Jadi Fransiskan yang Peduli dengan Alam & Orang Kecil, Kursus Kefransiskanan Saudara Muda OFM

Jakarta, OFM – Mewartakan Injil dengan Sukacita ke Daerah Periferi

Dalam agenda tahunan Dewan Pendidikan OFM, para Saudara Muda (Frater-Frater OFM) wajib melaksanakan pelbagai kegiatan, salah satunya adalah kursus. Pada tahun ini, para Saudara Muda tingkat III mengikuti kursus pendalaman dokumen-dokumen kefransiskanan yang diadakan pada 12 hingga 15 Januari 2026. Di hari pertama bertempat di Ruang Makan Biara St. Antonius Padua, Cempaka Putih, para saudara mendalami dokumen dengan judul “Going to The Peripheries with The Joy of The Gospel”. Dokumen ini dipaparkan oleh Sdr. Yulius Ferry Kurniawan, OFM.

Pertama-tama Sdr. Ferry mengajak setiap saudara untuk menyadari bahwa panggilan yang mereka miliki berasal dari Tuhan sekaligus bentuk dari upaya konkret yang dilakukan. Para saudara diajak untuk mengenali kharisma yang dimiliki oleh seorang Fransiskan baik dari dalam dirinya sendiri maupun di dalam sebuah komunitas persaudaraan. Sdr. Ferry menegaskan kepada para saudara muda bahwa kehidupan yang dimiliki mereka adalah pemberian cuma-cuma dari Tuhan. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi setiap saudara untuk merasa besar atau superior, melainkan menjadi minor dan “merasa kecil” serta menyadari keberdosaannya di hadapan Allah agar mampu memperoleh keselamatan dari-Nya.

Pelajari Dahulu, Wartakan Kemudian, 

Pada hari kedua, Selasa (13/01/2026) kursus diadakan di ruang kelas STF Driyarkara, Jakarta. Penyaji materi kali ini adalah Prokurator OFM, Sdr. Sefanus Nampung OFM. Sdr. Stefan OFM membahas dokumen yang berjudul Franciscan Management Of Finences. Ia mengajak para saudara muda tingkat III untuk mengenal dan memahami segala hal yang berkaitan dengan Manajemen Keuangan Ordo. Hal utama yang ditegaskan oleh Sdr. Stefan adalah mengenai Prinsip Manajemen Keuangan Ordo. Bahwasannya, Manajemen Keuangan Ordo OFM tentunya berdasar pada penghayatan akan Kaul Kemiskinan sebagaimana yang ditaati oleh St. Fransiskus dari Asisi. Artinya, sebagai seorang Fransiskan kita diajak untuk terbuka pada gaya hidup yang sadar, menjunjung nilai persaudaraan dan hidup yang bersolider khususnya terhadap mereka yang miskin.

Selanjutnya para Saudara Muda tingkat III melanjutkan kursus sesi kedua bersama Sdr. Wolfan Apriliano OFM. Dalam kesempatan ini, Sdr. Wolf yang sekarang ini ditugaskan sebagai Sekretaris Dewan Pendidikan OFM, Indonesia mengangkat dokumen yang berjudul Go and Teach. Sdr. Wolf menegaskan bahwa dokumen tersebut menjadi Pedoman yang mengatur pola Pendidikan dalam Ordo baik secara internal yakni rumah formasi maupun eksternal yakni seluruh karya pendidikan Ordo yaitu Sekolah, Yayasan dan juga Karya-karya sosial karitatif seperti Panti Asuhan dan lain sebagainya.

Inti dari pedoman itu adalah bahwa seluruh karya pendidikan Ordo harus bertumbuh dan berjalan sesuai dengan Kharisma Fransiskan yakni Persaudaraan dan Kedinaan. Persaudaraan dan Kedinaan adalah arah dasar pendidikan Fransiskan sebagaimana yang dihidupi St. Fransiskus dari Asisi. Bencana Alam, Bencana Manusia

Lalu pada hari terakhir, Kamis (15/01/2026), kursus dilanjutkan dengan memperdalam spiritualitas Fransiskan dalam menjawab tantangan zaman, khususnya terkait isu ekologis dan kemiskinan. Kursus hari ini terdiri dari dua sesi berbeda, pertama bersama Sdr. Aloysius Gonzaga Goa Wonga, OFM, sebagai Direktur JPIC OFM Indonesia, yang membahas isu ekologis dan kemiskinan. Kedua, bersama Sdr. Novendro Ambal OFM, yang secara khusus mengajari saudara muda mengolah sampah organik rumah tangga.

