ASG dan Paskalis

Ada tendensi untuk mengutarakan, “Inilah kursus pertama kali yang diadakan di seluruh wilayah KAJ (baca: Keuskupan Agung Jakarta).” Pasalnya, belum pernah terdengar adanya kursus tentang Ajaran Sosial Gereja (ASG). Banyak orang menyadari arti dan pentingnya ASG, tetapi bagaimana harus dimulai, siapa yang berkompetensi untuk mengajarkannya, apakah ada cukup jumlah peserta yang mau aktif sepanjang kursus, mengingat sifatnya apakah ASG akan siap diaplikasikan dan dipraktikkan dalam tataran konkret?

KEHAUSAN

Pada mulanya adalah sebuah pembicaraan. Pembicaraan ini berkembang dan mengarah ke realisasi. Bp Wie Nen, aktivis Paroki St Paskalis, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, yang juga berperan aktif dalam Seksi Kitab Suci mengungkapkan gagasan. Gagasan itu berhubungan dengan bagaimana menyeimbangkan antara ilham alkitabiah, the deposit of faith (khazanah iman), masalah iman, dan upgrading pemahaman iman Katolik. Gagasan itu ditelorkannya pada September 2011.

Segera dijajaki kemungkinan untuk mewujudkannya. Maka, Seksi Kitab Suci segera diatur sebagai kendaraan untuk mengusung gagasan itu. Jika sudah sampai pada proses ini Bp Wie Nen perlu mematangkan gagasan melalui pembicaraan dengan pastor setempat. Kemudian Sdr Kristoforus Tara OFM berperan sebagai fasilitator. Tugas fasilitator adalah menghubungi Seksi Kitab Suci, mengadakan rapat koordinasi, merancang pembicaraan dengan nara sumber, menyampaikan informasi dan keputusan-keputusan berkenaan dengan acara ini.

Setelah segala sesuatu dipersiapkan dan informasi disebarluaskan baik melalui selebaran, spanduk, maupun jejaring sosial, maka 7 Februari 2011 dimulailah tatapmuka pertama. Sdr Peter Aman OFM membuka dengan Pengantar Umum tentang ASG. Dua Saudara lain, Sdr A Eddy Kristiyanto OFM dan Kristoforus Tara OFM melanjutkan dengan penjelasan tentang ensiklik-ensiklik sosial.

Ketiga Fransiskan ini hendak menjawab kehausan aktivis Paroki St Paskalis dan sekitarnya tentang ASG. Maka, mereka memutuskan untuk memilih beberapa ASG yang hendak dipaparkan, yakni Rerum Novarum, Mater et Magistra, Pacem in Terris, Gaudium et Spes, Laborem Exercens, Solicitudo Rei Socialis, dan Centesimus Annus.

Jadi, ada tujuh ensiklik sosial yang diperkenalkan kepada para peserta. Gelombang I kursus ASG melibatkan 40 peserta. Sedangkan Gelombang II diikuti oleh 38 orang. Evaluasi sangat positif atas pelaksanaan kursus Gelombang I mendorong lahirnya Gelombang II. Materi yang disampaikan kepada peserta Gelombang I dan II tidak berubah.

FORMASIO SDM

Gelombang I berlangsung dari 7 Februari hingga 27 Maret 2012. Sedangkan Gelombang II terbentang dari 2 Oktober hingga 20 November 2012. Para peserta dipungut 100 ribu untuk 8 (delapan) kali pertemuan. Masing-masing berlangsung dari pk 19.00-21.00. Para peserta mendapat handout, fotocopy materi yang dipresentasikan.

Dalam setiap pertemuan, para peserta terlibat aktif dengan mengajukan pertanyaan, yang bukan hanya sekedar pertanyaan informatif, melainkan juga bersifat substantif dan praktis. Entusiasme peserta inilah yang mendorong panitia untuk mengembangkan aktivitas ini menjadi Kursus ASG Tahap Ke-2.

Maksudnya, setelah berakhirnya kursus Gelombang II ini, pada tahun 2013 akan diselenggarakan Kursus ASG Tahap Ke-2, yang bercorak tematik. Beberapa isu terpenting dalam ASG akan diangkat dan dikupas.

Kursus ASG Tahap Ke-2 ini mau menyasar munculnya coetus (regu) atau kelompok yang peduli pada studi dan terutama praksis sosial-injili dalam kehidupan sehari-hari di lapangan. Hal ini sudah dapat diantisipasi mengingat, panitia penyelenggara Kursus Gelombang II terdiri atas anggota/peserta Kursus Gelombang I. Sistem estafet ini yang memungkinkan terjadinya regenerasi.

Bagi kita, orang Kristen Katolik, ASG kiranya perlu diduduksandingkan dengan Alkitab. Hal ini untuk memberikan daya agar pengetahuan tidak tinggal sebagai pemahaman semata-mata, melainkan mewujud dalam tindakan konkret, empati tak berkesudahan pada sesama, masyarakat, dan dunia.

Kini semakin disadari bahwa ASG sangat kaya, mendalam, visioner, dan mengilhami pola perilaku serta kebijakan publik. Tentu saja, keterlibatan peserta dalam kursus ini sangat membesarkan hati. Sebuah proses kaderisasi mulai berjalan. Selain itu, pengajaran terutama yang diberikan langsung oleh “para gembala” yang kompeten menjadi jawaban atas kerinduan umat.

Kursus ini pun secara sepihak dapat dinyatakan sebagai cara aktualisasi diri para Fransiskan. Mengapa? Karena kita tidak memiliki karya “propria” atau bidang pelayanan yang menjadi kepunyaan kita. Universitas, percetakan, rumah sakit tidak kita “miliki”. Syukur kepada Allah!

Kita memang “memiliki” Sekolah Fransiskus, yang sama sekali tak sebanding dengan Ursula, Santa Maria, Kanisius, Tarakanita, Marsudirini, Regina Pacis, dan lain sebagainya. Maka itu, diperlukan pelayanan alternatif dengan pengembangan human resources atau Sumber Daya Manusia.

Dalam kalkulasi manajemen kefransiskanan, pola formasio alternatif yang mengembangkan Sumber Daya Manusia merupakan keniscayaan. Para Fransiskan mulai menawarkan jasa dengan melihat serta memanfaatkan celah-celah yang disediakan Gereja Kristus.

Penawaran ini hanya akan diminati, jika SDM sungguh berkualitas, berikut teknik-teknik penyajian yang memenuhi keperluan dan kebutuhan. Persis pada titik ini, Kursus ASG selain menjadi media bagi aktualisasi diri, juga medan untuk melihat serta mengalami kemanusiaan dari dekat.

Tentu saja, Kursus ASG Gelombang I dan II masih menyimpan idealisme. Nilai-nilai yang terkandung dalam ASG belum sepenuhnya dieksplorasi. Namun, suatu tujuan tidak pernah dicapai dalam sekali langkah, melainkan hanya digapai langkah demi langkah. Dalam hal ini, Paroki St Paskalis telah memulai berderap menuju kepedulian dan keterlibatan pada masalah-masalah kemanusiaan. ****

Kontributor: Sdr A Eddy Kristiyanto OFM

asg-2

foto-asg-1

Post navigation

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *