Pendoa dan Taat Berliturgi. Seperti diungkapkan di atas bahwa Amo Kor adalah seorang pencinta kerja tangan, tetapi beliau tidak pernah mengabaikan doa, baik doa pribadi maupun doa bersama. Amo Kor sebagai seorang imam sangat teliti dan taat berliturgi. Oleh karena itu, jika ada saudara yang tidak mempersiapkan liturgi dengan baik ia tidak segan-segan menegurnya. Amo Kor biasanya cepat bereaksi kalau dalam perayaan Ekaristi, yang bertugas memberi renungan adalah seorang saudara non imam (frater atau bruder, termasuk saudara tua sekalipun). Kalau itu terjadi, maka setelah misa, pasti beliau akan langsung berkomentar: “hmm…sekarang kita ada dua uskup ya..! Satu uskup diosesan dan satunya uskup fransiskan yang baru tahbiskan orang untuk kotbah”. Dari reaksi ini, jelas bahwa Amo Kor sangat taat dalam berliturgi, ia tidak mau saudara-saudara tampil sembarangan.

Kelima, Seorang pribadi yang berkata terus-terang. Amo Kor adalah seorang yang berani berkata terus-terang. Ia berani menegur siapa dan apa pun yang salah atau keliru, langsung tanpa menunda-nunda. Hal itulah yang mungkin membuat banyak orang takut dan segan dengan Amo Kor. Begitupun sebaliknya, ia juga tak segan-segan untuk mengapresiasi hal baik yang dibuat oleh saudara lain. Amo Kor adalah sosok yang suka mengapresiasi hasil kerja bukan teori belaka. Karena itu, Amo Kor selalu mendukung niat dan hal baik yang hendak dilakukan saudara lain, asalkan saudara itu harus menunjukkan bukti nyata bukan teori belaka. Kalau saudara lain bersedia bekerja, ia siap mendukung dengan mencari dukungan. Amo Kor selalu berkata, “yang penting harus ada bukti kerja; masalah uang atau material, bisa kita usahakan”. Ungkapan ini menunjukkan bahwa Amo Kor adalah sosok yang optimis. Ia selalu berkeyakinan bahwa selalu ada jalan bagi usaha kita.  

Keenam, Amo Kor meskipun tampaknya muka seram tetapi ia tetap pribadi yang berpenampilan sederhana. Amo Kor adalah sosok yang sederhana, hal ini terlihat dari cara berpakaiannya. Beliau selalu berjubah ketika menghadiri acara-acara formal. Selain acara formal, Amo Kor selalu tampil dengan pakaian sederhana apa adanya.

Ketujuh, Rendah hati dan taat. Kesan spontan yang bisa langsung muncul ketika kita berjumpa dengan Amo Kor adalah “sombong”, karena tampaknya beliau “mahal senyum”. Tetapi ketika kita dekat dan mengenal baik Amo Kor, ternyata beliau memiliki kerendahan hati yang dalam dan bersedia taat pada pimpinan. Salah satu contoh kecil yang, masih terekam baik dalam memoriku tentang kerendahan hati dan ketaatan Amo Kor, yakni ketika magister postulant kami menegur Amo Kor karena babi piaraannya memporak-porandakan halaman biara. Pada saat sarapan pagi, kami para postulant dan Amo Kor duduk di meja makan, dan dengan nada agak keras pater magister langsung menegur Amo Kor untuk segera mengamankan babi-babi tersebut. Amo Kor hanya duduk diam mendengar teguran pater magister. Setelah itu, Amo Kor langsung mengajak kami mengamankan babi-babi tersebut dengan membuat kandang. Tindakan yang  Amo Kor tunjukkan adalah pelajaran berharga tentang kerendahan hati. Padahal, kalau mau membandingkan dari segi usia antara Amo Kor dengan Amo Magister Postulan kami waktu itu; Amo Kor jauh lebih berumur dari Amo Magister. Usia hidup membiara dan imamat pun, Amo Kor unggul jauh dari Amo Magister. Seorang saudara “senior”, baik secara usia kelahiran dan usia kebiaraan ditegur oleh seorang “junior” di hadapan para postulan, tetapi ia tetap tenang, diam dan mendengar. Biasanya akan sulit terjadi kalau tanpa kerendahan hati yang mendalam. Amo Kor sungguh berhasil menunjukkan hal tersebut.   

