Ber-Sepeda Ke dan Dari (Pulau Samadi)

Pada perayaan paskah tahun ini (2015), saudari-saudari Klaris-Pacet kembali mengundang saudara-saudara muda-Jakarta untuk mempersembahkan koor selama perayaan Paskah (Misa Kamis Putih sampai Misa hari raya Paskah). Saudara-saudara muda menanggapi undangan penuh rahmat tersebut dengan hati gembira, seperti Yohanes Pembabtis yang melonjak kegirangan dalam rahim Elisabet ketika dikunjungi oleh Maria, ibu Tuhan. Heheheheh….terima kasih atas undangannya dan kepercayaannya saudari..

Sr. Margaret OSC (Abdis) bersama Sdr. Fery, Sdr. Berman, Sdr. Marciano, Sdr. Rian dan Sdr. Dino berfose di depan Biara Santa Kalara, Pacet.

Sr. Margaret OSC (Abdis) bersama Sdr. Fery, Sdr. Berman, Sdr. Marciano, Sdr. Rian dan Sdr. Dino berfose di depan Biara Santa Kalara, Pacet.

Rabu, 1 Maret 2015, para saudara muda meluncur ke Pacet. Sebagian besar saudara-saudara pergi dengan Commuterline dari Jakarta ke Bogor, kemudian dengan L-300 dari Bogor hingga Pacet. Dan sebagian lain (6 saudara: Sdr. Berman, Rian Safio, Dino Albertus, Fery Kurniawan, Chiko Otor dan Marciano Soares) pergi dengan sepeda-tidak tanggung-tanggung Jakarta-Pacet (pergi & pulang). Menantang. Terlalu berani. Mungkin tidak kalah menantang dari cerita jalan kakinya sdr. Alex Lanur cs tempoe doeloe. Dan juga mungkin setara dengan kisah sepuluh saudara (OFM 3 Orang, OFMcap 2 Orang, OFMcov 5 orang) dari Asisi yang berjalan kaki dari kubur bapak Fransiskus hingga lapangan St. Petrus (6/4/2015). Jauh nggak yah…Sdr.Daniel Nahak pasti lebih tau jaraknya..karena penulis berita ini hanya menerka-nerka…hehhehehehe….tabe pater.

Tidak sedikit saudara yang meragukan kenekatan keenam petualang kedianaan ini. Belum lagi, melihat wajah dekil keenam saudara ini yang tidak menampilkan bahwa mereka bisa menaklukan jalan raya Jakarta-Pacet yang macet dan penuh tanjakan. Berani de meu e…..begitu Sdr. Engkos berkomentar dengan logat Lengko Ajangnya. “Apakah mereka ini mau melangsingkan badan? Nggak mungkin… Badan mereka sudah kurus krempeng kok….Sdr Berman…? Barangkali!” Sdr. Iki bertanya dalam kebingungan dan keheranan di sudut Rumah Scotus sambil menatap kasihan pada wajah innocent Sdr. Dino yang sedang sandar di dinding.

Di tengah bombardir atau hujanan kata-kata bernada keraguan yang juga tereksplisit iba, simpatik, kasihan; Keenam saudara yang penuh dengan jiwa petualangan ini tetap pada pilihan yaitu ke Pulau Samadi (Biara Klaris) dengan sepeda. Pukul 03.00 WIB, keenam Fan bikers meninggalkan kota metropolitan-Jakarta. Tidak ada kendala berkaitan dengan sepeda. Ketika mendekati Cibinong, salah satu personil yang berinisial CO mulai lemah lunglai. Dari mulut mungil dan dengan jujur mengatakan “Saudara, aku tak sanggup lagi memikul (mengayuh) lebih jauh lagi salib (sepeda) ini”. Sdr. Marciano memainkan peran, dalam ingatannya masih tersimpan rapi bahwa di Cibinong ada biara SFS. Segera saja saudara ini melihat RSIA Melania dan menitipkan sepedanya CO dan meminta sdr. CO menggunakan bus ke Pacet. Rejeki datang bertubi-tubi, karena tidak hanya menitipkan sepeda, tetapi di saudari SFS juga saudara keledai dari keenam fan bikers ini mendapat asupan makanan. Dari Cibinong tinggal 5 personil, dan alhamdullilah dalam perjalanan hingga Pacet semuanya selamat. Tiba di Pacet Pukul 02.00 am. Selama perjalanan itu, sdri. Air menjadi penopang tenaga. Terima kasih sdri. Air. Selesailah hari pergi, hari itu hari kamis.

Hari kembali pun tiba. Setelah misa hari raya Paskah, Minggu 5/4/2015, Fan bikers dina harus kembali ke Jakarta. Penuh semangat. Karena selama beberapa hari di Klaris diasupi dengan santapan rohani (ibadat, meditasi, perayaan ekaristi dan buah-buah renungan) dan jasmani yang lebih dari cukup. Dari Pacet pukul 09.00 am dan tiba di Cibinong pukul 03.00 pm. Sebelum berangkat dari Klaris, saudura-saudari klaris sudah menyiapkan bekal yang cukup dan juga terutama doa agar bebas dari mara bahaya dalam perjalanan. Thanks sisters.

Kelima saudara sedang berfose di Puncak Pas.

Kelima saudara sedang berpose di Puncak Pas.

Di Cibinong menunggu Sdr.Chiko yang menggunakan bus dari Pacet dan harus bersepeda ke Jakarta. Tidak membiarkan sdr. Chiko sendirian ke Jakarta. Di sini kembali menyibukan saudari SFS. Mereka sangat tulus menerima kami. Thanks also sisters. Kemudian kami melanjutkan perjalanan dari Cibinong pukul 18.00 dan tiba ke haribaan rumah tercinta Komunitas Padua dan Komunitas Scotus pukul 21.00.

Perjalanan dengan sepeda Jakarta-Pacet dan Pacet-Jakarta sungguh panjang dan melelahkan. Saudara Feri Kurniawan menyebutnya serafik, sebuah tradisi sehat dalam persaudaraan dan biasa dijalankan selama postulat dan novisiat. Benar. Bersepeda yang oleh saudara Feri menyebutnya serafik bukan cari sensasi. Kami bersepakat bahwa bersepeda yang melelahkan dan melewati jalan yang rata namun macet, jalan penuh tanjakan dan tikungan tajam, adalah gambaran suasana dan situasi kehidupan yang penuh warna-warni, baik yang kelabu maupun yang cerah. Segala macam suasana kehidupan itu dan aneka dinamika dalam peziarahan sebagai saudara dina, harus dihadapi dan dilewati. Tidak hanya menganga menatap ketika dihadapkan pada sebuah tabir dan takdir, tetapi harus Fight melewati dan memperjuankannya. ###happy easter brothers……

Kontributor : Sdr. Rian Safio

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *