23 Juli – Beata Cunegunda

23 Juli
Beata Cunegunda
1224-1292

RIWAYAT HIDUPNYA
Selama abad ke 13, dinasti kerajaan Hongaria telah mempersembahkan kepada Gereja sederet wanita-wanita suci yang cemerlang. Di antara yang paling cemerlang itu kita menemukan Kinga (atau Cunegunda), puteri dari Raja Bela IV, dan kemanakan dari St. Elizabet dari Hungaria. Beberapa bibi dari orang kudus ini adalah St. Hedwig dan B. Agnes dari Praha. B. Yolanda dan St. Margaret yang Dominikan itu adalah saudari-saudari kandungnya. St. Elisabet dari Portugal dan B. Salomea adalah saudara-saudara sepupunya, dan dia adalah bibi dari Uskup Louis yang suci itu.

Kinga dilahirkan pada 1224, dan sejak kelahirannya sudah nampaklah padanya bahwa dia lebih diperuntukkan bagi surga daripada bagi dunia. Sebagai seorang anak kecil, telah terdengar ucapannya yang jelas “Salam, Ratu Surgawi, Ibu dari Raja para Malaikat!” Ketika dia dibawa ke gereja, dia terus menerus mengangkat matanya ke surga selama persembahan kudus perayaan Ekaristi dan akan menundukkan kepalanya yang masih kecil itu bila dia mendengar nama-nama yang kudus Yesus dan Maria diucapkan. Pada hari-hari Rabu dan Jumat, dia hanya makan satu kali saja.

Kinga baru berumur 15 tahun ketika orang tuanya memintanya untuk menerima lamaran perkawinan dari Boleslaus, pangeran dari Cracow, yang kemudian menjadi raja Polandia. Namun sang perawan yang laksana malaikat itu dengan sedemikian meyakinkan berbicara kepada suaminya perihal keunggulan keperawanan, sehingga sang suami mengambil keputusan untuk menjalani hidup bertarak. Kemudian mereka mengucapkan kaul keperawanan kekal di depan uskup Cracow, dan mereka mempertahankan hidup bertarak itu selama empat puluh tahun hidup perkawinan mereka. Karena itu sejarah telah memberi gelar Boleslaus yang Murni, sementara Gereja telah memberikan gelar sang perawan kepada Kinga.

Selama itu, Ratu Kinga menyibukkan diri dengan segala kewajiban dari seorang ibu yang sejati. Dia telah mengambil tanggungjawab memelihara saudarinya sendiri Yolande, yang waktu itu baru berumur 4 tahun dan mendidiknya dalam kesucian yang sejati. Dengan menapaki jejak bibinya, St. Elizabet, secara setia, dia dengan saksama memperlihatkan kepedulian keibuan sejati terhadap orang-orang miskin dan tertindas, dan mengunjungi orang sakit di rumah-rumah sakit, serta merawat mereka dengan penuh kelembutan seorang saudari yang penuh belas kasihan.

Sebagai first lady dari negaranya, yang tetap menjadi tujuan perhatiannya adalah kesejahteraan rakyatnya. Pada masa itu Polandia menderita kekurangan garam. Sebagai jawaban atas doa-doa sang Ratu, ditemukanlah sumber-sumber tambang garam yang berharga, yang kesemuanya itu tidak hanya cukup untuk keperluan rakyat Polandia, tetapi bisa juga diexport dalam jumlah yang besar. Kerinduannya untuk menambah jumlah santo pelindung bagi kerajaannya dipenuhi dengan diterimanya berita dari Takhta Suci perihal kanonisasi St. Stanislaus, Uskup Cracow, dan bibinya St. Hedwig, pangeran puteri dari Silesia. Kinga dan suaminya mendirikan beberapa biara sebagai tempat-tempat doa bagi kesejahteraan negaranya.

Ketika raja Boleslaus meninggal dunia pada 1279, rakyat kerajaannya itu dengan sia-sia mendesak Ratu Kinga memegang pimpinan pemerintahan. Perawan yang sederhana itu menjawab bahwa sudah menjadi niatnya untuk mengundurkan diri dari dunia dan mempersembahkan dirinya sepenuhnya kepada Yesus Kristus. Dia dan saudarinya Yolanda, yang telah menjadi janda beberapa bulan sebelumnya, menerima jubah St. Klara dalam biara di Sandek. Ketika dia masuk biara yang telah dia dirikan itu, dia berkata kepada ibu Abdis dan para suster di sana, “Lupakanlah kedudukanku sebelum ini; saya datang hanya sekedar untuk menjadi pelayan kalian.” Menjadi kegembiraannya yang paling besarlah dapat melaksanakan tugas-tugas yang paling hina.

Tuhan yang Mahabesar menguji kerendahan hatinya dengan mengijinkan dia menjadi sasaran kecurigaan. Dia memikul pencobaan itu dengan semangat kepahlawanan dan kemudian dibersihkan dengan mukjizat-mukjizat.
Kinga terpilih menjadi Abdis, dan dalam posisi ini dia mengatur suster-susternya dengan penuh kebijakan dan belas kasih keibuan yang besar. Pada suatu ketika komunitasnya kekurangan air. Dia memohon pertolongan dari Tuhan. Lalu dia pergi ke sungai kecil di dekat biara itu dan dengan tongkatnya dia menoreh garis yang harus diikutinya. Maka air pun mengalir dengan setia mengikutinya ke arah biara itu.
Dalam penderitaan sakitnya yang terakhir, dia dianugerahi kesatuan yang paling mesra dengan Pengantin Ilahinya. Setelah dia menerima Sakramen-sakramen yang terakhir, dan para susternya mengelilinginya dengan mendaraskan doa-doa bagi orang yang menghadapi ajal, dia tiba-tiba berseru: “Siapkan tempat, tidakkah engkau melihat Bapa Fransiskus datang membantu saya?”

Pada tgl 24 Juli 1292 jiwanya yang perawan itu terbang ke surga. Bau harum semerbak memenuhi kamarnya, dan wajahnya pun menjadi cantik menakjubkan. Mukjizat-mukjizat tak terbilang banyaknya terjadi pada makamnya itu. Penghormatan terhadapnya disahkan oleh Paus Alexander VIII pada tahun 1690; dan dengan persetujuan Paus Clement XI pada tahun 1715 dia dipilih menjadi pelindung khusus bagi orang-orang Polandia dan Lithuania.

PERTALIAN KELUARGA YANG SUCI
1. Ingatlah bahwa Kitab Suci sering menyebutkan hubungan keluarga dari orang-orang kudus. Anna, ibu yang saleh dari nabi Samuel, disebutkan dengan penuh hormat, para nenek moyang dan keturunan dari Bapa Bangsa Ishak diceriterakan dengan penuh pujian dan kita baca perihal orang tua Yohanes Pembaptis: “Keduanya adalah benar di hadapan Allah dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat” (Luk 1:6). Sebagaimana diungkapkan oleh St. Ambrosius, kemuliaan para kudus terletak juga pada hal ini: bahwa mereka itu tidak usahlah orang-orang pertama yang menjalankan keutamaan, melainkan terlebih bahwa keutamaan itu telah terlaksana dalam keluarga mereka. Dengan demikian, latar belakang hubungan keluarga B. Kinga mencerminkanbahwa berkat perilakunya yang penuh keutamaan itu, dia layak memperoleh kemuliaan. – Akankah keluargamu mempunyai alasan untuk berbangga karena keutamaan-keutamaanmu?

2. Bayangkanlah betapa memalukan, bila seorang anggota dari sebuah keluarga yang saleh menjalani hidup yang sesat dan penuh dosa. Orang semacam itu mengaibkan segenap sanak kerabatnya, dan semakin dia menyeleweng dari jalan sanak keluarganya, semakin aiblah dia itu sendiri. Absalom, anak Daud, yang dirasuki dengan ambisi ingin menjadi penguasa, mencemari nama keluarga. Dina, anak perempuan Yakob, menimbulkan aib dan beban bagi bapa dan saudara-saudaranya. Nama tercela dari orang-orang semacam itu melekat pada diri mereka sepanjang masa. – Hindarilah dengan cermat segala sesuatu yang mungkin dapat menimbulkan aib pada dirimu dan pada keluargamu.

3. Renungkanlah bahwa kita hendaknya, seperti B. Kinga, peduli untuk meniru keutamaan-keutamaan saudara-saudara keluarga kita dan mempertahankan kehormatan keluarga kita. Kinga telah meneladan bibinya yang suci Elisabet dalam merawat orang-orang miskin dan sakit. Dia sendiri mendidik saudarinya sendiri dalam kesucian dan memperoleh penghormatan altar bagi sanaknya yang suci Hedwig. – Apakah engkau juga berusaha untuk meneladan anggota-anggota keluargamu yang unggul dalam keutamaan-keutamaan, dan dengan demikian memberikan contoh yang baik bagi anggota-anggota sanak keluargamu yang lebih muda? Bila engkau seorang tertiaris dan menjadi seorang anggota dari keluarga Fransiskan, engkau pun menjadi sanak dari B. Kinga dan semua orang kudus dari ketiga Ordo Fransiskan. Sebagai orang Kristen, kita, menurut perkataan sang Rasul, adalah “kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah” (Ef 2:19) – Usahakanlah dengan sungguh-sungguh untuk hidup sesuai dengan hubungan keluarga (keluarga Allah) semacam itu.

DOA GEREJA
Ya Allah, yang sungguh telah menganugerahi B. Kinga dengan berkat-berkat kemanisan-Mu dan telah memelihara keperawanannya bahkan dalam status perkawinannya, kami mohon kepada-Mu, semoga berkat pengantaraannya, kami boleh semakin melekat pada-Mu dalam kehidupan suci, dan dengan mengikuti jejaknya, kami dapat dengan selamat sampai pada hadirat-Mu. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

Sumber: The Franciscan Book of Saints, ed. by Marion Habig, ofm., © 1959 Franciscan Herald Press. Diterjemahkan oleh: Alfons S. Suhardi, OFM.