Asesor di Puncak Garden Palace

Panggilan itu begitu mendadak. Dan rupanya begitulah cara kerja lembaga pemerintah. Sebab, hal-hal “mendadak-mendadak” seperti itu sudah sering kali terjadi. Seakan bekerja secara terencana dan terukur itu sesuatu yang tabu. Berhubungan dengan hal mendadak dipanggil menjadi asesor Perguruan Tinggi, itulah yang hendak saya bawakan sebagai buah tangan dari Kota Pahlawan.

PEMECAHAN REKOR
Di lingkungan Fransiskan, bisa jadi penulis reportase inilah orang pertama yang lolos seleksi asesor Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Seleksi itu terjadi pada awal Desember 2013 di Hotel Merapi, Babarsari, Jogjakarta.

Alkisah, pada Rabu petang, 26 Maret 2014, ada telpon dari BAN-PT yang mengundang saya agar hadir di Surabaya untuk melakukan asesmen kecukupan bagi sejumlah perguruan tinggi. Acara itu akan berlangsung pada Kamis s.d. Sabtu, 27-29 Maret.

Terang saja, saya “gedandapan” (baca: bergegas sambil menabrak-nabrak) begitu mendengar undangan tersebut. Kemudian saya melihat agenda apakah pada tanggal-tanggal tersebut saya ada “appointment” atau tidak, “ngedonlod” Surat Undangan, SPJ-SPD, meminta izin kepada Pimpinan STF Driyarkara, dan mengkomunikasikan kepada Minister Provinsi.

Beruntung juga, setelah makan malam Ibu Emilia Ganis-Ludiarto datang ke Wisma Duns Scotus untuk mengantar buah segar. Dialah yang mengantar saya untuk mendapatkan tiket di sebuah agen perjalanan yang buka 24 jam.

Angan saya mekar dalam buih mimpi, katanya: “Kesempatan ini merupakan peluang istimewa. Hadapilah tugas ini dengan gigih, gembira, tanpa letih”. Kata angan itu yang saya ikuti. Tetapi, tidak mudah mendapat tiket murah keluar Jakarta yang bersamaan waktunya dengan “long week end”.

Seberapa pun harga tiket akan saya ambil. Ternyata tinggal satu tiket untuk pesawat yang akan “take off” pada pukul 14.50. Sementara itu, acara di Garden Palace Hotel Surabaya dimulai pk. 15.00. Orang bijak berkata, “Lebih baik datang telat daripada tidak samasekali”.

Penerbangan Jakarta-Surabaya memakan waktu 70 menit. Tetapi waktu yang dipakai untuk mencapai Hotel yang terletak di Jl. Yos Sudarso dari Bandara Juanda lebih dari 80 menit. Hal itu disebabkan oleh padatnya arus lalu lintas pada Kamis petang itu.

Praktis saya mencapai hotel pada makan malam. Setelah mendapatkan kamar yang akan ditinggali bersama Bp. Maskur, Dosen Univ. Islam Malang, saya langsung ikut makan, dan kemudian dimulailah pengembaraan di belantara ketidakpastian. Mengapa begitu? Sebab mitra saya sebagai asesor mengalami kesulitan dengan laptop miliknya. Laptop beliau “byar-pet” setiap 30 menit, lantaran jatuh.

Malam itu saya kerja sendirian di aula bersama hampir 220-an asesor yang datang dari pelbagai Perguruan Tinggi. Meski bersama begitu banyak orang, saya merasa sepi. Sebab tidak ada tempat untuk bertanya. Mitra asesor saya memilih kerja sendiri di kamar hotel. Dua bundel berkas masing-masing dari Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik (STPK) di Semarang dan Jayapura, mulai saya baca satu-per-satu. Tetapi belantara ketidakpastian itu juga muncul dari ketidakfasihan saya menggunakan program excel. Sebagian besar kalkulasi penilaian (scorring) menggunakan program tersebut.

Perasaan belum serba krasan dengan sistem dan pola kerja sebagai asesor itu diperparah dengan keadaan badan yang tidak fit. Semalaman saya kedinginan dan badan menggigil, bagaikan demam yang menggoyang Keledai ini. Beruntung, saya sudah menyiapkan Decolgen yang biasanya cocok untuk lara seperti itu. Tetapi satu tablet Decolgen saja tidak pernah cukup. Saya rupanya tertidur sebelum sinar fajar merekah masuk di lantai 22, puncak Garden Palace Hotel.

Mengingat persediaan Decolgen terancam, dan kondisi Keledai ini belum membaik, maka pk. 05.30 saya sudah berada di lobby hotel dan bertanya, “Di manakah dapat ditemukan toko obat di sekitar hotel ini”. Saya kemudian keluar untuk menyusuri jalan sembari berolahraga yang berujung pada menemukan toko, yang menjual obat yang saya butuhkan. Sepanjang hari ini saya mencoba menciptakan irama kerja sendiri. Mitra asesor tidak pernah muncul, kecuali pada saat setelah makan malam.

Kondisi fisik saya tidak tertolong lagi. Kepala terasa berat. Batuk dan pilek menyergap. Ketegangan menyeruak, apalagi menyadari besok pagi pekerjaan harus dikumpulkan. Rasa-rasanya tensi saya juga meninggi. Saya menyambangi dokter jaga, yang disediakan oleh Panitia Penyelenggara. Betul juga intuisi saya, tensi saya melonjak. “Duh, Gusti Allah paringana kawula kawelasan lan karaharjan”.

Mitra asesor yang sudah relatif lama bekerja sebagai asesor akhirnya datang dan berperan sebagai penyelamat saya. Tuhan mengutus dia di penghujung perjuangan saya. Tetapi hari itu akan berakhir dalam satu-dua jam saja. Ketertinggalan saya dalam mengelaborasi dan memberikan pengamatan yang tepat atas borang-borang kedua STPK tersebut memaksa saya harus lembur.

TERBUKALAH MATA SAYA
Sabtu, 29 Maret adalah hari pendek tetapi sangat menegangkan bagi saya yang baru pertama kalinya menghadapi prosedur demi prosedur. Hari saya awali dengan jalan kaki keluar hotel pada pk. 05.30. Kawasan Yos Sudarso ini sarat dengan gedung perkantoran dan pusat-pusat perbelanjaan, seperti Surabaya Plaza.

Sebelum pk. 08.00 saya sudah siap untuk antre mencetakkan hasil perhitungan saya berkenaan dengan asesmen kecukupan. Ternyata setelah hasil itu dicetak saya menemukan banyak salah ketik, dan juga tidak sempat membandingkan hasil perhitungan saya dengan perhitungan mitra asesor, yang bernama Ibu Asnath Niwa Natar, Dosen Universitas Kristen Duta Wacana, Jogjakarta.

Untuk mencetak ulang setelah dikoreksi berarti harus antre dari awal. Padahal, hampir semua asesor berada pada antrean yang sama. Ditambah lagi, check out dari hotel paling lambat pk. 12 siang. Sementara itu, hasil perhitungan saya dan Ibu Asnath harus dikumpulkan bersama-sama, tidak boleh diserahkan sendiri-sendiri atau secara terpisah.

Diinformasikan bahwa flight Ibu Asnath dari Surabaya ke Jogjakarta akan diberangkatkan pada pk. 11.10. Waktunya sangat mepet, mengingat bukan bahwa hasil perhitungan kami diserahkan bersama-sama lalu selesai, dan kami boleh meninggalkan hotel. Bukan! Setelah penyerahan hasil perhitungan bersama, kami masih menunggu hasil validasi oleh tim ahli. Maksudnya, hasil perhitungan kami akan diperiksa oleh para pakar, yang terdiri atas beberapa orang yang sudah terbiasa menguji hasil perhitungan para asesor.

Gandrik galiasem! Setelah menunggu begitu lama, hasil perhitungan kami mutlak perlu direvisi. Sejumlah perhitungan keliru, ada perbedaan mencolok mata dalam memberi nilai, ada pula keterangan yang tidak sinkron dengan nilai yang diberikan, etc, etc. Pada saat ini terbukalah mata saya tentang cara mengoperasikan program excel dengan cepat berdasarkan perhitungan matriks (sarjana) berpola Hitung F1 dan Hasil F1.

Ibu Asnath dengan sabar membimbing saya dan menanti saya yang berkerja tertatih-tatih. Terbaca pada raut wajahnya semburat kecemasan, mengingat ia tak bakal bisa mengejar jadwal penerbangan ke Jogjakarta. Ini berarti tiket Maskapai Wings yang telah di tangannya bakal hangus. Saya menenangkannya dengan mengatakan bahwa saya bermaksud untuk berbagi biaya penerbangan dia ke Jogjakarta. Pertimbangan saya, kami sebagai tim harus kompak, dan bekerja sampai tuntas.

Betul, setelah revisi terakhir yang dibantu oleh salah seorang anggota tim pakar, hasil perhitungan kami dinyatakan lolos. Rangkaian pekerjaan belum selesai. Kami harus mengantre lagi untuk mendapatkan reimbursement. Kami mendapatkan uang pengganti sejumlah yang kami keluarkan: taksi, airport tax, tiket pesawat. Selain itu, kami mendapat honoraria empat jutaan rupiah sudah dipotong PPh 15%. Biaya penginapan di Garden Palace ditanggung oleh Pemerintah, yang berarti dibayar oleh rakyat yang setia membayar pajak.

Sekitar pk. 11.30 bersama dengan Ibu Asnath kami ke Bandara Juanda. Ibu bermain gambling: meski tiket Wings sudah hangus, mudah-mudahan masih dapat diperoleh tiket baru ke Jogjakarta. Tetapi ternyata di bandara tak tersedia lagi tiket pesawat ke Jogja. Sementara itu, saya masih berkecukupan waktu untuk menunggu Garuda yang akan menerbangkan saya pada pk. 15.50. Ibu Asnath mengabarkan bahwa beliau kembali ke dalam kota untuk naik kereta api pada pk. 18.00. Beruntung juga, ia mendapatkan eks-alumni UKDW yang tinggal di Surabaya, yang bersedia menemani dia sampai kereta api meninggalkan Stasiun Gubeng, Surabaya.

Pengalaman serba kilat dan menegangkan ini bagi saya mempertegas sejumlah harta karun rohani yang tiada ternilai. Spirit kerjasama memungkinkan hasil kerja yang optimal, di samping itu kondisi fisik yang terjamin, tidak tegang, menguasai materi, perangkat serta sarana kerja, dan keterbukaan sikap pada hal-hal baru menjadi kondisi (syarat) yang mesti dipenuhi.

Pengalaman ini belum berakhir. Sebab setelah kedua STPK, yang satu di Semarang (dan dikelola oleh Suster-suster OSF Semarang), yang lain di Waena, Jayapura (dan dikelola oleh Sdr Agon Rusmadji OFM) dinyatakan “lolos” (di atas kertas), kami mutlak perlu melihat di lapangan. Betulkah semua yang dilaporkan di ratusan halaman itu mengungkap fakta yang sesungguhnya? Kisah masih akan berlanjut!

Kontributor: Sdr. A. Eddy Kristiyanto, OFM

"Tak jauh dari Garden Palace Hotel, Surabaya, terdapat taman yang diperlengkapi dengan bekas-kapal-selam PASOPATI. Kiranya kapal ini memerkaya julukan Surabaya, Kota Pahlawan".

“Tak jauh dari Garden Palace Hotel, Surabaya, terdapat taman yang diperlengkapi dengan bekas-kapal-selam PASOPATI. Kiranya kapal ini memerkaya julukan Surabaya, Kota Pahlawan”.

 

Post navigation

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *