Berita dari Pulau Samadi

Ceritera dari dalam Biara Santa Klara, Pacet, Jabar

Oleh: Sdri. Bernadette, OSC

Pengantar dari penyalin:

Biara Santa Klara Pacet dan Yogyakarta adalah biara-biara kontemplatip: tertutup dan para susternya tidak diperkenankan berbicara sebagaimana biasanya di komunitas-komunitas para suster. Mereka hanya boleh berbicara seperlunya dan dengan suara lembut. Tidak sembarangan orang boleh masuk ke dalam bagian yang khusus biara mereka. Bahkan bagian itu tidak terbuka juga bagi para wanita yang bukan Klaris, apalagi bagi para pria.

Suster Caecilia, Pacet, berjuang memasang infocus

Suster Caecilia, Pacet, berjuang memasang infocus

Sesudah Konsili, biara St. Klara ini mulai membuka diri dengan menyediakan tempat bagi mereka yang ingin mengadakan retret. Sebagian dari biara mereka direhab sesuai dengan kebutuhan retret itu. Padahal sebelumnya, biara kontemplatip itu sungguh-sungguh tertutup bagi orang luar, baik pria maupun wanita. Di ruang tamu dan kapel pun terdapat kisi-kisi yang memisahkan antara para suster dan para tamu, termasuk imam selebran yang merayakan Ekaristi bagi mereka.

Keterbukaan post konsili itu juga terjadi di antara biara Klaris yang satu dengan biara Klaris yang lain. (Bagi mereka yang belum tahu: setiap biara kontemplatip itu mandiri, artinya: tidak ada biara yang tergantung dari biara yang lain. Gejala biara St. Klara Yogyakarta itu sebenarnya nylenèh, di luar alur yang normal, karena biara St. Klara Yogya dikatakan filial dari biara Pacet. Sebenarnya tidak ada istilah ‘biara filial’ dalam dunia biara-biara kontemplatip). Terjalinlah kerjasama antar biara di wilayah tertentu. Dalam kalangan Klaris Fransiskan (OFM), terdapatlah kerjasama antara mereka yang berada di Indonesia, Philipina, Hongkong, Taiwan, Papua Nugini dan Australia dan menamakan diri assosiasi “Holy Spirit”. Sudah sejak sekitar lima tahun terakhir ini biara St. Klara lebih mempersiapkan diri untuk ikut aktif dalam asosiasi ini, dengan jalan memberanikan diri berbicara dalam bahasa Inggeris. Pernah saya tekankan betul-betul supaya berbicara saja, banyak salah juga tidak apa-apa, tidak ada yang marah dan mempermalukan. Karena itu tidak usah sungkan. “Bahkan ada negara yang seluruh rakyatnya bicara Inggris secara salah. Bahasa kan sekedar masalah kesepakatan. Mereka bersepakat bicara salah, dan lahirlah bahasa baru: Pidjin.”

Di kalangan Klaris Kapusin yang berkembang luas di Indonesia, sudah terbentuklah beberapa tahun yang lalu suatu kerja sama juga. Mereka adalah biara-biara di Sekincau (Lampung), Gunungsitoli, Sikeben (Sumatera Utara), dan Singkawang (Kalimantan Barat). Utusan mereka juga hadir dan memberi perkenalan kepada para peserta pertemuan di Pacet ini.

Demi mengasah keberanian mereka mengungkapkan diri dalam bahasa Inggeris, pernah seorang suster Klaris dari Papua Nugini, Sr. Grace (berasal dari Philipina) menetap setengah tahun di biara St. Klara, Pacet, ini. Dan semua usaha itu telah berhasil. Tidak segan-segan berbuat salah dalam berbahasa Inggris. Hasil yang terbesar ialah berani menjadi tuan (nyonya) rumah pertemuan asosiasi Asia – Pasifik mereka yang bernama “Holy Sprit Association”. Berkat tiupan Roh Kudus inilah mereka berani berbicara bahasa Inggris. Dapat saling mengerti… kendati ada banyak kesalahan. No problem-lah!

Berikut inilah ceritera dari perhelatan internasional mereka yang pertama itu, yang diceriterakan oleh Sr. Bernadette OSC, salah seorang anggota komunitas biara St. Klara di Pacet. Saya lampirkan juga beberapa foto yang menggambarkan suasana pertemuan tersebut. Mohon maaf, karena saya tidak bisa menerakan nama-nama mereka. Para pengunjung yang mengetahui nama-nama mereka, jangan sungkan-sungkan tampil. Selamat menikmati.

O ya, Sekarang ini kalau mereka ditanya “Berani jadi nyonya rumah pertemuan internasional lagi?” pasti mereka serta merta tanpa ragu menjawab “Siapa takut???!!!” Puji Tuhan.

Sdr. Alfons S. Suhardi, OFM. Yang berikut ini dikutip dari majalah OFM “Taufan” edisi Juli 2014, hlm 188 – 195.

Pendahuluan

Mulai tanggal 30 April sore hingga 19 Mei merupakan saat-saat istimewa dan indah bagi seluruh penghuni Pulau Samadi. Inilah saat-saat berahmat, di mana kami berjumpa dan berbagi hidup bersama para saudari yang berasal dari pulau Samadi lain yang berpayungkan semangat Bunda Clara. Saat di mana kami saling mendengrkan dan berbagi berita dan cerita, tertawa dan merasakan kesedihan bersama, saling mengenal satu sama lain, mengenal budaya dan bahasa meski hanya sekilas saja.

07-05-2014: Rabu

Pater Martin dan Suster Annette

Pater Martin dan Suster Annette

Pagi pukul 06.30 acara pertemuan asosiasi “Holy Spirit” resmi dibuka dengan pera­yaan Ekaristi yang dipimpin oleh P. Sunarko, OFM didampingi oleh P. Alfons, OFM, dan P. Martin, OFM. Di awal pera­yaan Ekaristi, para suster yang mewakili komunitas masing-masing membawa pelita bernyala (gelas kaca yang berisi minyak diberi sumbu) berarak dan kemudian meletakkan pelita-pelita itu pada pohon yang telah tersedia di depan meja Altar. Hal ini sebagai lambang gadis-gadis bijak­sana yang tetap setia mempersembahkan hidupnya bagi Kristus.

Dalam homilinya P. Sunarko menyatakan bahwa dunia sekarang ini menawarkan berbagai macam hal yang dapat menggantikan Allah di hati dan pikiran manusia. Orang-orang cenderung menggantikan cinta Tuhan dengan uang, kekayaan, kedudukan sosial dan barang-barang duniawi. Panggilan kita sebagai pengikut-pengikut Kristus: membuat manusia-manusia Allah menyadari bahwa Allah tidak dapat diganti dengan apa pun. Perutusan kita: memberi kesaksian, bahwa Allah adalah yang pertama di atas segala yang lain.

Pada hari ini hingga dua hari ke depan, yakni Rabu 7 Mei sampai Jumat 9 Mei, diisi dengan laporan-laporan mengenai situasi, kegiatan masing-masing biara anggota asosiasi dan kesan-kesan kunjungan Ibu Presiden Asosiasi di masing-masing komunitas selama 3 tahun terakhir sesudah peremuan terakhir di komunitas Campbelltown.

Sebelum acara laporan dimulai, Sr. Annette, OSC – Ibu Presiden Assosiasi menunjukkan kepada kami lambang “Holy Spirit Assosiation” kemudian meletakkannya di atas meja untuk nanti diserahkan kepada Ibu Presiden Asosiasi berikut.

Sebagian dari Para Peserta

Sebagian dari Para Peserta

Laporan pertama dari komunitas Pacet dan Yogyakarta, istirahat selama 30 menit lalu dilanjutkan dengan laporan dari komunitas Hongkong dan Palawan – Philipina. Sr. Sonia membawakan laporannya dengan penuh antusias dan kegembiraan yang disertai dengan slide-slide menarik. Komunitas ini mengusahakan berbagai macam hal untuk menunjang hidup mereka, antara lain:

  1. Memelihara lebah dan menjual hasil madu secara profesional,
  2. Membuat arang dari rumput, tempurung kelapa, daun-daun kering dan dijual; usaha ini didukung oleh pemerintah,
  3. Menanam tanaman obat dan mengolahnya menjadi obat herbal secara profesional dan dijual. Usaha ini juga didukung dan dibantu oleh pemerintah.

Pada sore harinya lapor­an dari komunitas Par – PNG yang membawa ka­mi kepada keprihatinan yang mendalam. Meski­pun kami telah tahu sebe­lumnya hal ihwal kehi­dupan komunitas Par, namun ketika dipresen­tasikan menjadi sesuatu yang sangat hidup dan lain. Ketika selesai mem­bawakan presentasi, Sr. Clemence menerima ung­kapan rasa simpati dari Sr. Annette dan diikuti oleh para suster yang lain. Laporan berikutnya dari komunitas Yenshui – Taiwan.

08-05-2014: Kamis

Hari ini yang mendapat tugas liturgi dari komunitas Campbelltown. Bacaan dibawakan oleh Sr. Catherine dan Sr. Annette sebagai Organis. Pertemuan pagi hari ini melanjutkan laporan-laporan komunitas, yakni dari komunitas Aitape – PNG dan dari Compbelltown. Sore hari kami tidak ada pertemuan.

09-05-2014: Jumat

pulau-samadi-4Laporan pertama hari ini dari tamu asosiasi kami, yakni dari Federasi OSCCap yang memperkenalkan hal ikhwal Federasi OSCCap di Indo­nesia. Laporan terakhir dari Sr. An­nette sebagai Ibu Presiden Asosiasi.

Beliau mengungkapkan kesan saat mengikuti kongres ke II para Ibu Presiden Federasi di Asisi tahun 1212. “Ini pertemuan pertama dan terakhir yang saya hadiri serta meng­alami bertemu dan berbagi pengalaman hidup bersama saudari Claris dari seluruh dunia, meskipun kami berasal dari budaya dan bahasa yang berbeda, namun roh – semangat Clara dalam kesatuan persaudaraan sangat nampak”.

Juga harapan beliau bahwa pertemuan semacam ini dapat diadakan kembali, hal ini menjadi suatu pengalaman yang memberikan energi bagi perjalanan hidup panggilan kami ke depan.’

Dalam laporan selanjutnya beliau memberikan peneguhan dan mengingatkan kembali akan panggilan kami yang mengacu pada laporan dari pater José R. Carballo, OFM dan Mgr. Joao Braz de Aviz saat pertemuan di Asisi.

pulau-samadi-5Kemudian mengenai kesan-kesan selama kunjungan di komuntas-komunitas, serta mengungkapkan adanya hubungn baik yang terjalin di antara para Saudari dengan Saudara Dina dalam setiap komunits; bahkan beliau memuji para Saudara Dina Muda yang terlibat dalam liturgi hari minggu di komunitas St. Clara Yogyakarta: memiliki suara yang luar biasa.

Kecuali di komunitas Par, dilayani oleh komunitas SVD dan didukung oleh uskup setempat yang juga SVD, karena OFM tdak berkarya di Par.

Laporan diakhiri dengan ajakan untuk terus melanjutkan panggil­an kita dalam mengikuti jejak-jejak Tuhan kita Yesus Kristus.

Terimakasih kepada P. Martin dan P. Alfons yang telah meno­long menerjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia dan sebaliknya, selama tiga hari ini.

Pada sore hari diadakan pertemuan intern selama 1 jam yang dilanjutkan dengan Vespere pada pukul 17.00 – 17.30 lalu adorasi hingga pukul 18.30.

10-05-2014: Sabtu

pulau-samadi-6Sr. Grace dari komunitas Par pulang ke Philipina sebelum pertemuan resmi dibuka sehu­bungan dengan berpulangnya kakak Eddy Bacani ke Surga, maka tugas liturgi hari ini dari komunitas Par (Sr. Clemence) dibantu oleh komunitas Aitape. Lagu persembahan dan penu­tup dibawakan dalam bahasa Pidjin.

Pada pagi hari ini hingga dua hari ke depan, kami mende­ngarkan sesi-sesi dari P. Oki Dwihatmanto, OFM. Hari perta­ma merenungkan: relationship among sisters yang mengacu pada hubungan Clara dengan Agnes yang berpusat pada Kristus.

Judul sesi-sesi berikutnya adalah:

  • Following the footsteps of our Lord Jesus Christ.
  • God made himself poor for us in this world: Poverty.
  • Serving the Lord in poverty and humility: Minority.

Dalam setiap pertemuan selalu dia­wali dengan selingan yang mence­riakan para suster yakni bernyanyi dan menari. Sore hari sebelum Vespere diberi waktu selama 1 jam untuk renungan pribadi.

pulau-samadi-712-05-2014: Senin

Dalam perayaan Ekaristi hari ini kami menyanyikan lagu-lagu Cantonese dan diiringi oleh permainan organ Sr. Nicole. Bacaan I dibawakan oleh Sr. Sonia dalam bahasa Kanton, sedang yang lain-lain tetap dalam bahasa Inggris. Di a wal homilinya P. Oki menyatakan keinginannya untuk khotbah dalam bahasa Kanton “namun tak satu kata pun saya tahu”, kata beliau; dan disambut tertawa oleh para suster. Seperti hari-hari sebelumnya pukul 08.30 kami berkumpul di ruang pertemuan. Pagi ini hari ke tiga bersama P. Oki.

Sesi terakhir pukul 10.00 sampai Ibadat Siang, kami menonton film Clara-Fransiskus.

13-05-2014: Selasa

Jadwal kami hari ini adalah tamasya bersama ke Taman Safari, tepat pukul 08.00 kami berangkat. Seharian penuh kami berada di sana. Selain berkeliling dengan bus masuk di lokasi satwa, kami juga berjalan kaki ke tempat-tempat pertunjukan dan berkeliling di lokasi ‘baby zoo’ dan tempat-tempat lain, tak lupa mampir ke Safari Wonder. Sr. Annette dan Sr. Catherine paling banyak membeli souvenir,… wah ternyata pada pagi harinya beliau berdua membagi-bagikan souvenir untuk semua suster dari komunitas Pacet-Yogya. Stella dan saya sendiri loyo sudah … alias mabuk. Sr. Caecilia kehilangan suaranya yang merdu … ini karena angin. Sr. Sonia demam dan disusul oleh Sr. Immanuela meriang pada hari berikutnya. Sr. Anna mengalami sakit pada kaki … lucu sekali … orang rumahan … tak biasa jalan-jalan seharian, sekali jalan … berjatuhan sakit.

14-05-2014: Rabu

pulau-samadi-8Inilah hari istimewa. Dalam rencana harian selama “association meeting” yang dipasang di ruang makan, Sr. Caecilia menulis: “wait and see!”.

Pukul 09.00 kami berkumpul di ruang pertemuan untuk bertemu dengan Mgr. Paskalis, OFM. Dalam pertemuan ini beliau tidak membawakan suatu materi tertentu untuk disampaikan kepada para suster, melainkan untuk berbagi pengalaman.

Diawali dengan pernyataan beliau: “Anda sebagai suster Claris menjadi suster yang penuh kegembiraan Injili sebagaimana dikumandangkan oleh Paus Fransiskus. Tugas anda menyebarkan kegembiraan ini kepada orang lain. Saya mendukung cara hdiup anda yang penuh doa, yang berdoa bagi keuskupan ini. Kalau hidup doa anda baik tentulah akan memberi pengaruh baik bagi sesama saudari dan orang-orang yang datang kepada anda. Anda dapat merefleksikan mengapa terjadi kekurangan calon dan khususnya komunitas Pacet yang tahun-tahun belakangan ini suster-suster muda meninggalkan panggilannya, pertemuan ini merupakan saat-saat kalian dapat berbagi pengalaman hidup”.

Kemudian beliau mensharingkan pengalaman dalam menggunakan “face book” sebagai sarana untuk menyapa orang-orang muda dan yang mendapat tanggapan positif.

Bapak Uskup mengajak untuk coba menggunakan “face book” sebagai sarana dalam memperkenalkan diri dan menyapa kaum muda; apabila memungkinkan juga memperkenalkan cara hidup dan aktivitas kami.

Dari tanggapan para suster terungkap:

  1. Ada komunitas yang karena situasi negara memang memiliki kesulitan dalam menggunakan alat komunikasi.
  2. Di sisi lain, juga situasi yang dihadapi komunitas: jumlah para suster sedikit dan kurangnya calon merupakan kenyataan di setiap komunitas. Situasi zaman sekarang ini banyak gadis dan wanita muda lebih terarah kepada mencari uang. Mereka (para gadis dan wanita muda) tertarik pada cara hidup ini namun menyatakan/merasa berat untuk menempuh/menjalani.

pulau-samadi-9Perayaan Ekaristi hari ini dilaksanakan pada pukul 17.00 dan dipimpin oleh Mgr. Paskalis, OFM didampingi oleh P. Oki, OFM dan P. Widi, OFM dengan dihadiri oleh tamu-tamu undangan. Koor Degung – budaya Sunda – dari anak-anak asuhan P. Haryo, OFM dan Bpk. Eddy memeriahkan perayaan Ekaristi sekaligus untuk memperkenalkan budaya Sunda kepada para Suster anggota assoasi “Holy Sprit” dari negara lain.

Koor Degung inilah sebagai acara yang dituliskan sebagai “wait and see” yang menimbulkan keingin-tahuan para suster tamu anggota assosiasi.

Selesai perayaan Ekaristi anak-anak ini masih memberikan hiburan tari dan lagu untuk kami semua, kemudian dilanjutkan dengan acara makan bersama.

15-05-2014: Kamis

Pagi ini P. Oki didampingi Mgr. Paskalis memimpin perayaan Ekaristi.

Petugas liturgi dari komunitas Aitape. Sr. Rosa dan Sr. Angelica tampil dengan mengenakan baju coklat yang dihiasi rangkaian daun-daun menandakan ciri khas budaya PNG. Lagu-lagu dalam bahasa Pidjin. Sr. Angelica menyanyikan ayat-ayat Mz. Tang. dalam bahasa Pidjin dengan refren yang telah kami hafalkan sebelumnya:

“Bik-pe-la mi singsing amamas long mari-ma-ri hi-long you.”

Artinya: I will sing forever of your love, O Lord.

Saat persembahan mereka berdua menari mengiringi pembawa persembahan roti dan anggur (Saudari Susana – postulan – dan saudari Moniq – novis) dari bagian belakang kapel menuju ke Altar.

Hari ini tepat pukul 08.00 kami berangkat ke Taman Cibodas. Kali ini P. Oki tidak ketinggalan untuk bertamsya bersama kami. Kami melaksanakan Ibadat Siang pada pukul 11.00 di alam terbuka kompleks tama Cibodas lalu makan siang yang disediakan oleh Bpk. Wisnu kenalan dekat kami yang selalu siap menemani kami di saat-saat piknik. Setelah mobil pengangkut makanan kembali ke Giri Kembang – restoran dan hotel milik beliau, kami melanjutkan perjalanan ke Taman Bunga Nusantara.

Dari sana kami menuju Bukit Talita. Ibadat Sore kami laksanakan di ruang pertemuan, istirahat sejenak sambil menikmati hiburan karaoke dengan penyanyi utama P. Oki, OFM. Sesudah makan malam istimewa dari kemurahan Ibu Siska, kami doa completorium di kapel yang kecil dan cantik, lalu say good bye.

16-05-2014: Jumat

pulau-samadi-10Hari ini Sr. Mary Paul membuat kejutan. Beliau yang sehari-hari berbicara dengan suara kecil dan terkesan satu-satu, ternyata dapat menyanyi dengan suara sangat lantang dan jelas hampir mirip dengan penyanyi seriosa. Jadi kami yang kesulitan bernyanyi bahasa Mandarin ikut-ikutan saja. Memang hari ini beliau mendapat giliran tugas liturgi dalam Perayaan Ekaristi.

Hari ini adalah hari pemilihan Ibu Presiden yang baru dan dewannya.

