13 Agustus – B. Markus dari Aviano

13 Agustus
B. Markus dari Aviano,
Imam Ordo I
1631-1699

Markus dari Aviano dilahirkan pada 17 November 1631 di Aviano, Italia dari pasangan Marco Pasquale Cristofori dan Rosa Zanoni dan diberi nama Carlo Domenico pada hari pembaptisannya. Dia dididik di rumah dan kemudian dia bersekolah di Gorizia yang dipimpin oleh imam-imam Yesuit.

Terpesona oleh kehidupan para pahlawan dan martir dan digerakkan oleh semangat suci, dia ketika berumur 16 tahun, meninggalkan Gorizia pergi dengan berjalan kaki menuju ke pulau Kreta, di mana orang-orang Venesia sedang berperang melawan orang-orang Turki Ottoman. Dia juga ingin menjadi martir karena iman. Setelah berjalan beberapa hari, kelelahan dan lapar, anak muda itu tiba di Capodistria dan mengetuk pintu biara Kapusin. Dia diterima dengan baik oleh superior yang, setelah memberinya makan dan istirahat, menasehatinya untuk pulang kembali ke rumah.

Terilhami secara mendalam karena perjumpaannya dengan para Kapusin itu, Carlo merasa bahwa Tuhan memanggilnya supaya masuk ordo itu. Pada 1648 dia masuk novisiat para Kapusin di Conegliano Veneto. Setahun kemudian, dia mengucapkan kaul-kaulnya dan diberi nama “Fr. Markus dari Aviano”. Pada 18 September 1655 dia ditahbiskan menjadi imam di Chioggia. Selama beberapa tahun berikutnya dia hidup tenggelam dalam doa dan melaksanakan tugas-tugasnya dalam komunitas, dan mempersembahkan diri tanpa reserve untuk menghayati setaat mungkin Anggaran dasar dan Konstitusi.

Namun hidup membiaranya mengambil langkah yang berbeda pada 1664, ketika dia menerima “izin untuk berkhotbah” dan dipanggil untuk menjalankan kegiatan misioner menyebarkan Injil ke seluruh Italia, khususnya selama masa Adven dan Prapaskah. Dia juga diberi tanggungjawab lebih besar di dalam Ordo, ketika dia dipilih menjadi superior dari biara di Belluno pada 1672, dan dari biara di Oderzo pada 1674.

Tanpa disangka-sangka hidup pater Markus Aviano berubah pada 8 September 1676. Ketika dia berkhotbah di sebuah biara di Padua, dia memberikan berkatnya kepada Sr. Vincenza Francesconi yang telah harus berbaring di tempat tidur selama 13 tahunan. Ketika menerima berkat dari pater Markus, dia pun menjadi sembuh. Berita perihal “berkat yang menakjubkan” itu tersebar ke seluruh kota, dan segeralah orang-orang sakit dan menderita datang mencari dia mohon berkatnya.

Pater Markus, taat pada atasannya dan perintah langsung dari Takhta Suci, terus berkhotbah di dalam dan di luar Italia. Khotbahnya tajam dan kena pada intinya, dan khususnya mengajar dan menyemangati umat beriman untuk menyesali dosa-dosa mereka dan menjalankan hidup injili. Dia selalu memimpin pendarasan bersama “Doa Tobat Sempurna”, sebuah doa yang dicetak dan disebarkan di banyak negara di Eropa. Berkatnya membawa rahmat rohani yang berlimpah-limpah kepada umat beriman, dan sering menyebabkan terjadinya penyembuhan badani yang mengherankan.

Di antara mereka yang mencari pertolongan dan nasehatnya adalah Kaisar Austria Leopold I. Sejak 1680 sampai wafatnya, pater Markus mendampingi Leopold I, dengan memberikan kepadanya bimbingan rohani dan menolong dia menemukan pemecahan dalam berbagai jenis masalah: politik, ekonomi, militer dan agama. Imam ini juga ditunjuk oleh Sri Paus Innocentius XI sebagai Nuntio Apostolik dan Utusan Paus, dan dengan demikian meninggalkan biaranya di Padua dan pindah ke Wina (Austria). Dengan khotbahnya dia menyemangati setiap orang dan berhasil membebaskan Wina dari ancaman Turki pada 12 September 1683.

Dari tahun 1683-89 dia ambil bagian dalam kampanye militer demi mempertahankan dan membebaskan, selalu dengan tujuan demi membangun dan meningkatkan hubungan-hubungan timbal balik yang bersifat persahabatan di dalam pasukan tentara Kerajaan, mengajarkan perilaku Kristiani yang otentik dan memberikan pertolongan rohani kepada para serdadu. Berkat bantuannya, terciptalah kembali damai di Eropa (dia juga membantu dalam pembebasan Buda pada 2 September 1686 dan Belgrado pada 6 September 1688), dan berkat campur-tangannya dia memperkuat kesatuan di antara kekuatan-kekuatan Katolik demi mempertahankan iman, yang sedemikian terancam oleh kekuatan-keuatan Ottoman.

Sepanjang karya misinya dan kontak yang begitu padat dengan orang-orang lain, pater Markus selalu hidup dalam hadirat Allah, dan sungguh, kesatuannya dengan Allah inilah yang memberinya kecerahan rahmat penyaringan (discernment) dan kemampuan untuk memberi nasehat yang tepat dalam kebanyakan situasi yang sulit. Sekali dia pernah menulis: “Allah tahu bahwa cakupan dari semua pekerjaanku hanyalah demi melakukan kehendak-Nya. Satu-satunya yang menarik saya adalah kemuliaan Allah dan kebaikan bagi jiwa-jiwa. Saya selalu menjadi hamba yang taat dari Bunda Gereja yang Kudus dan salalu siap sedia mencurahkan darahku dan memberikan hidupku bagi-Nya”.

Sang Kapusin, pater Markus dari Aviano ini meninggal dunia karena tumor pada 13 Agustus 1699 di Wina. Sebagaimana dia sabar dan kuat dalam menghadapi kesulitan-kesulitan hidup kerasulannya dan pengejaran dari pihak musuh-musuh Gereja, demikian juga dia sama kuatnya dalam menerima penderitaan yang disebabkan oleh penyakit pada akhir hidupnya.

Sumber: Vatikan. Diterjemahkan oleh: Alfons S. Suhardi, OFM.