Ada kisah lain tentang kerendahan hati Amo Kor yang saya alami. Pada tahun 2011, ketika saya libur ke rumah orang tua, saya menyempatkan diri mengunjungi saudara-saudara di komunitas Fatukahi. Waktu tiba di biara, para saudara sedang istirahat siang, dan hanya ada seorang saudara postulant sedang mencuci pakaian. Ketika melihat saya, diapun langsung pergi mengetok pintu kamar Amo Kor untuk memberitahu kedatangan saya. Amo Kor pun bangun dan hanya melihat saya dari jendelanya sambil berkata: “ahh…padahal kau yang datang, saya pikir orang penting yang datang makanya harus bangunkan saya”. Saya hanya mebalas dengan berkata “mohon maaf Amo, saya tidak menyuruh saudara postulant untuk bangunkan amo”. Ia lalu kembali menututup lagi jendela kamarnya dan istirahat. Sikap amo Kor ini terkesan seperti kurang bersahabat, tetapi saya memaklumi karena beliau adalah orang tua dan memang pada waktu itu jam istirahat siang. Waktu terus berjalan, dan saya pun kembali dipertemukan dengan Amo Kor untuk waktu yang cukup lama (2015-2020) ketika hidup bersama di Biara “3 Sahabat” Fatukahi. Dalam kurun waktu enam tahun kami hidup bersama di komunitas tersebut, Amo Kor sungguh menaruh respek kepada saya, beliau selalu menyapa saya dengan sebutan “Amo atau Pater”, tidak pernah lagi terdengar sapaan “kau” seperti ketika saya datang berlibur ataupun seperti sapaannya waktu saya masih postulan. Padahal dari segi umur, kalaupun saya disapa dengan sebutan “kau” itu tidak menjadi masalah, karena saya memang hanyalah seorang anak muda, hanyalah “cucu” Amo Kor. Tetapi, beliau sangat respek dan menganggap saya sebagai seorang saudara dan rekan imam. Di sinilah saya, mempelajari kerendahan hati seorang Amo Kor. Dulu dia menganggap saya bukan siapa-siapa (bukan orang penting), tetapi ketika mulai hidup bersama dalam satu komunitas sebagai seorang saudara tua, anggapan itu tidak pernah ditunjukkan lagi oleh Amo Kor.  

Kedelapan, Amo Kor selalu punya waktu untuk membaca buku dan menulis catatan. Setiap hari, Amo Kor selalu berusaha untuk duduk dan membaca buku. Di tempat duduknya selalu ada buku bacaan dan juga ia suka mencatat point-point penting yang diperolehnya dari bacaan tersebut ke kertas atau pun buku catatannya. Meskipun Amo Kor tampaknya “romol” tetapi ia tahu persis segala sesuatu yang disimpannya, karena semua hal sudah ia catat dalam buku catatannya. Sehingga ketika dia atau orang lain membtuhkan sesuatu, ia segera membuka buku catatannya untuk mengetahui tentang barang-barang itu.  Termasuk nomor-nomor telpon pun, Amo Kor menulis dalam buku catatannya, beliau tidak pernah save nomor kontak dalam HP. Karena kebiasaan membaca dan menulis, Amo Kor sering berpikir logis dan kritis. Meskipun beliau sudah sepuh tetapi tidak pernah menunjukkan tanda-tanda bahwa ia pikun.

Kesembilan, Amo Kor menunjukkan cinta dan perhatiannya yang besar pada Persaudaraan OFM di Bumi Lorosae. Meskipun sudah tua dan menjalani masa-masa pensiun, tetapi beliau masih berusaha untuk mencari orang-orang yang murah hati untuk membantu persaudaraan, khususnya rumah formasi Fatukahi. Waktu pertama kali saya bertugas sebagai magister novis (2016), karena ketiadaan dan keterbatasan sarana-prasarana di rumah Novisiat, beliau segera mencari orang-orang yang berbaik hati untuk membantu menyiapkan kebutuhan di rumah novisiat. Beliau berhasil mengadakan 10 lemari pakaian besar dari kayu jati, memperbaiki motor Mega pro peninggalan Amo Adri Nahal yang sudah “digudangkan” bertahun-tahun, yang kemudian masih dipakai hingga saat ini. Sebelumnya, sudah berkali-kali ada umat yang datang menawar untuk membeli motor itu, tetapi Amo Kor selalu bertanya pada calon pembeli motor bekas itu, “kamu mau membeli motor ini untuk apa?” “Saya mau perbaiki dan memakainya”, jawab calon pembeli. Amo Kor pun membalas, “kalau begitu saya juga mau memperbaiki dan saudara-saudara di sini juga bisa memakainya”.  Amo Kor juga sedang mencari dana untuk memperbaiki mobil Land Cruiser, agar bisa dipakai di rumah formasi untuk kebutuhan komunitas rumah Formasi Fatukahi. Inilah bukti cinta persaudaraan yang ditunjukkan oleh Amo Kor hingga beliau pergi meninggalkan kita semua dan persaudaaan ini, menuju rumah Bapa surgawi.

Catatan Akhir

Saya merasa ada begitu banyak kisah yang digoreskan oleh seorang Amo Kor di hati dan ingatan setiap orang. Tulisan ini murni kesan pribadi dari saya, mungkin bisa berbeda dengan pengalaman para saudara, tetapi semua yang saya tuliskan ini berdasarkan kedekatan dan pengenalan saya akan Amo Kor. Beliau adalah seorang Saudara Dina yang berusaha menghidupi identitas ke-“saudara dina”-annya dengan caranya sendiri. Tetapi beliau telah membuktikan bahwa beliau berhasil menjaga identitasnya hingga saudari maut menjemput. Semoga kisah-kisah sederhana dan teladan hidupnya, menginspirasi dan menyemangati kita untuk juga setia menghidupi identitas kefransiskanan kita di zaman ini. Adeus Amo Kor, temi netik ami iha ita boot nia orasaun sira iha Nai Lalehan Nia futar oin, atu hasulin grasa no bensaun wain ba fransiskanu atu buras iha Rai doben  Timor Leste nebe ita hadomi tebes. Selamat Jalan Boss…!   

Fatukahi, 20 Agustus 2021

Sdr. Mino Andrade, OFM

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *