Adorasi Sampai Bandung

[Index Berita]

Ilustrasi adorasi Sakramen Mahakudus

Ilustrasi adorasi Sakramen Mahakudus

Berawal dari sebuah presentasi di sebuah seminar di Aula Paroki St. Theresia, Jakarta, pada 2 Juni 2012. Seminar itu diselenggarakan atas prakarsa Marian Center Indonesia pada Mei 2012. Dalam seminar itu, dihadirkan dua pembicara, yakni RD Yohanes Subagyo (Vikjen KAJ) dan penulis reportase ini.

Dalam seminar, yang diselenggarakan dalam konteks Tahun Ekaristi itu, hadir sepuluhan orang dari Bandung. Mereka ini merupakan “kawanan kecil” dari Paris van Java, yang dengan tekun bersembah bakti di hadapan Sakramen Mahakudus.

“Kawanan kecil” inilah yang berprakarsa mengundang saya untuk mempresentasikan (lagi) materi seminar di Theresia waktu itu. Hanya saja, kali ini di Bandung; di Paroki Santa Perawan Maria Sapta Kedukaan. Paroki yang dilayani oleh para imam Salib Suci (OSC) ini disebut juga Gereja Pandu.

DENGAN PARAHYANGAN

Undangan untuk berseminar di Bandung pada 8 September 2012 bertepatan dengan genap tiga tahun Adorasi Abadi di Kapel Gereja Pandu. Siang hari pada tanggal tersebut (tepatnya pk 12.25) saya meninggalkan Stasiun Gambir (Jakarta) dengan kereta api Parahyangan.

Kepergian ke Bandung kali ini menerbitkan “pengetahuan kecil” yang menarik untuk dicatat. Misalnya, tiket kereta api bisa diperoleh on-line di kios waralaba seperti Indomaret dan Alfamart; harga tiket 80.000 rupiah saja (kios waralaba itu masih menambah biaya administratif sebesar 6.000 rupiah); tanda pembelian tiket on-line itu sesampai di Stasiun Gambir perlu ditukar di loket dan diganti dengan tiket “beneran“.

Perjalanan ke Bandung memerlukan waktu sekitar 180 menit. Saya baru “mudeng” (baca: mengerti) saat itu, ternyata kereta api jenis Argo Gede kini sudah tidak beroperasi lagi. Jenis ini diganti dengan Argo Parahyangan.

Mendekati stasiun tujuan, datanglah pertanyaan pada diri ini, “Penjemput saya ada di pintu keluar sebelah Utara atau Selatan?“. Sementara itu, anggota panitia yang selama ini menjadi “contact person” tidak bisa saya hubungi. Pasalnya, telefon seluler beliau berada dalam status “off”.

Ternyata, Si Penjemput bukanlah “contact person” yang selama ini “berkikuk-kikuk” dengan saya tentang kegiatan Seminar ini. Saya hanya mengikuti arus sebagian besar penumpang yang keluar menuju pintu Utara.

Di sana berdiri seorang Bapak Yustinus, yang memegangi kertas bertuliskan “Rm. Eddy, OFM”. Konon, beliau berusaha menghubungi saya melalui ponsel. Tetapi usaha itu tidak berhasil. Sementara itu, beliau juga gagal menghubungi “contact person” yang telah saya sebutkan. Nyatanya, Si Penjemput mendapat nomor ponsel saya dari “contact person”. Akan tetapi, nomor ponsel saya tidak tersalin secara benar.

PASTORAN PANDU

Bapak Yustinus mengantar saya ke tempat penginapan, yakni Pastoran Pandu. Setelah istirahat dan membersihkan diri secukupnya, panitia menjemput saya. Para peserta seminar sudah berkumpul di aula untuk siap dicerahi.

Sesungguhnya, ada dua pembicara yang diundang untuk berbagi “ilmu”. Tetapi ternyata hanya satu pembicara yang hadir. Mengapa? Pastor Dr. Agustinus Eddy Putranto OSC, yang juga bertugas sebagai Sekretaris Keuskupan Bandung, berhalangan hadir dan absen karena ayahnya, yang tinggal di Wates (Yogyakarta) berpulang ke Rumah Allah, sehari sebelum acara seminar ini.

