Sindanglaya-Cipanas, OFM – Pada Jumat-Minggu, 9-11 Januari 2026, sembilan saudara muda tingkat V menjalani Triduum sebagai rangkaian persiapan menuju profesi meriah. Kesembilan saudara itu ialah Sdr. Ari Leto, Sdr. Bona Jebarus, Sdr. Yusuf Raditya, Sdr. Fandro Nadut, Sdr. Tian Gunardo, Sdr. Hedwig Ruing, Sdr. Yano Pandu, Sdr. Vendro Ambal, dan Sdr. Yanuario Musrilan. Kegiatan Triduum dilaksanakan di Komunitas Carceri, Sindanglaya, Cipanas dan didampingi oleh Sdr. Nasarius Trimuryanto.
Secara umum, Triduum ini dirancang oleh Sdr. Trimur untuk menciptakan momen bagi para saudara calon kaul kekal dalam memandang, mendengar, dan mendalami lebih jauh mengenai status diri sebagai Saudara Dina Fransiskan. Pada hari pertama, Sdr. Trimur mengajak para saudara untuk menyegarkan kembali pemahaman mengenai persaudaraan dan kedinaan. Hidup dalam persaudaraan Fransiskan, yang kenyataan riilnya sudah dilihat dan dialami oleh para saudara, menunjukkan bahwa kekuatan utama persaudaraan kita adalah pada kedinaan sebagai cara hidup. Hal tersebut terbukti dari berbagai sharing yang diungkapkan dalam beberapa sesi perjumpaan dengan para karyawan Panti Asuhan, umat Paroki, maupun juga donatur. Mereka merasa senang bekerja sama dengan Fransiskan karena para saudara menghidupi cara hidup yang sederhana, membaur, dan merangkul. Inilah yang menjadi keistimewaan yang harus disadari dan tidak boleh dilupakan sebagai seorang Fransiskan.

Kemudian pada hari kedua, sesi dilaksanakan di Ciloto, di kebun yang sekarang sudah dan sedang dikembangkan menjadi kebun bunga. Dalam kesempatan ini, Sdr. Trimur menekankan mengenai salah satu sikap kedinaan yang penting yaitu merawat segala sesuatu yang kita miliki. Kerap kali kita hanya tahu pakai, tetapi tidak bisa merawat. Hal yang semacam ini bukanlah sikap kedinaan. Maka, di manapun kita berada, kita perlu memiliki inisiatif dan kreativitas untuk merawat dan memelihara. Kesadaran akan hal itu perlu diperkuat agar segala yang kita punyai dapat mendatangkan manfaat, bukan malah menjadi beban. Setelah sesi, para saudara mengikuti acara Natal bersama di aula Panti Asuhan St. Yusup.
Pada hari terakhir, dalam dua kesempatan yang berbeda, para saudara kembali ber-sharing dengan umat. Dalam kesempatan ini, para saudara mendengarkan kesaksian iman mereka, bagaimana orang awam yang tidak terlalu mempelajari teologi pun dapat sampai pada penghayatan iman yang sangat mendalam, hingga menggerakkan mereka untuk berkontribusi bagi Gereja. Para saudara juga mendengarkan harapan-harapan mereka bagi para pelayan Gereja di masa mendatang: kehadiran di tengah umat dan keterbukaan untuk mendengarkan. Dua hal ini setidaknya menjadi aspek yang juga selalu muncul dalam sharing sejak hari pertama.

Mengakhiri rangkaian Triduum, Sdr. Trimur berpesan mengenai humility: kerendahan hati. Belajar dari ‘humus’ yang menjadi penyubur tanah dan berguna bagi makhluk hidup, humility kita pun juga tidak akan jauh berbeda hasilnya. Sikap kerendahan hati yang diwujudkan dalam kedinaan akan menopang persaudaraan, memberi kesuburan, dan mendatangkan manfaat bagi banyak orang. Semoga para saudara sungguh-sungguh menghidupi fraternitas dan minoritas dengan gembira. Triduum kemudian ditutup dengan makan malam di Cianjur sebelum para saudara kembali ke Jakarta.
Kontributor: Sdr. Yusuf Raditya OFM
ed

Tinggalkan Komentar