  1. Narko hadir memimpin acara ini dan didampngi oleh P. Oki dan P. Probo sebagai saksi.

Pertemuan daiakhiri dengan penyerahan medali kaca berukir burung Merpati, lambang asosiasi “Holy Spirit” oleh Sr. Annette kepada Sr. Clemence (Par Com) yang mewakili Sr. Grace (Par Com.) sebagai Ibu Presiden Assosiasi terpilih.

Selesai acara pemilihan kami beristi­rahat sebentar dan kemudian dilan­jutkan dengan pertemuan intern.

Ada satu peristiwa yang tak terlupa­kan sesudah santap siang:

Berawal dari kecintaan terhadap batik, beberapa suster minta diantar pergi belanja untuk membeli batik meskipun sudah mendapat hadiah baju-baju batik dan kain-kain batik dari komunitas Pacet. Rencana akan pergi dengan angkot. Entah apa yang dibicarakan antara Sr. Annette, Ca­therine, Elisabeth dan P. Oki karena yang tiba di depan kami adalah 2 sado.

Sr. Angelica sempat menjadi pusat perhatian para pedagang sayuran karena takut-takut dan bingung untuk menaiki sado. Akhirnya berhasil juga naik dan duduk di samping pak kusir setelah tiga kali mencoba naik disertai dg n tawa dan tangis.

17-05-2014: Sabtu

Perayaan Ekaristi pagi ini sebagai penutupan seluruh rangkaian acara pertemuan dari “Holy Spirit Association”. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh P. Sunarko, didampingi oleh p. Oki.

Dalam homilinya, P. Narko mengajak untuk mensyukuri saat-saat bersama di sini dan buah-buah refleksi yang dibuat bersama dan atas kemurahan banyak orang yang telah membantu kita dan membuat pertemuan ini terlaksana dengan baik.

Saat persembahan para suster yang mewakili komunitas masing-masing berarak membawa persembahan yang terdiri dari apa yang menjadi ciri khas negara asalnya disertai dengan bendera dari masing-masing negara.

Acara jalan-jalan terakhir adalah mengunjungi istana presiden di Cipanas dan para suster FMM Sindanglaya.

Pada acara malam rekreasi hari ini para suster menampilkan kebolehan masing-masing. Ada tari ular ala PNG, tari saputangan ala Philipina, tari syukur dari daerah Dayak, juga ada opera ala Yenshui dan Campbelltown.

18-05-2014: Minggu

pulau-samadi-11Hari Minggu pagi ini sudah kembali pada jadwal harian komunitas Pacet.

Sesudah makan pagi acara bebas. Para suster tamu berkemas-kemas. Saya menyempatkan diri untuk menengok kegiatan mereka. Ketika melihat saya, Sr. Nicole sangat girang lalu menggandeng tangan saya seraya berkata dengan bangga: “… look … look…” sambil menunjuk pada jemuran baju-baju. Oh my God … saya kenal betul kemeja batik yang memang bagus yang sedang dijemur itu.

Rupa-rupanya Sr. Nicole belum merasa cukup juga memborong batik di toserba Selamat, kemeja batik yang dikenakan oleh P. Oki saat jalan-jalan ke istana presiden … juga dibeli … gratis. Pantas, … kemarin saya diminta untuk mengambil foto Sr. Nicole bersama P. Oki yang mengenakan kemeja batik tersebut … ooo… ada maunya.

Acara rekreasi malam terakhir dibuat singkat sehubungan ada 4 suster yang harus berangkat menuju bandara besok pagi-pagi buta (pukul 03.00) dan akan dihantar oleh Sr. Margaretha serta Sr. Bernardine.

Setelah para suster berkumpul di ruang makan yang diubah menjadi ruang rekreasi (selama pertemuan ini) kira-kira pukul 19.30, 7 suster dari komunitas Pacet yang masih sanggup bergerak lincah menarikan tarian jaran teji diiringi musik gamelan Yogyakarta (dari CD). MC – Sr. Elfrida memberi penjelasan mengenai tarian itu. Selesai menari para suster ini menyanyikan lagi “Kapan-kapan” … biasa lagunya group band Koes Plus tahun 70-an …, dan sekali lagi MC menerjemahkan. Akhirnya kami pun saling berpeluk-cium disertai mata berlinang-linang … see you … see you in Palawan.

 

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *