Bandungan (OSF), KoLITI, Jakarta (OFM), dan Sintang (PRAJA)

[tab name=”Berita”] Setelah Rapat Definitorium 26-27 Agustus 2013, saya ke Bandungan (Ambarawa) melewati Semarang. 28 Agustus, seharian penuh, saya mencerahi para pelayan Komunitas OSF. 29 Agustus saya ke Jogjakarta untuk rapat KoLITI (Konsorsium Lembaga Ilmu Teologi Indonesia) di Kentungan. Kemudian, saya bergegas kembali ke Jakarta untuk bergabung dengan para OFM di Pastoran St. Paskalis untuk melewati acara harian di akhir pekan. Pada Minggu, 1 September, Jakarta saya jauhi dan Sintang saya jumpai.
Perjalanan panjang dan sarat makna inilah yang hendak saya narasikan dalam media komunikasi ini.

PELAYAN KOMUNITAS OSF
Sebanyak 40an Pelayan Komunitas (menurut istilah yang umum adalah Pimpinan Komunitas atau Piko) dari Kongregasi OSF Semarang berkumpul di properti OSF, Griya Assisi, Bandungan. Bersama mereka hadir pula Dewan Pimpinan OSF Provinsi Tritunggal Mahasuci di Indonesia plus beberapa staf Komunitas Provinsialat, Jl. Kawi, Semarang.

Mereka semua baru saja mengakhiri sidang persiapan Kapitel. Sedangkan Kapitel sendiri baru akan dirayakan 8-14 Desember yad. Jadi, acara bersama saya, merupakan kegiatan sambungan dari sidang persiapan Kapitel tersebut.

Kepada saya, Provinsial OSF (Sr M Susanna) meminta agar para Piko, yang akan menghadiri Kapitel Desember nanti dicerahi dengan tema ini: “KEBEBASAN BATIN DALAM MENYIKAPI TANTANGAN ERA GLOBALISASI SEBAGAI PEMIMPIN RELIGIUS”. Saya membabarkan tema tersebut pada seluruh hari Rabu (28 Agustus) dalam 3 sesi konsekutif: pk 08.00-10.00; 10.30-13.00; 16.30-19.00.

Pada dasarnya dalam acara itu, saya menjelaskan dasar-dasar kepemimpinan Fransiskan plus tantangan yang dihadapi para Pelayan Komunitas pada era globalisasi. Respons mereka sangat positif! Bukan untuk menyenangkan saya, tetapi dari komunikasi yang disampaikan, saya tahu bahwa mereka semua bersyukur karena Tuhan berkenan mengutus dan mengerjakan yang terbaik melalui seorang yang bakal menghuni Wisma Duns Scotus, Kampung Ambon – yang nota bene kata “wisma” itu akan ditanggalkan, karena alasan takut.

PENGURUS KoLITI BERGABUNG
Setelah perayaan Ekaristi dan sarapan, Kamis (29 Agustus) saya meninggalkan Bandungan dan menuju ke Jogjakarta. Saya langsung menuju Rumah Keluarga di Pakem. Di sinilah saya beristirahat penuh, dan setelah bangun dari tidur saya melakukan persiapan materi yang akan dipresentasikan di Keuskupan Sintang.

Jumat pagi saya – sebagai Ketua KoLITI – bergerak ke Kentungan. Di sana akan bergabung dalam pertemuan: Ketua STFT Widya Sasana (Malang, Rm Pitdyarto OCarm), Dekan Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma (Rm E Martasudjita), Wakil Dekan Fakultas Filsafat Parahyangan (Bandung, Rm Eddy Putranto OSC).

Ternyata pertemuan itu juga dilengkapi oleh kehadiran Rm Purwatma, Rm Mateus Mali, Rm Madya Utama. Ketiga undangan khusus ini sangat membantu ketika pengurus KoLITI mempersiapkan draft Statuta KoLITI dan Pedoman Kerja.

Para Pengurus KoLITI meninggalkan Kentungan setelah membahas tuntas persiapan Kongres Nasional ATI (Asosiasi Teolog Indonesia), 17-19 Oktober 2013 di Syantikara, Yogyakarta. Kongres itu akan menjadi momentum yang menentukan bagi reorganisasi asosiasi yang timbul-tenggelam ini.

JAKARTA NUMPANG LEWAT
Komunitas Pastoran St Paskalis, Jakarta, menjadi salah satu perhentian dalam perjalanan panjang dan melelahkan. Rasanya tidur di kamar pribadi dengan suasana yang sudah lama diakrabi menambah kenyamanan. Praktis, pada akhir pekan ini Komunitas Paskalis ini menjadi “shelter” bagi saya, mengingat perjalanan lanjutan yang segera diadakan.

Sabtu, 31 Agustus, merupakan ruang dan waktu yang tepat untuk membereskan kamar, membersihkannya, mencuci pakaian, melihat surat-surat dan berkas-berkas di STF Driyarkara, “menyambangi” Duns Scotus, “finishing touch” materi yang akan dipresentasikan pada hari-hari terdekat.

Ternyata, Sabtu itu menjadi malam yang rasanya panjang banget. Hal itu disebabkan oleh kenyataan bahwa indera insani ini tidak mudah berjalan beriringan dengan tubuh yang letih. Bisa jadi hal itu difasilitasi oleh gerak badan di atas treadmill yang membakar sekian ratus kalori, setelah berhari-hari tubuh ini tidak berolahraga di atas sarana sport yang digerakkan dengan bantuan tenaga listrik tersebut.

Minggu , 1 September, setelah memimpin Ekaristi di gereja St Paskalis pada pk 06.00 sayaber gegas ke Bandara Soetta. Sdri. Emilia (isteri dari Handi), yang berkediaman di Sunter, menyediakan diri untuk mengantar saya ke bandara.

SINTANG, AKU DATANG (LAGI)
Pada Juli 2012, saya pernah mendampingi retret Suster-Suster Rakyat, SMFA (Suster Misionaris Fransiskan dari St Antonius) di Sintang, Kalbar. Kali ini, 1 September, saya injakkan kaki untuk kedua kalinya di Bandara Susilo, Sintang. Keberadaan saya kali ini terutama untuk memenuhi undangan Keuskupan Sintang dalam rangka Hari Studi para imam, biarawan-biarawati keuskupan tersebut.

Koordinator acara ini, Rm Anyo, menjelaskan kepada saya bahwa acara baru akan dimulai pada Senin sore (2 September) didahului dengan perayaan Ekaristi pk 17.00, yang dipimpin oleh Mgr Agustinus Agus, Uskup Sintang. Pertemuan dilangsungkan di Rumah Retret Bukit Kelam, 20an km dari Sintang.

Dalam Hari Studi ini saya membawakan materi -sesuai pesanan- yang berjudul: PASTORAL GAUDIUM ET SPES: MERAYAKAN 50 TAHUN KONSILI VATIKAN II DAN 20 TAHUN KATEKISMUS GEREJA KATOLIK. Praktis, saya mempresentasikan materi dalam 3 sesi penuh. Seluruh sesi berjumlah 6 (enam) jam.

Hadir dalam Hari Studi ini 78 orang, yang terdiri atas 23 biarawati, 1 frater diakon (calon imam), dan 54 imam (pastor). Sebagian terbesar dari imam itu adalah Pastor Paroki, yang datang dari segala penjuru mata angin Keuskupan Sintang. Pemandangan saya memiliki kesan, bahwa sebagian terbesar dari pastor-pastor itu relatif muda usia. Pemahaman saya akan Sintang diperluas dan diperdalam oleh syering para imam, terutama yang bekerja di pedalaman, jauh dari pusat kota kabupaten.

Imam-imam itu, selain Praja (diosesan), juga berasal dari tarekat SMM dan OMI. Ada dua imam dari Keuskupan Agung Jakarta (Rm Adji Moerdopo dan Rm Ari Darmawan), yang melayani Umat di Paroki Bidau, dekat (dua jam perjalanan menuju) perbatasan Indonesia-Malaysia. Sedangkan, biarawati yang hadir berasal dari SMFA, ALMA, OSU, SdC, PK, dan CP.

Interaksi sepanjang Hari Studi sangat hidup, terutama karena para peserta terlibat aktif dalam hal mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berbobot dan reflektif. Kegiatan ini mendorong saya sekali lagi untuk bertanya pada diri sendiri dalam konteks Persaudaraan kita: Kapan Persaudaraan OFM dalam provinsi ini akan mulai mengadakan hari-hari studi? Apakah tidak adanya hari-hari studi ini mau menyatakan, bahwa ongoing formation tengah berlangsung dengan optimal, terutama dalam komunitas religius kita? Mengapa persaudaraan kita tak juga menyelenggarakan hari studi? *****

Kontributor: Sdr. A. Eddy Kristiyanto, OFM
[/tab][tab name=”Foto-foto”]

Bukit Kelam, Sintang, di kaki bukit ini Hari Studi Keuskupan Sintang diawali dan diakhiri.

Bukit Kelam, Sintang, di kaki bukit ini Hari Studi Keuskupan Sintang diawali dan diakhiri.

Inilah Kubah Katedral Kristus Raja, Sintang. Bagaikan kubah mesjid.

Inilah Kubah Katedral Kristus Raja, Sintang. Bagaikan kubah mesjid.

Welcome to Sintang. Anak-anak pun duduk manis melihat bagaimana pesawat mendarat dan mengangkasa.

Welcome to Sintang. Anak-anak pun duduk manis melihat bagaimana pesawat mendarat dan mengangkasa.

Suasana temu Pelayan (Pemimpin) Komunitas OSF di Griya Assisi, Bandungan, 28-29 Agustus 2013

Suasana temu Pelayan (Pemimpin) Komunitas OSF di Griya Assisi, Bandungan, 28-29 Agustus 2013

[/tab][end_tabset]

Post navigation

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *