Belajar Menjadi Fransiskan yang “Seniman”

Fransiskan yang SenimanApa kira-kira seni itu? Ketika hal ini ditanyakan, biasanya orang-orang akan menyebutkan jawaban berupa bentuk-bentuk kesenian, misalnya tarian, lukisan, lagu/kidung, dekorasi indah, patung dan seni rupa menawan lainnya. Ya, semua hal itu memanglah “produk seni”. Namun dalam penghayatannya yang lebih mendalam, seni harus dimaknai secara lebih mendasar dari itu semua. Maka, seni dapat dimaknai keterampilan pribadi mengolah rasa dan ke¬pekaan untuk mencapai keseimbangan hidup dalam semua dimensi (biologis: tubuh, psiko: pikiran-perasaan, sosial: relasi intersubyektif, spiritual: kedalam¬an batin menuju yang Transenden – Ilahi). Jiwa seni bukanlah hal yang hanya patut dimiliki oleh seorang seniman. Namun, setiap orang perlu mengembang¬kan seni mengolah hidup, termasuk bagi seorang saudara dina muda yang senantiasa dalam perjuangan sebagai musafir dan perantau (Wasiat Fransiskus 24) untuk mencari makna hidup dari hal-hal lahiriah dan manusiawinya, menuju peng¬hayatan spiritual berjalan mengikuti jejak Kristus yang miskin dan tersalib melalui teladan Bapa Fransiskus.

Pada kesempatan kali ini, para saudara muda mencoba menggali lebih dalam sisi manusiawi mereka yang sesungguhnya menopang keseluruhan bangunan kristiani dan kefransiskanan. Di bawah bimbingan Sdri. DR. Endang Moerdopo, M.Si, para tunas muda Fransiskan ini hendak belajar memahami dinamika fisik, perasaan, hasrat relasi dan semangat kerohanian mereka. Momen dinamika perasaan ini kami lalui di lokasi Taman Impian Jaya Ancol. Tentu hal ini bukanlah sebuah momen yang biasa dan hanya sekedar “rekreasi” saja. Namun justru di saat seperti inilah, para saudara muda hendak diajak meninggalkan “zona nyaman” mereka, masuk ke dalam situasi “asing” dalam perjumpaan dengan orang yang “asing”, demi mengukur dinamika perasaan dan kualitas pribadi mereka masing-masing dalam momen serafik singkat ini. Akhirnya, seni dan keterampilan mengolah perasaan dalam relasi inilah yang coba dilatih, supaya setiap pribadi bisa belajar survive ketika memasuki “dunia baru” dengan kompleksitasnya sendiri. Dengan begitu, para saudara diminta berkaca pada hidup orang lain yang dijumpai dan sungguh menyapa mereka sebagai saudara.

Akhirnya, berbagai kisah menarik pun menjadi oleh-oleh berharga yang di¬bawa pulang para saudara. Momen perjumpaan dan sharing dengan berbagai orang, mulai dari petugas kebersihan kawasan, para penjual jasa rekreasi perahu, curahan hati sesama pengunjung serta merasakan dinamika perasaan pribadi ketika memandang sepasang kekasih yang asyik bermesraan memadu kasih menjadi sarana bagi masing-masing saudara menggulati dinamika perasaan yang timbul secara alamiah. Seperti yang didengungkan sosok Viktor Frankl, manusia adalah makluk yang sejatinya senantiasa mencari makna dalam kehidupannya. Maka keterampilan memahami dan menghayati perjum¬paan inilah yang seyogyanya bisa membantu seseorang dalam memberi makna pada hidupnya.

Seorang saudara dina yang sehat dan utuh niscaya (perlu) mengembangkan keterampilan memberi makna ini. Seni hidup adalah kemampuan memberi arti yang istimewa dalam hal yang terkesan biasa saat tak direfleksikan. Dalam terang spiritualitas kita, keterampilan/seni mengolah hidup ini merupakan hasil kerja sama antara usaha manusia dengan keinginan untuk memiliki (menangkap) Roh Tuhan melebihi segala-galanya (AngBul Pasal X – Habere Spiritum Domini). Implikasinya jelas, yakni bahwa orang yang matang dan berseni hidup akan mampu menumbuhkan keutamaan manusiawinya, sehingga tidak hanya sekedar bertindak reaktif dan naluriah dalam menyikapi realita yang ada. Konkretnya, jika suatu ketika di masa depan kita diberi kenyamanan dengan tempat tinggal nyaman dan makanan enak berlimpah, saudara keledai (tubuh) tidak begitu saja menerima/melahap tanpa daya kritis hendak menjaga spirit kesederhanaan, apalagi segi kesehatan. Saat nanti banyak pujian kita terima dan banyak orang yang dekat dengan kita karena karya baik yang dilakukan, kita jadi tak terbuai dan merasa diri sombong dan berharga berlebihan. Ketika kita “berpenghasilan” lebih besar dari saudara lain, kita tak jatuh pada sikap merendahkan saudara lain yang kita nilai tidak “seaktif” kita berkontribusi dalam persaudaraan. Semua hal ini memang hal yang tak mudah diwujudkan, bahkan terkesan terlalu ideal. Namun, semua itu bisa diusahakan dengan seni mengolah hidup, dalam memandang realitas dengan kacamata iman yang baik menuju inti panggilan hidup kristiani dan fransiskani kita. Maka akhirnya, kita semua adalah seniman dalam merangkai hidup yang “biasa” menjadi luar biasa karena-Nya.

Kontributor: Sdr. Eduard Salvatore da Silva OFM

Post navigation

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *