21 Agustus – St. Pius X

21 Agustus
St. Pius X
1835-1914 – Paus, Ordo III Sekular

RIWAYAT HIDUPNYA

Adalah jalan Tuhan yang Mahakuasa untuk memberikan hormat kepada mereka yang memandang dirinya hina. Ini telah diperlihatkan di dalam hidup Yosef Sarto, yang kemudian menjadi Paus Pius X. Dia dilahirkan pada 1835 di sebuah desa kecil Riese, wilayah Venetia, di mana orang tuanya, orang yang tidak penting namun sangat saleh, membesarkan dan mendidik sebuah keluarga dengan sepuluh anak dalam kurun waktu yang sangat berat.

Para imam paroki mereka sangat tertarik pada diri Yosef, pemimpin para Misdinar yang berkelakuan baik dan seimbang. Mereka membantunya supaya pendidikannya dapat lebih terjamin. Pada tahun 1858, ketika dia berumur 24 tahun, dia menerima tahbisan suci. Selama sembilan tahun dia menjadi pastor pembantu (kapelan) di Tombolo. Superiornya menulis surat tentang dirinya: “Saya yakin bahwa pada suatu hari dia akan mengenakan mitra, lalu …. siapa tahu?” Kapelan Sarto mengambil Fransiskan agung St. Leonardus dari Porto Mauritio sebagai modelnya dalam hidup dan di mimbar. Pada jam empat pagi hari dia sudah berlutut di depan tabernakel.

Selama sembilan tahun dia menjadi pastor paroki di Salzano. Selama kurun waktu inilah dia bergabung dalam Ordo Ketiga St. Fransiskus dan mendirikan dua persaudaraan para Tertiaris. Selanjutnya dia berjuang melalui kata-kata dan tulisan-tulisannya, khususnya dengan kesederhanaan Fransiskan dan standar hidup yang keras, untuk mengejar cita-cita orang kudus Serafik itu.

Selama sembilan tahun yang lain lagi dia menjabat sebagai Vicarius General, Kanon dan Rektor dari Seminari keuskupan Treviso. “Dia tidak akan meninggal dunia di Treviso” kata orang dengan sungguh-sungguh pada waktu itu.

Dia menjadi Uskup di Mantua selama sembilan tahun. Hal ini tidak mengubah gaya dan kebiasaan hidupnya; dia tidak mau menerima penyambutan berupa resepsi-resepsi yang mewah. Dia memusatkan dirinya, dengan semangat yang tak terkalahkan, pada kerasulan yang tetap sangat penting melalui media pers, yang adalah mimbar masa modern ini.

Sebagai Uskup Agung Venetia, dia mengenakan jubah ungu sebagai Kardinal selama sembilan tahun pula, namun tetap sebagai seorang anak yang taat setia pada St. Fransiskus yang miskin itu.

Wafat Paus Leo XIII pada 1903 membawanya ke Roma untuk pemilihan Paus. Siapakah yang akan menjadi Paus yang baru? Kardinal Sarto menjawab: “Leo XIII, yang telah mencerahi dunia dengan kebijaksanaannya, akan digantikan oleh seorang Paus yang akan mengesankan dunia dengan kesucian hidupnya.” Tanpa curiga, dia telah memberikan gambar dirinya sendiri.

Setelah terpilih menjadi Paus, dia mengumumkan programnya: untuk memperbaharui segala sesuatu di dalam Kristus.Dia berbuat banyak demi pembaruan kehidupan agama, khususnya dengan mendorong umat menerima komuni pada umur lebih muda dan setiap hari, dengan mengambil langkah-langkah demi kesucian para imam, dengan menyemangati Ordo Ketiga, dan akhirnya, tapi bukan yang terkecil, dengan kehidupannya sendiri yang suci.

Serangan jantung menerpanya ketika malapetaka besar Perang Dunia pecah menimpa kita. “Saya ingin menderita,” katanya dalam keadaan sakitnya, “Saya ingin mati bagi para serdadu di medan perang.” Pada 20 Agustus 1914, Pus X meninggal dunia dengan damai pada usia 79 tahun. Pesan akhirnya sungguh Fransiskan sejati: “Saya lahir miskin, saya telah menjalani hidup miskin, dan saya ingin mati miskin pula.”

Banyak mukjizat terjadi pada makamnya. Proses beatifikasi dimulai pada 1923, dan dia pun dibeatifikasi pada 1951 dan dikanonisasi pada 1 954.

PERS KATOLIK

1.      Kita harus mendukung pers Katolik. Bukanlah tanpa alasan bahwa St. Pius X berulang kali, tidak peduli posisi apa yang sedang didudukinya, berusaha memasukkan pengaruhnya demi kepentingan pers Katolik. Pers Katolik patut memperoleh dukungan ini bila kita mengingat perjuangan-perjuangan yang telah dilancarkannya demi kepentingan Katolik dalam masa pengejaran, dalam masa perjuangan demi sekolah-sekolah Katolik, dan dalam kesempatan-kesempatan lain yang banyak jumlahnya. – Engkau hendaknya bersyukur, dan ungkapkan syukurmu itu dalam cara yang nyata dan praktis.

2.      Tanpa pers Katolik kita akan binasa. Itulah sebabnya St. Pius X memperlihatkan semangat yang sedemikian besar untuk pers Katolik. “Dengan lidah beribu-ribu Goliath, pers yang jahat menyodorkan malapetaka melawan segala sesuatu yang bersifat kudus bagi kita; dengan lidah ribuan Daud, karena itu, pers yang baik harus mempertahankan khazanah kekudusan kita,” kata Kardinal Faulhaber. Tetapi hal dapat terjadi demikian, hanya bila kita berdiri teguh dan bersatu padu di belakang pers Katolik. Sebuah koran pedalaman setempat pernah memperingatkan: “Pastor kita pastilah akan gemas sekali bila dia mengetahui betapa banyak koran dan barang cetakan yang kotor, yang terus menerus harus kita bagikan kepada rumah-rumah kebanyakan orang!” – Dalam hal ini, bagaimanakah hal-hal seperti itu bisa berdiri berdampingan dengan kamu?

3.      Kita harus memperlihatkan semangat antusias kita bagi pers Katolik. Pius X berkata: “Akan sia-sialah kamu membangun gereja-gereja dan biara-biara, ya, semua proyek Katolik kalian akan tanpa faedah, bila engkau melalaikan menggunakan ketangguhan senjata pers Katolik.” – Janganlah bersikap indiferen dalam hal yang sangat penting ini! Kobarkanlah dan ambillah bagian dalam kerasulan dalam bidang pers!

DOA GEREJA

Ya Allah, Engkau yang telah memancarkan sinar kebenaran kepada mereka yang sesat, sehingga mereka dapat kembali ke jalan yang benar, anugerahkanah kepada semua orang yang memeluk iman Katolik, bahwa mereka dapat mengingkari apa pun yang bertentangan dengan kebenaran dan merindukan apa pun yang bersesuaian dengan kebenaran itu. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

Sumber: The Franciscan Book of Saints, ed. by Marion Habig, ofm., © 1959 Franciscan Herald Press. Diterjemahkan oleh: Alfons S. Suhardi, OFM.