19 September – St. Fransiskus Maria dari Camporosso

19 September
St. Fransiskus Maria dari Camporosso

RIWAYAT HIDUPNYA
Di tempat pemakaman di Genoa, Italia, ada sebuah patung dari Fransiskus Maria yang pada batu nisannya tertulis: “Fransiskus dari Camporosso lahir pada 27 Desember 1804, dan meninggal dunia pada 17 September 1866. Orang miskin dalam Kristus ini lebih terberkati karena memberi daripada menerima. Dengan roti, nasehat dan penghiburan, dia selalu siap untuk melayani penderitaan-penderitaan dan kebutuhan-kebutuhan semua orang yang datang kepadanya. Hidupnya yang keras dan suci itu, dimahkotainya dengan pengurbanan dirinya sendiri pada permulaan meletusnya epidemi pada 1866. Kesedihan dan syukur orang banyak membuat mereka bersedia mengabadikan sosoknya dalam patung marmer ini.”

Hanya memerlukan beberapa patah kata saja untuk mengungkapkan semua yang orang ingin katakan perihal rasul umat ini. Sebagai seorang gembala di kampung kecil Camporosso dekat San Remo, dia harus ikut mendukung keluarganya. Kemudian dia masuk Kapusin di Genoa. Dia di sana membungkus cita-cita dan maksud tujuannya dalam kata-kata ini: “Saya masuk biara untuk menjadi hewan pemikul bebannya.”

Maka terbukalah kesempatan baginya untuk melaksanakan maksud-maksudnya tadi ketika dia diberi tugas untuk merawat orang sakit dan khususnya ketika dia diberi tugas untuk mengumpulkan derma. Dia kumpulkan pada istana-istana para bangsawan, tetapi lebih sering lagi pada gubug-gubug orang miskin untuk membagikan kepada mereka derma-derma yang baru saja dia kumpulkan itu. Dia nekad pergi ke wilayah yang terkenal karena banyak yang menderita penyakit di kawasan pelabuhan. Di sana dia sering memungut batu-batu yang dilemparkan orang terhadapnya dan batu itu pun lalu diciumnya. Segeralah dari segala penjuru diceriterakan bahwa dia mengerjakan banyak mukjizat, penyembuhan dan pentobatan dalam bentuk yang paling tidak biasa. Orang-orang dari lapisan petinggi sampai pada lapisan yang paling rendah datang kepadanya mencari nasehat dan petuah.

Yang paling menyentuh adalah cintanya pada Bunda Maria. Dia menghabiskan sepanjang malam berlutut di hadapan Sakramen Yang Mahakudus. Ketika sebuah epidemi meledak pada 1866, dia terperangkap oleh keinginan untuk mempersembahkan pengurbanan diri yang terakhir dan terbesar. Dia berlutut di depan altar Santa Perawan Tanpa Noda, dan melalui tangan Bunda Maria dia mempersembahkan diri kepada Tuhan sebagai seorang kurban pemulihan. Pada 17 September dia meninggal dunia, dan pada hari itu juga epidemi ganas itu pun berhenti. Dia dibeatifikasi oleh Paus Pius XI dan dikanonisasi oleh Paus Yohanes XXIII pada 1962.

PERIHAL MENGURBANKAN DIRI SENDIRI

  1. Fransiskus Maria mempersembahkan apa saja yang dia miliki. Dia sangat menyadari kata-kata Tuhan kita: “Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.” (Luk 14:33). Sebagai seorang anak, dia bekerja bagi orang tuanya; dalam Ordo, dia menjadi seorang pelayan bagi anggota-anggota lainnya; sebagai rasul umat, dia bekerja bagi orang miskin dan sakit. – Apakah hidupmu sesuai dengan prinsip kristiani, “Lebih terberkatilah memberi daripada menerima”?
  2. Fransiskus Maria juga mengurbankan hidupnya. Dia melaksanakan dalam hidupnya nasehat Rasul: “Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.” (1Yoh 3:16). Fransiskus Maria secara harafiah melaksanakan nasehat itu ketika dia mengurbankan hidupnya bagi orang-orang sewaktu merebaknya epidemi itu. – Berdoalah kepada Tuhan supaya Dia memberi kamu secercah keberanian dan cintanya yang heroik itu.
  3. Fransiskus Maria menerima balasan yang tak terperikan karena pengurbanannya itu. Orang-orang di kemudian hari mengagungkannya. Gereja mengangkat dia pada martabat altar. Tuhan yang Mahakuasa telah memenuhi janjinya padanya: “Dan engkau akan memperoleh harta kekayaan di surga” (Mat 9:21). Apa pun juga yang kita perbuat bagi Allah, tidak akan luput dari imbalan. Tuhan tidak akan pernah terkuras dalam hal kemurahan hati-Nya. – Angkatlah dirimu sendiri ke semangat pengurbanan diri seperti itu.


DOA GEREJA

Ya Allah, yang telah mengangkat hamba-Mu yang sederhana Fransiskus Maria menjadi unggul secara luar biasa dalam karya-karya cintakasihnya, anugerahkanlah, berkat jasa dan pengantaraannya, supaya cinta-Mu dapat selalu berkembang dalam hati kami. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

Sumber: The Franciscan Book Of Saints, ed. by Marion Habig, ofm., © 1959 Franciscan Herald Press. Diterjemahkan oleh: Alfons S. Suhardi, OFM.