Begitu Cepat, Begitu Singkat!

[tab name=’Berita’]

Kamis, 18/10/2012 pukul 18.00 di Rumah Duka RS Sint Carolus. Keluarga besar Fransiskan Jakarta serta seluruh keluarga dan kenalan merayakan Ekaristi bagi keselamatan Saudara Petrus Jehadan, OFM. Saudara Petrus meninggal Kamis dini hari pukul 01.00 lebih tiga menit di ICU RS Carolus.

Begitu singkat, begitu cepat. Selasa, 16/10 Pater Petrus check up di RS Carolus. Rabu siang, ia diantar Pak Bambang (sopir provinsialat OFM) untuk menerima hasilnya. Dokter menerangkan bahwa ia mengalami gangguan pada jantung dan paru-paru. Saat itu juga badan Saudara Petrus serentak melemah. Karenanya ia segera mendapat penanganan di ICU. Alat bantu pernafasan dipasang dan juga berbagai piranti medis lainnya. Ia dinyatakan kritis, paru-parunya tidak lagi berfungsi dengan baik. Pukul 18.00 kondisinya kembali membaik. Beberapa Saudara Muda menjenguknya sore itu. Di Biara Fransiskus, kami memohon kesembuhannya saat vesper (ibadat sore).

Pukul 24:00 Pater Petrus kembali kritis. Satu jam lebih tiga menit setelahnya ia menghembus nafas terakhir. Dini hari, pukul 02:00 di Biara Fransiskus, kami, mendengar berita itu. Pagi harinya, para Saudara membuka brevir dan melantukan mazmur ibadat arwah. Begitu singkat, begitu cepat! Dan menurut Saudara Dedie Kurniadi, OFM, gardian Gardianat Asisi, “Ini mengingatkan kita semua untuk senantiasa waspada!”

Dalam homilinya sore itu, Saudara Dedie mengisahkan kembali peristiwa dua minggu sebelumnya. Saat itu imam kelahiran Paroki Rekas – Labuan Bajo (Manggarai Barat/ NTT) ini memimpin Ekaristi di Gereja Katedral Jakarta dalam rangka penggalangan dana untuk Panti Asuhan Vincentius Putera. Terkait hal itu, Saudara Dedi juga teringat akan komentar seorang ibu. “Menarik, ibu itu mengatakan; ada seorang Romo Fransiskan memimpin misa di Katedral. Orangnya masih muda!”

Ini mengejutkan Saudara Dedie dan berujung pada pengakuan, “memang tak ada yang berubah dengan wajah Pater Petrus. Wajahnya masih seperti beberapa tahun lalu ketika saya bertemu pertama kali dengannya” kenang Saudara Dedi. Tetapi satu hal yang mau dikatakan bahwa, “Saudara Petrus, dalam keadaan sakitnya, masih memberi diri untuk pelayanan!”

Ia telah mempersembahkan diri dalam totalitas pelayanan sebagai Saudara Dina. Di tahun-tahun terakhir ini, dengan segala keluhan (sakit kaki dan sakit perutnya sebagaimana sering dikeluhkannya) ia tetap menerima permintaan pelayanan Ekaristi. Sesekali memang ia menolak jika sakitnya kambuh lagi dan ia harus istirahat.
Gaung sendu senandung Mawar Cinta (TET No.84) dinyanyikan Saudara Muda Jakarta malam itu.

Gugur mawar cinta di bumi persada
taat suci kau dekap
bersuntingkan primiskin
kau ukir pualam kalbu dunia
sudara hadaplah Tuhanmu

Jumat, 20 Oktober tepat pukul 05.30 WIB jenazahnya diantar dengan ambulance bersama iring-iringan mobil pengantar menuju Depok untuk disemayamkan sejenak di Gereja Santo Paulus Depok. Pada pukul 09:00 WIB diadakan misa pelepasan jenazah sebelum diantar ke pemakaman Kali Mulia. Pelayan persaudaraan OFM Indonesia, Sdr. Adrianus Sunarko memimpin perayaan tersebut dengan didampingi oleh Vikarius, Sdr. Peter Aman, OFM, Vikjen Keuskupan Bogor – Rm. Sudarto Pr, Gardian Rumah Biara Depok – Sdr. Taucen Hotlan Girsang, OFM dan teman angkatan almarhum, Sdr. Alfons Suhardi, OFM. Selamat jalan Saudara Petrus Jehadan, OFM. Rest in Peace. Di bulan Maria, dalam usia tujuh puluh dua tahun, Saudari Maut menjemputnya. Ini barangkali mengingatkan kita untuk senantiasa kembali pada tradisi doa Fransiskan, Corona dengan tujuh puluh dua Salam Maria-nya yang konon angka itu adalah usia hidup Bunda Maria. Setelah perayaan ekaristi Saudara Petrus dimakamkan di Pekuburan Kali Mulia, Depok, Jawa Barat.

(Kontributor: Sdr. Johnny Dohut, OFM)
[/tab] [tab name=’Foto-foto’] p-petrus-jehadan-ofm1

p-petrus-jehadan-ofm2

p-petrus-jehadan-ofm3

p-petrus-jehadan-ofm4

p-petrus-jehadan-ofm5

p-petrus-jehadan-ofm6
[/tab][end_tabset]

Post navigation

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *