16 Juli – St. Fransiskus Solanus

16 Juli
St. Fransiskus Solanus
1549-1610

RIWAYAT HIDUPNYA
Fransiskus Solano dilahirkan pada 1549 di Montilla di provinsi Andalusia yang indah, dari keluarga yang terkemuka dan sangat saleh. Atas permintaan khusus dari ibunya, ketika dibaptis dia memperoleh nama Fransiskus, karena berkat pengantaraan Pendiri Serafik itu, dia telah melahirkannya dengan lancar dan selamat. Dan pada saat-saat mengalami tekanan dia pun mempercayakan diri kepadanya.

Anak itu bertambah besar dan berkembang menyenangkan orang tuanya. Ketika dia menjalani studinya pada Pater-pater Serikat Yesus, kesederhanaan, keramah-tamahan dan kesalehannya mendapatkan penghargaan dari pihak para pengajarnya dan dari mahasiswa sebayanya pun timbul persahabatan yang erat.

Pada umur 20 tahun, dia masuk menjadi Saudara Dina. Yang diperlukan adalah menjaga semangatnya, dan bukan mendorong semangat itu, karena dia tidak mengenal batas dalam hal melakukan latihan-latihan pertobatan yang paling keras pun. Dalam perkara apa saja dia selalu memilih yang terjelek bagi dirinya sendiri dan menghabiskan sebagian besar malamnya untuk berdoa.

Setelah studinya selesai dan ditahbiskan menjadi imam, tanpa mengenal lelah dia berjuang demi jiwa-jiwa. Pengurbanan-pengurbanan yang gagah berani yang dilakukannya selama suatu wabah yang sedang berkecamuk, sungguh luar biasa menakjubkan. Dia memberi perhatian pada kebutuhan-kebutuhan jasmani dan rohani dari mereka yang sakit tanpa khawatir apa pun bahwa dirinya akan terjangkiti. Dia kemudian terjangkiti juga dengan penyakit itu, tetapi kesehatannya dipulihkan kembali dengan menakjubkan. Di setiap wilayah nama Pater Fransiskus dibicarakan dengan penuh hormat, dan dia dipandang sebagai seorang santo. Penghormatan semacam itu melukai kerendahan-hatinya, dan dia memohon kepada atasannya untuk mengirimkannya ke daerah misi di Afrika. Tetapi bidang misi yang lain sudah dipersiapkan baginya.

Sesudah ditemukan Dunia Baru oleh Columbus, putera-putera St. Fransiskus telah lama aktif dalam mewartakan Injil di Amerika. Misionaris-misionaris yang tak mengenal takut itu maju semakin jauh dalam usaha mereka membawa warta keselamatan kepada orang-orang Indian yang masih buas itu.

Pada 1589 Pater Fransiskus dikirim ke Amerika Selatan bersama dengan beberapa orang anggota dari Ordonya. Provinsi Tucuman (Argentina), Gran Chaco (Bolivia), dan Paraguay jatuh ke dalam tanggungjawabnya. Dia menghadapi kesulitan-kesulitan yang tak terbilang banyaknya; namun dia memulai kegiatan-kegiatan misionernya dengan semangat yang berkobar-kobar. Dengan sedemikian santun dan ramahnya dia mendekati orang-orang Indian sehingga mereka bergembira menyambut kehadirannya. Tuhan yang Mahakuasa mendampinginya dengan cara yang luar biasa. Dia mempelajari bahasa orang Indian yang sulit itu dalam waktu yang sangat singkat, dan ke mana pun dia pergi, orang bisa mengerti pembicaraannya, bahkan di tempat-tempat yang pertama kali dia kunjungi.

Tuhan juga menganugerahinya dengan kekuatan yang menkajubkan untuk menaklukkan hati manusia. Pada suatu hari, ketika dia berada di kota La Rioja, sepasukan besar orang-orang Indian yang bersenjata mendekat dengan maksud membunuh semua orang Eropa dan orang-orang Indian yang sudah menjadi Kristen. Fransiskus pun pergi keluar menemui mereka itu. Kata-katanya seketika itu juga melucuti senjata mereka. Semua mereka mengerti apa yang dia katakan kendati bahasa mereka itu berbeda. Mereka lalu minta pengajaran agama darinya, dan kemudian ada 9.000 orang dipermandikan.

