Menjadi Saudara yang Mau ‘Berjalan’

[tab name=”Berita”] Dewasa ini, jalan hidup menjadi seorang (calon) biarawan maupun imam rasanya senantiasa mengundang pertanyaan dari khalayak, apalagi menjadi seorang saudara dina Fransiskan, yang katanya dengan rela hati mau hidup taat, tanpa milik dan murni sepanjang hidup. Banyak orang berpendapat bahwa sulit sekali rasanya menemukan orang yang dengan kesetiaannya, sungguh-sungguh rela menghayati cara hidup ini di tengah zaman yang senantiasa menawarkan ‘surganya’. Tentu hal ini juga menjadi pertanyaan bagiku, bagi saudara dan bagi kita semua, khususnya kaum muda Kristiani yang tengah mencari jati diri di masa ini. Lalu dengan realita yang demikian, sekarang pertanyaannya: “Apakah jalan ini jadi tak relevan lagi untuk dihayati dengan sepenuh hati oleh orang di zaman ini?” Dalam kacamata iman Kristiani, kita tentu bisa merasakan bahwa cinta Tuhan yang tak pernah ‘kering’, terus mengalirkan rahmat panggilan-Nya kepada orang-orang yang kepada-Nya mereka ingin setia. Jadi, jalan ini sejatinya tetaplah masih relevan untuk ditelusuri oleh orang muda di zaman ini.

Keyakinan iman ini setidaknya terbukti sekali lagi dalam peristiwa Perayaan Syukur Hidup Membiara bagi tiga saudara dalam Persaudaraan OFM, Provinsi St. Mikael, Indonesia. Hari Senin, 30 September 2013, Sdr. Urbanus Kopong Ratu, OFM, Sdr. Hendrikus Seta, OFM serta Sdr. Mikael Peruhe, OFM merayakan HUT hidup membiara mereka dalam Ordo Saudara Dina (OFM) Indonesia di Gereja St. Paskalis, Jakarta. Dalam peristiwa berahmat bagi seluruh Persaudaraan Fransiskan Indonesia ini, Sdr. Urbanus merayakan pesta emas (50 tahun) HUT membiaranya sementara Sdr. Mikael Peruhe serta Sdr. Hendrik Seta merayakan pesta perak (25 tahun) mereka. Sayangnya, Sdr.Hendrik Seta yang saat ini tengah menjalani tugas perutusan di Fundasi Timor Leste tak bisa hadir karena halangan tugasnya. Namun, suasana persaudaraan tetap terasa dalam perayaan syukur yang dihadiri oleh segenap keluarga para pestawan serta hampir seluruh perwakilan komunitas OFM Indonesia yang baru menyelesaikan Kapitel Provinsi di Pacet, (29/30/2013) ini.

Ketika perayaan ekaristi syukur dimulai, rombongan imam dan kedua yubilaris dengan tegap melangkah ke depan sambil diiringi nyanyian Bermazmurlah bagi Allah yang dikumandangkan para saudara muda Fransiskan dengan penuh semangat. Lagu ini seakan membangun suasana syukur para pestawan dan seluruh umat untuk memuji Allah karena karya dan rahmat panggilan-Nya yang bekerja dalam diri tiga saudara ini. Perayaan ekaristi dipersembahkan oleh Minister Provinsi OFM, Indonesia, Sdr. Adrianus Sunarko OFM, Sdr. Joseph Tote OFM, Sdr. Paskalis Bruno Syukur OFM bersama kedua pestawan yang hadir.

Dalam homili yang dikombinasikan dengan sharing pribadinya atas pengalamnnya dengan kedua saudara yubilaris ini, Sdr. Narko juga mengungkapkan rasa syukur atas kehadiran dan teladan kesetiaan dari para saudara ini. Beliau menggambarkan Sdr. Urbanus bagaikan Abraham yang dengan rela hati mau berjalan terus dari satu tempat ke tempat lain untuk sampai ke ‘tanah terjanji’. Kesetiaan ini teruji walaupun Abraham sendiri belum tahu tantangan apa yang akan ia hadapi di depan. Setidaknya hingga saat ini Sdr. Urbanus menjadi prototipe spirit Abraham ini. Lain halnya dengan Sdr. Michael Peruhe yang digambarkan Sdr. Narko sebagai pejuang sejati bagi orang-orang kecil. Ia menambahkan bahwa Sdr. Michael juga amat concern dengan tema-tema perjuangan bagi kaum terpinggirkan (option for the poor) bahkan sejak menjalani masa studinya di STF Driyarkara, Jakarta. Maka tak heran bahwa saudara ini juga merupakan pencetus ide pemberdayaan masyarakat khas Fransiskani dalam karya Ekopastoral di Pagal, Manggarai, NTT. Semua buah dari kesetiaan ini tentu menjadi rahmat tersendiri bagi Persaudaraan Fransiskan.

Seusai perayaan ekaristi, acara dilanjutkan dengan ramah tamah persaudaraan ala Fransiskan di aula Paroki Paskalis. Para pestawan masuk diiringi hentakan membahana lagu Congratulation dari rekan-rekan the Professor Band. Tak lupa kue ulang tahun hidup membiara berangka 25 dan 50 untuk kedua saudara dipotong dalam suasana kemeriahan bersama. Kemeriahan seakan tak pernah kendur dengan penampilan ciamik para saudara muda Fransiskan yang menampilkan aneka atraksinya, mulai dari tarian daerah pimpinan Sdr. Ruben Basenti Moruk sampai nyanyian rap Mars Kopasus (Komunitas Padua Susah Senang Sama-sama) khusus pestawan kreasi para saudara Komunitas Padua. Tak lupa aneka tembang yang dikidungkan para saudara (Sdr. Tauchen, Sdr. Agung, dkk.) menambah kemeriahan suasana. Perayaan syukur ini pun ditutup dengan tarian ja’i bersama seluruh hadirin.

Teladan hidup ketiga saudara ini sekali lagi menjadi bukti bahwa menghayati jalan hidup ini adalah sebuah rahmat dan pilihan yang relevan untuk dijalani, tentu dengan bantuan Rahmat Allah. Namun untuk sampai kepada tujuan itu, harus ada kerelaan hati dan kesetiaan untuk mau “berjalan” dan “bergerak” bahkan dalam ketidakpastian hidup dan jatuh bangun dalam proses ke depan. Hal ini tentu sejalan dengan semangat Bapa Fransiskus yang menghendaki kita semua menjadi musafir perantau di dunia dengan spirit lepas bebas, untuk jadi Fransiskan yang sejati di masa kini.

Kontributor : Sdr. Eduard Salvatore da Silva OFM
[/tab] [tab name=”Foto=foto”]






[/tab] [end_tabset]

Post navigation