25 Tahun Fransiskan Hadir di Timor Loro Sae

Kehadiran dua saudara fransiskan, Sdr. Andreas Hamma dan Sdr. Willy Witak Koten pada tahun 1988 di Same, ibu kota Kabupaten Manufahe adalah awal perjalanan Misi Fransiskan Provinsi Santo Mikeal Malaekat Agung Indonesia di Timor Loro Sae. Misi itu bertumbuh dan berkembang dalam perjalanan sejarah hingga akhirnya genap berusia dua puluh lima tahun di tahun 2013 ini. Perayaan syukur atas usia dua puluh lima tahun ini dirayakan secara meriah di Gereja Paroki St. Fransiskus Assisi, Fatuberliu, Wekiar. Berbagai rangkaian acara dikemas dengan baik oleh para saudara bersama dengan umat dari dua paroki, Paroki Nossa Senhora de Fatima (Alas) dan Paroki St. Fransiskus Assisi (Wekiar).

Umat Berbicara, Para Fransiskan Mendengarkan
Sabtu (26/10/2013), tepatnya pukul 20.00 waktu Timor Loro Sae bertempat di Aula Paroki St. Fransiskus Assisi, Fatuberliu, Wekiar tampak ratusan umat memenuhi aula paroki yang dulu di bangun pada masa Sdr. Bartolomeus Jandu sebagai pastor paroki. Semua duduk tenang sambil mengarahkan pandangan ke dinding bagian depan aula. Sdr. Sebastian Gaguk terlihat sibuk di sisi kanan depan aula mengutak-atik laptop dan LCD proyektor yang menayangkan potongan-potongan gambar dan video uraian sejarah kehadiran fransiskan di Timor Loro Sae. Turut hadir dalam ruangan itu Sdr. Adrianus Sunarko, Pelayan Provinsi Indonesia.

Sesudah penanyangan foto-foto dan video acara dilanjutkan dengan Dialog. Seorang tokoh umat, Bapak Tito Lopez berdiri dari tempat duduknya dan mulai berceritera dalam bahasa Tetum perihal kehadiran fransiskan awal di Wekiar. Ia mengatakan bahwa dirinyalah yang meminta agar para fransiskan mau tinggal di Wekiar. Ia juga menambahkan bahwa umat Wekiar kala itu menyediakan satu rumah sederhana sebagai tempat tinggal sementara misionaris fransiskan perdana. Tidak mau ketinggalan seorang tokoh umat lainnya, Bapak Jacinto juga berdiri dari tempat duduknya dan berkata, “Para Fransiskan perdana hadir di Wekiar dengan kesederhanaan dan persaudaraan yang kuat. Mereka hadir dengan satu pola pastoral yang revolusioner. Untuk pertama kalinya dalam sejarah pastoral gereja di Kabupaten Same bahwa seorang Imam merayakan ekaristi di rumah umat.” Ia juga menambahkan bahwa peristiwa yang baru itu tidak akan pernah hilang dari ingatannya karena perayaan ekaristi itu terjadi di rumahnya sendiri. Di penghujung dialog, Sdr. Adrianus Sunarko menyampaikan pada umat dalam bahasa Indonesia bahwa pilihan misi di Timor Loro Sae bukanlah dari kelimpahan tenaga dan finansial Provinsi Santo Mikael Malaekat Agung Indonesia tetapi dari keterbatasan yang ada kala itu. Dari keterbatasan itulah karya misi di Timor Loro Sae perlahan-lahan berkembang.

Perayaan Puncak
Rangkaian acara dua puluh lima tahun kehadiran fransiskan di Timor Loro Sae dimahkotai dengan perayaan ekaristi bersama umat. Minggu (27/10/2013), ratusan umat dari dua paroki fransiskan di Timor Loro Sae beramai-ramai mulai memadati kemah yang sudah dipersiapan panitia di halaman samping Gereja Paroki Wekiar. Tepat pukul 09.00 waktu setempat iring-iringan tarian adat yang dibawakan oleh anak-anak mengiringi prosesi Uskup dan para imam ke altar. Perayaan ini terlihat menjadi semakin meriah karena persaudaraan fransiskan menggabungkan juga peristiwa tahbisan imam putra Timor Loro Sae, Saudara Nicolau Jose Florentino de Fatima OFM. Perayaan ekaristi dipimpin oleh Uskup Dili, Mgr. Alberto Ricardo da Silva Pr di dampingi oleh Sdr. Adrianus Sunarko bersama dengan delapan belas imam lainnya. Perayaan ekaristi berlangsung dalam bahasa Tetum. Sdr. Nicolau mengambil motto tahbisannya, “Bertolaklah ke tempat yang dalam.” (Luk 5:4b) atau dalam bahasa Tetum, “Tama Liu Ba Tasi Laran”. Mgr. Alberto dalam homilinya secara khusus mengajak calon imam baru apabila sudah ditahbiskan menjadi imam atau amo (dalam bahasa Tetum) harus cepat melayani tanpa menunda-nunda. Ada hal yang terlihat berbeda dari peristiwa tahbisan di Indonesia dan Timor Loro Sae. Peristiwa pencurahan berkat perdana dari imam baru sebagaimana biasanya terjadi di Indonesia tidak muncul dalam perayaan itu. Tradisi yang mucul adalah mencium tangan imam baru. Uskup dan para imam serta semua umat yang hadir satu persatu maju ke hadapan imam baru dan mulai mencium telapak tangannya.

Pelayan Provinsi membagikan Komuni

Pelayan Provinsi membagikan Komuni

Mgr. Alberto Ricardo da Silva Pr mentahbiskan Sdr. Nicolau OFM

Mgr. Alberto Ricardo da Silva Pr mentahbiskan Sdr. Nicolau OFM

Umat mencium tangan Imam Baru

Umat mencium tangan Imam Baru

Sesudah perayaan ekaristi, semua umat bergerak menuju aula paroki yang terletak persis di samping gereja paroki. Resepsi di aula diisi dengan sambutan-sambutan dari beberapa tokoh umat, pelayan persaudara dan Uskup. Sdr. Adrianus Sunarko dalam sambutannya mengatakan bahwa peristiwa hari ini adalah perayaan syukur atas dua puluh lima tahun fransiskan hadir di Timor Loro Sae dan tahbisan imam dari Sdr. Nicolau. Ia juga mengatakan bahwa perayaan syukur dua puluh lima tahun fransiskan hadir di Timor Loro Sae adalah saat untuk mengevaluasi kehadiran fransiskan di Timor Loro Sae. Sejauh mana kehadiran para fransiskan itu bermanfaat bagi gereja? Ia menambahkan bahwa ada tiga indikator yang dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi : pertama, hidup doa. Kedua, apek persaudaraan dan ketiga, kepeduliaan pada orang kecil dan keutuhan ciptaan. Rangkaian resepsi ditutup dengan santap siang bersama ala Portugis.

Sdr. Hendrikus Seta (Magister), Sdr. Wilhelmus Kollo (Socius), Sdr. Zefe bersama para postulan Timor Leste

Sdr. Hendrikus Seta (Magister), Sdr. Wilhelmus Kollo (Socius), Sdr. Zefe bersama para postulan Timor Leste

Suasana Resepsi

Suasana Resepsi

Kontributor : Sdr. Mateus L. Batubara OFM

Post navigation

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *