18 Juli – St. Szymon dari Lipnica

18 Juli
St. Szymon dari Lipnica
1439-1482

RIWAYAT HIDUPNYA
Pada musim panas 1453, ketika St. Yohanes Capistrano mengunjungi Krakow, ibu kota Polandia atas undangan raja Polandia Casimir, khotbah-khotbahnya membuahkan mukjizat-mukjizat pertobatan yang sejati dan mengagumkan. Juga banyak dari antara orang-orang muda, di antara mereka banyak mahasiswa dari Universitas Krakow, dengan teguh mengambil keputusan untuk membuang dunia dan memohon kepada pengkhotbah yang suci itu jubah Ordo Fransiskan.

Salah satu dari mereka itu adalah Szymon yang berasal dari kota kecil Lipnica tidak jauh dari Krakow.Dia baru saja memperoleh titel BA dalam bidang kemanusiaan, dan selanjutnya dengan hormat bakti layaknya seorang anak kepada Santa Perawan Maria, dia mempertahankan hatinya tetap murni tak bercela. Kendati dia telah hidup tanpa cela, begitu masuk dalam Ordo itu, dia menghayati hidup matiraga yang ketat, berpuasa dalam rentang waktu yang lama, mencambuki tubuhnya, dan selalu mengenakan korset matiraga. Pada pesta-pesta Bunda Maria dia menambahkan dengan sebuah korset lagi supaya semakin berkenan pada Bunda Maria.

Setelah ditahbiskan menjadi imam dan diberi tugas berkhotbah dalam gereja biara di Krakow, kata-katanya sedemikian membakar semangat dan tekad pada jiwa-jiwa sehingga menarik pendosa-pendosa tak terbilang banyaknya dari jalan yang tidak baik; dan kemudian mereka itu dibimbingnya dalam jalan perilaku Kristiani dengan kelembutan penuh cinta kasih. Banyak dari para pendengarnya tergerak untuk mencapai kesempurnaan yang lebih tinggi.

Szymon sangat merindukan menumpahkan darahnya demi Iman, dan dia berharap dikirim ke Palestina untuk berkarya di tengah-tengah orang-orang Sarasen. Namun harapan ini tidak terpenuhi. Dia memang harus menderita jalan hidup yang keras dan berat yang banyak jumlahnya, tetapi setelah dengan penuh hormat mengunjungi tempat-tempat suci, dia kembali dengan selamat di Krakow. Di tempat inilah dia ditentukan untuk menjalani kemartiran dalam bentuk yang lain demi memperoleh mahkota abadi yang dirindukan. Pada mulanya dia menjalankan kembali tugas berkhotbahnya, dengan semangat yang baru. Juga dia harus menerima berbagai tugas dalam ordo, termasuk tugas untuk menjadi provinsial. Dia tidak hanya giat demi kesejahteraan saudara-saudaranya dalam Ordo, tetapi juga semua orang. Dia pun hanya membiarkan dirinya beristirahat sebentar saja. Dia biasanya berkata bahwa dia berharap dapat menikmati istirahat yang sesungguhnya bila Tuhan menganugerahkan kepada dirinya istirahat kekal.

Semboyannya adalah: “Berdoa, bekerja dan berharap.” Sekitar tahun 1482, suatu epidemi meledak di Krakow dan menerjang orang-orang dengan ganasnya. Dipenuhi dengan kasih kepada sesama dan semangat suci demi keselamatan jiwa-jiwa, Pater Szymon mempersembahkan diri seluruhnya untuk melayani orang-orang sakit itu. Tidak lama kemudian dia pun tertulari dengan penyakit yang mengerikan itu.

Penuh dengan rasa syukur pada Tuhan karena keistimewaannya ini dan dengan harapan Kristiani akan pengadilan yang penuh kasih, dia meninggal dunia sebagai martir belas kasih pada 18 Juli 1482. Pada makamnya terjadi banyak sekali mukjizat dan karena itu Takhta Suci mengesahkan penghormatan padanya. Dia dibeatifikasi pada 24 Februari 1685 oleh B. Paus Innosentius XI, dan dikanonisasi oleh Paus Benediktus XVI pada 3 Juni 2007.

PERIHAL MENDENGARKAN KHOTBAH
1. Szymon, seorang mahasiswa yang terpelajar, mendengarkan khotbah St. Yohanes Capistrano dan mengambil keputusan meninggalkan dunia dan mempersembahkan diri seluruhnya kepada pelayanan Tuhan. Seringkali terjadi, bila mahasiswa universitas dan orang-orang terpelajar mendengarkan sebuah khotbah, mereka hanya memperhatikan apakah khotbahnya itu dipersiapkan dengan baik dan disajikan dengan lancar. Bahkan sesekali orang-orang yang tidak terpelajar pun lebih memperhatikan bagaimana pengkhotbah itu berbicara daripada apa yang dikhotbahkannya. Betapa bodohnya! Hal itu bagaikan seorang yang sudah lemah letih lesu dan hampir-hampir tidak dapat berdiri lagi, tetapi menerima makanan yang diberikan kepadanya lalu menilai mutu dan harganya, dan bukan lalu memakannya untuk memulihkan kekuatannya yang sudah nyaris hilang itu. “Kita ini orang-orang bodoh!”, teriak St. Agustinus. “Orang-orang yang tidak terpelajar menyerapkan dirinya seutuhnya pada kerajaan Allah, sedangkan kita dengan segala ilmu pengetahuan kita terperosok ke dalam jurang!” – Apakah engkau kiranya termasuk dalam kelompok orang-orang bodoh ini?

2. Renungkanlah bahwa Szymon tidak hanya menerapkan pada dirinya sendiri apa yang telah dia dengar dalam khotbah itu, tetapi juga dengan sebenarnya dia mempraktekkan dalam kehidupannya sehari-hari apa yang dia temukan dalam khotbah itu yang berkenan pada Tuhan. Apalagi, selanjutnya dia mempergunakan bakat berkhotbahnya dan tanpa mengenal lelah mengembangkannya demi kemuliaan Tuhan dan keselamatan kekal bagi jiwa-jiwa. Kita juga haruslah tidak berpuas diri hanya sekedar mendengarkan sebuah khotbah. Ini tidak membuat kita menjadi kudus, bahkan bila kita mendengarkan semua khotbah yang ada di sekitar kita. Yang diperhitungkan adalah kepedulian dan keteguhan yang kita miliki dalam melaksanakan pengajaran-pengajaran itu. “Karena bukanlah orang yang mendengar hukum Taurat yang benar di hadapan Allah, tetapi orang yang melakukan hukum Tauratlah yang akan dibenarkan.” (Rom 2:13) – Hasil buah apa yang telah engkau peroleh dari semua khotbah dan konferensi yang pernah engkau dengarkan?

3. Renungkanlah bahwa tanpa bantuan Roh Kudus kita tidak dapat menghasilkan buah dari semua khotban yang kita dengarkan. Sabda Allah tidaklah seperti sebuah ceramah perihal hal-hal yang fana. Benih ilahilah yang harus menembusi kedalaman hati kita. Untuk ini diperlukan rahmat dari Tuhan. “Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan.” (1Kor 3:7) – Sebelum mendengarkan khotbah atau konferensi, mintalah rahmat pencerahan dan sesudah mendengarkannya, mintalah rahmat kekuatan.

DOA GEREJA
Tuhan yang Mahakuasa dan kekal, yang telah menganugerahkan kepada Szymon, pengaku-iman-Mu, rahmat khusus untuk mewartakan Injil, anugerahkanlah dengan penuh belaskasihan bahwa kami karena diperkaya dengan ajaran-ajarannya, boleh melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berkenan pada-Mu dan boleh dengan selamat sampai pada jalan kebenaran pada rumah kami di surga. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

Dari: THE FRANCISCAN BOOK OF SAINTS edited by Marion Habig, ofm Copyright 1959 Franciscan Herald Press used with written permission from the publisher.
see also: http://www.vatican.va/news_services/liturgy/saints/ns_lit_doc_20070603_simone-lipnica_en.html
Dikanonisasi: 3 Juni 2007 oleh Paus Benediktus XVI.

Catatan: Kadang-kadang St. Simon ini diacu sebagai seorang pengikut Bernardinus. Di Polandia, pada tahun-tahun St. Simon hidup, semua Fransiskan dinamakan “Bernardini”, menurut nama St. Bernardinus dari Siena. “Seorang Fransiskan Observan lain, St. Bernardinus dari Siena, baru saja dikanonisasi pada 1450, dan Fransiskan-Fransiskan Observan di Polandia oleh masyarakat dinamakan “Bernardini” (lihat: http://www.ofm.org.mt/?p=530).

Diterjemahkan oleh: Alfons S. Suhardi, OFM.