Bila Fransiskus hendak menyeberangi sungai, dia meletakkan mantolnya pada arus-arus sungai yang ganas dan pada mantol itu dia berlayar ke seberang. Dia mengikatkan tali jubanya pada leher banteng yang menggila, yang telah membuat semua orang lain menjadi panik ketakutan, dan banteng itu pun dituntunnya pergi bagaikan seekor domba. Pada suatu ketika muncullah sekawanan sangat besar belalang liar dan laksana awan hitam terbang berputar-putar di atas ladang orang-orang Indian yang miskin itu, dan mengancam seluruh panenan ladang itu menjadi puso, maka diperintahnyalah supaya tak seekor pun hinggap di ladang, melainkan supaya terus terbang ke pegunungan. Seketika itu juga kawanan belalang yang sangat besar itu pun pergi. Keajaiban-keajaiban dan berbagai manfaat keuntungan semacam itu membuka baginya hati setiap orang. Mereka pun mencintai dan menghormatinya sebagai bapa mereka bersama.

Selama masa kudus seputar Hari Natal, dia mengumpulkan orang-orang Indian di sekeliling Gua Natal dan mengajar mereka menyanyikan madah-madah terindah bagi Kanak-kanak Yesus, sementara dia sendiri mengiringi mereka dengan memainkan biolanya. Dia sering menghibur orang sakit dengan nyanyian dan musik. Pada suatu ketika dia sedang duduk di bawah sebatang pohon, sambil memainkan biolanya yang dia sayangi, dan burung-burung pun berkerumun disekelilingnya ikut bernyanyi.

Setelah Pater Fransiskus berkarya di antara orang-orang Idian selama 12 tahun, dan telah mempertobatkan orang-orang kafir yang tak terbilang jumlahnya menjadi Kristen, dia dipanggil ke kota Lima di Peru. Di sana kekristenan sudah berdiri lebih lama, dan banyak orang Spanyol hidup di sana. Tetapi dalam kota yang besar ini sangatlah terasa maraknya kecerobohan dan tindakan-tindakan tidak senonoh. Pada suatu hari, terdorong oleh ilham ilahi, St. Fransiskus menelusuri kota itu seperti yang telah dibuat oleh nabi Junus di kota Ninive dan diwartakannya kepada segenap penduduk perihal pengadilan Tuhan, bila mereka tidak bertobat. Maka mereka semua diliputi ketakutan. Dengan suara keras mereka menyerukan belas kasihan Tuhan, dan merindukan Sakramen Pengampunan yang kudus. Pendosa-pendosa yang paling jahat pun, menyatakan tekad mereka di depan umum untuk memperbaiki diri. Sang Santo itu pun mengucapkan syukur kepada Allah atas buah rahmat ini, dan pada altar dia mempersembahkan madah-madah khusuk sebagai pujian bagi Bunda yang penuh belas kasihan.

Dia telah bekerja tanpa mengenal lelah demi keselamatan jiwa-jiwa di Amerika Selatan selama dua puluh tahun, ketika Tuhan memanggilnya pulang rumah Bapa pada pesta pelindungnya yang khusus: St. Bonaventura, tgl 14 Juli 1610. Raja muda dan orang-orang paling terkemuka di kota Lima memikul jenazah Saudara Dina yang miskin itu ke makam. Sesudah kematiannya, Allah yang Mahakuasa memuliakannya dengan banyak mukjizat, khususnya bagi anak-anak yang sakit; ya, bahkan anak-anak yang sudah meninggal pun dipulihkan hidup kembali pada makamnya. Sri Paus Benediktus XIII menganonisasikan dia dengan upacara yang meriah pada tahun 1726.

PERIHAL NYANYIAN KUDUS
1. Renungkanlah bagaimana St. Fransiskus Solano melembutkan semangat orang-orang Indian yang ganas itu dan membuat mereka dapat menerima ajaran-ajaran Kristen melalui lagu-lagu rohani. Bernyanyi membawa pengaruh yang kuat pada budi. Tidak hanya kata-kata, tetapi juga lagu itu sendiri membawa akibat. Hal itu menyentuh hati dan menundukkan budi, sesuai dengan karakter lagu itu: menjadi duniawi dan sensual, atau kekristenan dan kesalehan. Ketika Daud, – yang kemudian mengarang mazmur-mazmur bagi orang-orang Israel untuk menyanyikannya, – memetik harpanya bagi Saul, roh jahat yang sering menyurupi Saul pun pergi meninggalkannya. – Juga budimu dapat diselaraskan ke kekristenan dan kesalehan melalui lagu-lagu kudus. Jenis nyanyian apa yang sampai sekarang sangat menyenangkan kamu?

2. Ingatlah bahwa Gereja sejak masa awalnya telah mempergunakan musik dalam upacara-upacara ibadatnya, dengan maksud untuk memuliakan Tuhan pada satu pihak, tetapi pada pihak yang lain juga demi mendidik umat berimannya. Sang Rasul telah menasehati kita demikian: “… sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.” (Kol3:16). Orang-orang Israel juga bernyanyi atas perintah Tuhan, dan mereka diperintahkan menghafal nyanyian-nyanyian mereka (Deut 31:19). Para malaekat juga menyanyikan lagu-lagu tentang damai pada waktu Kristus lahir, dan mereka yang terberkati akan bergabung dengan paduan suara surgawi menyanyikan pujian untuk memuliakan Tuhan sepanjang segala abad. Karena itu, kita hendaknya menghargai tinggi-tinggi nyanyian kudus Gereja, mendukungnya sedapat mungkin dan kita sendiri dengan gembira ikut bernyanyi. – Engkau pun berbuat demikian?

3. Renungkanlah bahwa bernyanyi itu harus memiliki mutu dan kwalitas sehingga maksud dan tujuan yang dimaksudkan dapat tercapai. Bernyanyi harus penuh dengan kekhusukan, karena bernyanyi itu harus merupakan suatu doa, suatu doa yang unggul. Namun sebagaimana doa yang tidak diucapkan dengan khusuk tidak akan sampai pada hati Tuhan, demikian juga bernyanyi tanpa perhatian, tidak peduli bagaimana kerasnya kita bernyanyi. Apalagi, nyanyian kita harus bisa dipahami, sehingga kata-katanya dapat digunakan sebagai bahan yang membangun. Sang Rasul berkata: “Aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku.” (1Kor 14:15). Dalam bernyanyi kita juga hendaknya selalu menyatukan diri dengan suara-suara orang lain, kalau tidak maka nyanyian kita tidak akan mendukung devosi, melainkan justru mengganggu. Barangsiapa tidak bisa bernyanyi yang selaras dengan yang lain, hendaknya tetap diam saja. Juga, barangsiapa berpendapat memiliki suara yang istimewa indahnya tidaklah usah mencoba bernyanyi melampaui penyanyi-penyanyi yang lain. Hal itu dengan mudah mucul dari kesia-siaan, dan dengan mudah setanlah dan bukan Tuhan yang bergembira. Akan tetapi, bila seperti St. Fransiskus, engkau mempergunakan suara nyanyianmu hanya untuk memuji Tuhan, demi membangun dirimu sendiri dan tetanggamu, pastilah engkau akan memperoleh rahmat dan kelimpahan belas kasih bagi dirimu sendiri dan banyak orang lain.

DOA GEREJA
Ya Allah, yang dengan perantaraan St. Fransiskus Solano telah membimbing banyak bangsa dari Amerika ke pangkuan Gereja Kudus-Mu, singkirkanlah amarah-Mu dari kami berkat pengantaraan dan jasa-jasanya dan dalam belas kasih-Mu hasilkanlah buah-buah Nama Kudus-Mu pada bangsa-bangsa yang masih belum mengenal Dikau. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

Sumber: The Franciscan Book of Saints, ed. by Marion Habig, ofm., © 1959 Franciscan Herald Press. Diterjemahkan oleh: Alfons S. Suhardi, OFM