Dalam sesi yang berlangsung antara pukul 08.00–11.30 WIB, Sdr. Alsis, mengangkat tema The Cry of the Earth and the Cry of the Poor berdasarkan tulisan Leonardo Boff dan dokumen Laudato Si’. Sdr. Alsis menegaskan bahwa krisis lingkungan hidup saat ini bukanlah murni terjadi secara alamiah, melainkan dampak langsung dari tindakan manusia melalui pertumbuhan ekonomi yang tidak terkendali. Laju pertumbuhan ekonomi pada era modern mempercepat kerusakan lingkungan, di mana manusia secara terus menerus mengeksploitasi sumber daya alam. Akar krisis ekologis dan kemiskinan bersumber dari sistem eksploitasi global. Paradigma dominasi dunia modern, yang didorong oleh rasionalitas teknokrasi dan ekonomi kapitalisme, membuat manusia mengklaim dirinya sebagai penguasa mutlak atas alam. Ia menegaskan bahwa kerusakan lingkungan berdampak paling parah bagi mereka yang miskin, yang menyebabkan kehilangan akses terhadap tanah dan air bersih. Selain itu, tangisan bumi dan kaum miskin bukanlah sekadar data ilmiah, melainkan seruan moral dan spiritual yang menuntut respons segera.

Bagi Sdr. Alsis, setelah melihat situasi yang ada, baik isu ekologis dan kemiskinan, yang namanya perubahan masih mungkin terjadi jika manusia bersedia mengubah cara berpikir melalui: pertama, Spiritualitas Baru. Manusia diundang merawat bumi sebagai rumah bersama. Kedua, Pertobatan Ekologis. Perubahan gaya hidup dan solidaritas dengan yang rentan (LS 49, 216-221). Dan ketiga, Ekologi Integral. Mengacu pada St. Fransiskus Assisi (LS 10) sebagai model hidup harmoni dengan Allah, sesama, alam, dan diri sendiri. Ekologi Integral menjadi jawaban kunci dalam mengatasi krisis multidimensi ini (LS 137-162). Manusia perlu menyadari keterhubungannya dengan Allah dan ciptaan lain, karena melalui alam manusia berjumpa dengan Allah sebagai pencipta dan terus menjaga relasinya dengan alam sebagai bentuk relasi kasih.

Bagian akhir kursus ini adalah implementasi praktis dengan kegiatan utamanya adalah  pengolahan sampah. Pelatihan ini bertujuan untuk meminimalisir limbah dapur yang dibuang ke TPA dan yang terpenting adalah menghasilkan produk organik yakni pupuk organik. Kegiatan ini didampingi oleh Sdr. Vendro yang memiliki pengalaman mumpuni mengolah sampah rumah tangga di Biara Fransiskus, Jakarta. Adapun bahan-bahan yang digunakan seperti sampah organik dapur (potongan sayur, dan kulit buah), tanah sebagai media dasar, dedaunan kering sebagai unsur karbon, dan cairan Bio-Aktivator sebagai perangsang pertumbuhan bakteri pengurai.

Saudara Vendro memandu para saudara untuk mencampurkan bahan-bahan tersebut dengan komposisi yang tepat, tetapi dengan terlebih dahulu menghaluskan sampah dapur menggunakan mesin penghancur khusus. Melalui aktivitas ini, para saudara belajar untuk melihat sampah bukan sebagai kotoran, melainkan sebagai sumber daya yang dapat diperbarui jika dikelola dengan kasih dan tanggung jawab.

Kontributor: Sdr. Marianus Aventino Penabur OFM, Sdr. Juan Carlo Suban Mukin OFM  dan Sdr. Valentino Elvis Halyo OFM

 

Tinggalkan Komentar