Satu kali pernah terjadi bahwa Pater Martin Harun OFM dikira sudah meninggal. Pasalnya karena ada seorang imam CSE yang bernama depan Martin juga meninggal dunia. Berita “Pater Martin meninggal dunia” rupanya sampai pula ke Parahyangan – tempat Pater Martin Harun mengajar. Maka dibuatlah misa arwah untuk beliau. Misa sudah hampir dimulai. Semua bergegas ke kapel. Tiba-tiba ada seorang frater yang melihat kelebatan Pater Martin Harun di pintu gerbang. Karena mengira sosok itu hanyalah roh Pater Martin yang datang, setengah takut ia berbisik ke rekan di sampingnya, “Ro . . Ro . . Romo Martin datang”. Kontan semua peserta yang berdiri di sekitarnya menengok ke arah pintu gerbang.
Sumber: Majalah TAUFAN.

Halo redaksi OFM,
Minta izin mengutip cerita ini untuk terbitan Lembaga Alkitab Indonesia bagi Rm Martin. Terima kasih sebelumnya dan salam,
Shalom, Neila M.
Silahkan menggunakan material tersebut dengan catatan:
– bukan untuk komersial
– mohon mencantumkan “diambil dari http://www.ofm.or.id”
Terima kasih atas kunjungannya.
Erwin P.
Hua…ha…ha…
Terima Kasih Pater Martin tuk kisah versi asli dari yang mengalami.
Saudara-saudara yang lain juga diundang untuk turut memeriahkan website ini dengan kisah dan pengalaman anda.
Silahkan kirim ke framinor@cbn.net.id.
[Yang sebenarnya] Pada suatu hari Sdr Martin Harun OFM masuk ke halaman Fakultas Filsafat Parahyangan, Bandung, untuk memulai kuliahnya pada semester baru itu. Asataga, para mahasiswa yang nongkrong di halaman itu tidak mau kasih salam tapi lari terbirit-birit masuk ke gedung! Satu dua menit kemudian mereka keluar lagi dengan gerombolan lebih besar, memandang dia dengan seribu mata. “Ada apa di sini?” tanya saudara kita. Lalu majulah seorang dosen, Pak Banbang, meraba tangan dan lengan dan bahu sdr Martin sambil membawanya masuk dan minta duduk sebentar. Katanya, “tadi pagi semua konvik sudah misa requiem untuk Pastor. Semalam mendapat berita duka dari Keuskupan Bogor bahwa Pastor meninggal dunia di RS Carolus Jakarta dan hari ini dikuburkan di Sindanglaya. Delegasi FF dipimpin Bpk Frans Borgias sudah dalam perjalanan ke sana. Pudek I juga sudah tilpon ke STF-STF lain untuk mendapat dosen pengganti semester ini.” Dari jauh mata para mahasiswa masih terus melorot ke roh halus itu, tapi Pak Bambang sudah mulai sadar: ini manusia beneran! Akhirnya “almarhum” memutuskan untuk tilpon ke Santo Yusup, Sindanglaya, bertanya: Martin yang mana mau dikuburkan di sana hari itu? Jawabannya: “Fr. Martin CSE yang kemarin meninggal di Carolus”. Lalu kuliah dapat dimulai. Dan dosennya – yang sudah mendapat misa requiem – lantas hidup lama dan bahagia.
hahaha…. sudah sering baca kisah ini tapi kok tetep lucu ya hahaha….
astaga, sudah kadaluarsa!