21 April – Santo Konradus dari Parzham

21 April
Santo Konradus dari Parzham
(1818-1894)
Saudara awam Fransiskan Kapusin, Saksi Iman

conradparzham

Conrad adalah putera dari George Birdorfer dan Gertrude Niedermayer, pasutri yang jujur dan saleh. Nama baptis Conrad adalah Yohanes. Ia dilahirkan di sebuah daerah pertanian yang terletak di dekat kota Parzham di Bavaria pada tahun 1818. Sejak masa kanak-kanaknya Conrad telah memberi indikasi tentang kesuciannya di masa depan: dia sangat rendah hati dan sangat senang pada tempat dan suasana yang hening … sunyi sepi. Semangat dalam devosinya terlihat, teristimewa apabila dia sedang berdoa dalam gereja. Baginya jauhnya jarak ke gereja tidak menghalangi Conrad untuk mengunjungi gereja, bahkan dalam cuaca yang paling buruk sekali pun.

Hati Conrad terbakar dengan cintanya yang berkobar-kobar kepada Santa Perawan Maria. Dia berdoa rosario setiap hari dengan penuh semangat. Pada hari-hari raya, pesta maupun peringatan yang berkaitan dengan Bunda Maria, Conrad sering melakukan ziarah ke tempat-tempat penghormatan bagi Maria yang letaknya berdekatan dengan rumah tinggalnya. Dalam ziarah-ziarah seperti itu dia selalu berjalan kaki sambil berdoa terus-menerus. Apabila dia kembali dari ziarah di sore/malam hari, biasanya dalam keadaan masih berpuasa.

Sepanjang masa mudanya Conrad bekerja di tanah pertanian. Secara batiniah Ia bersatu sangat erat dengan Allah. Ketika berusia 31 tahun Conrad mengambil keputusan untuk menjadi seorang biarawan. Setelah melepaskan sebuah warisan keluarga yang berjumlah besar, Conrad menerima izin untuk diterima sebagai seorang saudara awam dalam Ordo Saudara Dina – Kapusin.

Setelah mengucapkan kaul kekalnya, langsung saja Conrad dikirim ke biara Santa Anna di kota Altoetting. Tempat ini secara khusus dikenal di negeri Jerman untuk tempat penghormatan bagi Maria, Bunda Belas kasih. Ratusan, bahkan ribuan peziarah datang ke sana setiap harinya. Karena begitu banyak peziarah yang berlalu-lalang setiap harinya, maka pekerjaan penjaga pintu biara sungguh tidak mudah. Begitu Bruder Conrad sampai di biara, pekerjaan portir itu pun diberikan kepadanya. Pekerjaan sebagai portir itu dilakukan oleh Bruder Conrad sampai Saudari Maut menjemputnya pada tanggal 21 April 1894. Conrad rajin dalam melaksanakan tugasnya. Dia hemat dalam berkata-kata namun ‘boros’ dalam memberi bantuan kepada orang-orang miskin. Bruder Conrad juga sangat bersemangat dan selalu siap untuk menerima serta menolong orang-orang asing yang memerlukan bantuan. Bruder yang baik ini melaksanakan tugasnya dengan baik sebagai portir biara selama lebih dari 40 tahun. Selama masa pelayanannya ini Bruder Conrad sangat memberi keuntungan kepada para penduduk kota Altoetting dan juga orang-orang asing dalam pemenuhan berbagai kebutuhan mereka, jiwa dan raga.

Keutamaan atau kebajikan apa saja yang dipraktekkan oleh Bruder Conrad sehari-harinya? Pertama-tama, secara istimewa Conrad sangat menyenangi keheningan. Dia memakai waktu-waktu luangnya di tengah-tengah tugasnya dengan mengambil tempat di sebuah sudut bercelah yang memungkinkan bagi dirinya untuk memandang dan menyembah Sakramen Mahakudus. Di malam hari dia mengorbankan berjam-jam waktu tidurnya guna mendevosikan waktunya untuk berdoa, apakah di tempat pertemuan para saudara atau di dalam gereja. Orang-orang banyak percaya, bahwa sesungguhnya Bruder Conrad tidak pernah beristirahat, melainkan terus saja bekerja dan berdoa.

Pada suatu hari pesta tertentu, setelah melayani sejumlah besar peziarah, Conrad merasakan bahwa kekuatannya sedang meninggalkan dirinya. Dia merasa wajib untuk melaporkan hal ini kepada pimpinannya. Demi ketaatan yang suci Conrad mengikuti perintah baginya untuk beristirahat di tempat tidurnya. Tiga hari kemudian, anak-anak kecil, didorong oleh naluri mereka datang berkumpul di sekeliling biara untuk berdoa rosario, padahal kepada mereka tidak diberitahukan tentang hal-ikhwal sakitnya Bruder Conrad karena kuatir mereka menjadi terlalu sedih. Kalau Bapak Fransiskus meninggal dunia diiringi musik alami yang datang dari siulan dan cicit burung yang sangat dicintainya, maka putera dan saudaranya yang bernama Conrad diiringi suara anak-anak kecil pada saat kematiannya, anak-anak sebagai makhluk-makhluk yang sangat dikasihi oleh Allah. Ada yang menulis seperti berikut “Pada tanggal 21 April 1894, portir Kapusin ini mendengar suara bel yang sudah begitu sabar dinanti-nantikan olehnya. Untuk terakhir kalinya dia bergegas ke Pintu, namun kali ini Pintu itu adalah Yesus Kristus sendiri.”

Sumber utama: Marion A. Habig OFM, THE FRANCISCAN BOOK OF SAINTS, Chicago, Ill.: Franciscan Herald Press, 1979 (Revised Edition).