16 April – St. Benediktus Yosef Labre

16 April
St. Benediktus Yosef Labre
1748-1483

RIWAYAT HIDUPNYA
Dalam diri St. Benediktus Yosef Labre, terpenuhilah sepenuhnya makna yang termaktub dalam kata-kata Tuhan: “Aku akan membinasakan hikmat orang-orang berhikmat dan kearifan orang-orang bijak akan Kulenyapkan.” (1Kor 1:19). Dia muncul di dunia ini di Amettes, Perancis. Dia adalah anak sulung dari orang tua yang dikaruniai Tuhan dengan 15 orang anak.

Nampaklah bahwa roh Tuhan, yang menggerakkannya sepanjang hidup secara aneh, mendatanginya ketika dia berumur 16 tahun. Karena selanjutnya dia sama sekali kehilangan minatnya untuk belajar. Dengan alasan itu juga, menjadi sia-sialah pendidikannya untuk menjadi imam, padahal pamannya, yang juga seorang imam, sangat merindukannya.

Karena kesehatannya lemah dan pengetahuannya pun kurang, dia ditolak masuk menjadi anggota kelompok Kartusian dan Cistersian. Pada ketika itulah batinnya mendorong dia untuk meniru kehidupan St. Alexis: meninggalkan kota kelahirannya dan orang tuanya, kemudian hidup hanya dari sedekah, dan pergi berziarah mengunjungi tempat-tempat suci. Sejak hari itu jiwanya dilimpahi dengan ketenteraman yang besar.

Makanannya terdiri atas sisa-sisa yang berjatuhan dari meja orang lain. Sedekah yang diberikan kepadanya, dia berikan kepada orang-orang miskin. Pakaian compang camping yang menutupi tubuh pengemis Tuhan ini, menyelubungi sebuah hati yang bercahayakan cinta pada Tuhan dan sesama serta devosi yang sangat mesra pada Sakramen Mahakudus dan Bunda Allah. Di Asisi dia diterima dalam Persaudaraan Ikat Pinggang St. Fransiskus. Sejak itu dia menjadi kebanggaan perkumpulan saleh itu.

Penampilan luarnya yang menjijikkan itu menyakitkan dirinya lebih daripada orang lain. Sesungguhnya tubuhnya sangat peka terhadap pakaian semacam itu dan hal itu merupakan penderitaan yang paling pedih. Ia biasa berkata: “Kenyamanan kita tidaklah terletak di dunia ini.” Di Roma dia disebut orang miskin dari Devosi Empat Puluh Jam. Pada hari kematiannya, 16 April 1783, dia menyeret dirinya masuk ke sebuah gereja di Roma dan berdoa di sana selama dua jam sampai dia pingsan. Dia diusung ke sebuah rumah yang dekat, dan dia pun meninggal dunia di sana malam itu dengan amat tenangnya.

Segera setelah kematiannya itu, orang-orang pun menyatakan dia sebagai orang kudus. Penjaga moral Kristiani, Paus Pius IX dan Leo XIII telah mengajukan pengemis Benediktus sebagai seorang contoh bagi generasi yang terpeleset dalam semangat materialisme. Paus Pius IX memberikan beatifikasi padanya dan Paus Leo XIII menyatakan dia sebagai orang kudus Gereja.

PERIHAL PERSAUDARAAN IKAT PINGGANG ST. FRANSISKUS
1. Bagaimanakah asal usul persaudaraan ini? Sudah dikenal umum bahwa St. Fransiskus dari Asisi mengikat dirinya (sebagai ikat pinggang) dengan sebuah tali kasar, untuk mengingat kembali tali kasar yang telah dipergunakan orang untuk mengikat Tuhan Yesus. St. Dominikus, sahabat karib Bapa kita St. Fransiskus yang kudus, minta dan menerima darinya tali ikat pinggang itu dan sejak itu mengenakannya dengan mantap. Kebiasaan ini segera diikuti oleh banyak umat beriman. Demikianlah Paus Fransiskan Sixtus V mendirikan Persaudaraan Pemakai Ikat Pinggang St. Fransiskus dalam basilika Fransiskan di Asisi pada 1585. Dia, dan juga Paus-paus yang lain, memperkaya persaudaraan ini dengan macam-macam privilege dan indulgensi.

2. Apa yang menjadi kewajiban-kewajiban para anggota persaudaraan ini? Mereka diharuskan setiap hari mendoakan enam Bapa Kami, Salam Maria dan Kemuliaan (lima untuk menghormati kelima luka-luka Yesus, satu untuk intensi Bapa Suci demi memperoleh indulgensi-indulgensi). Kemudian, juga, mereka memakai tali ikat pinggang yang terberkati. Tambahan lagi, pada pesta St. Fransiskus, St. Klara, St. Antonius dan Stigmata St. Fransiskus, mereka menerima Absolusi Umum, atau apa yang dinamakan berkat indulgensi dan pada pesta Maria Dikandung Tanpa Noda, mereka menerima Berkat Kepausan. Karena itu, hanya ada beberapa kewajiban yang dikenakan pada para anggota Persaudaraan Ikat Pinggang St. Fransiskus itu, tetapi berkat yang diberikan besar adanya.

3. Apa yang menjadi semangat Persaudaraan Pemakai Ikat Pinggang St. Fransiskus? Sewaktu diterima sebagai anggota mereka dinasehati untuk selalu memperhatikan ikatan mereka dengan Tuhan kita Yesus Kristus. Bagi mereka tali ikat pinggang itu mengingatkan takut akan Allah, kesederhanaan dan kemurnian. Akhirnya, mereka menghayati diri sebagai terikat dengan penuh kegembiraan pada perintah-perintah Tuhan. Cinta akan Kristus dan keutamaan serta kesetiaan pada Tuhan, itulah semangat Persaudaraan itu, yang anggota-anggotanya mengupayakan hidup mengikuti jejak St. Fransiskus dan di bawah bimbingannya. Persaudaraan itu kelihatannya merupakan sekolah persiapan bagi Ordo Ketiga.

DOA GEREJA
Ya Tuhan, Engkau telah mengijinkan St. Benediktus Yosef, Pengaku Iman-Mu, untuk menyatukan dirinya pada-Mu semata-mata dalam semangat kerendahan-hati dan kasih pada kemiskinan; anugerahilah kami, melalui pengantaraan dan jasanya, untuk dapat selamanya menghinakan hal-hal duniawi dan merindukan hal-hal surgawi. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

Sumber: The Franciscan Book of Saingts, ed. by Marion Habig, OFM, © 1959 Franciscan Herald Press. Penerjemah: Alfons S. Suhardi, OFM

*) Hari pesta St. Benediktus Yosef Labre sering dirayakan pada 16 April, tetapi sering dikalahkan oleh Masa Paskah, sehingga pestanya tidak terlihat dalam perayaan Gereja lokal.