Tiga jam dialokasikan untuk acara seminar ini, yang dimoderatori oleh Pastor Sudarno OSC. Beliau adalah Pastor Kepala Paroki Pandu. Setelah acara serimonial, saya diundang untuk membawakan materi, yang saya beri judul: “ADORASI, KAJIAN HISTORIS-TEOLOGIS”.

Materi seminar di Bandung ini senyatanya tidak sama dan tidak sebangun dengan materi yang saya presentasikan dalam Seminar di aula Theresia, Jakarta, 2 Juni 2012 yang lalu. Dengan ini saya bermaksud menegaskan, bahwa saya sudah mengelaborasi kembali materi tersebut, meng-aggiornamento, dan menyegarkan ide dengan bacaan baru serta pengalaman personal.

“Menyegarkan kembali” dan memperdalam materi merupakan usaha konkret yang mutlak perlu. Biasanya, materi yang telah dipresentasikan dimatangkan oleh diskusi, pertanyaan, dan penjelasan pasca presentasi. Oleh karena itu, pertukaran pikiran (pengalaman) pasca presentasi dapat menjadi salah satu tolok ukur apakah presentasi materi mendarat, inspiratif, dan memancing pendalaman.

REKAYASA

Demi mempermudah pembahasan materi, saya merekayasa dengan membuat periodisasi. Maksudnya, ada empat kurun waktu (periode) seperti: masa klasik, periode abad pertengahan, zaman reformasi Martin Luther, dan era kiwari (kontemporer). Benang merah praksis, legenda, dan teologi tentang Sakramen Mahakudus diperkenalkan dan digelar.

Pendalaman materi presentasi saya selaraskan dengan buah pikiran seorang Imam Jesuit, John A. Hardon: The History of Eucharistic Adoration. Development of Doctrine in the Catholic Church. Karya ini sangat komprehensif sekaligus inspiratif. Ide dalam karya ini saya kembangkan dan kemas sedemikian rupa sehingga dapat menjadi konsumsi yang segar dan mudah dipahami, terutama oleh kaum sederhana.

Dari aktivitas Seminar, yang dihadiri 120-an peserta ini, saya menarik beberapa butir. Adorasi abadi di Paroki Pandu ini satu-satunya di Keuskupan Bandung. Kaum awam bukan saja dari Paroki Pandu, tetapi juga dari paroki-paroki tetangga secara bergantian mengunjungi dan menyembah Tuhan yang tersamar dalam roti kudus.

Adorasi ini memperlihatkan dengan gamblang kekhasan kita sebagai Gereja Katolik, mengingat aliran atau denominasi Protestan tidak mengenali tradisi ini. Gereja Katolik telah memperlihatkan bagaimana dinamika hormat bakti ini, seiring dengan pemahaman Gereja tentang Ekaristi.

Praesentia realis, kehadiran nyata Tuhan dalam Roti Suci menegaskan keyakinan iman Injili sekaligus merupakan bentuk konkret Allah dalam Yesus Kristus menyelenggarakan hidup bagi umat-Nya yang tengah berziarah di dunia ini. Oleh karena itu, adorasi pada Sakramen Mahakudus, yang terbilang dalam ranah devosi ini mampu menyuburkan iman, apalagi jika dipelihara dan dicintai dengan segenap diri.

Akhirnya, dalam dan melalui kegiatan berseminar ini saya bersyukur karena studi sejarah Gereja telah membekali saya kecakapan untuk mengenali gerak batin dan cinta persekutuan para pengikut Jalan Tuhan (lihat Kis 9:2). Dalam persekutuan itu diungkapkan cinta mendalam tanpa basa-basi akan Sumber Kehidupan Sejati yang tersamar sehingga netra sendiri tak sanggup memandang tanpa hati yang berserah*****

Kontributor : Sdr. A. Eddy Kristiyanto, OFM

Post navigation

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *