Berkeley, Tempat Pengkaderan Mafia? (Bagian 2)

[tab name=”Berita”] Pesawat China Airlines Boeing 744 dengan nomor penerbangan CI 0004 mendarat mulus di Bandar Udara San Francisco. Langit tidak cerah lagi, meski jarum arloji baru menunjuk angka 18.41. Maklumlah, kita sudah masuk musim dingin, sehingga rasanya hari menjadi pendek, dan malam gelap kayaknya sangat panjang.

Jarak 6450 miles antara Taipeh – San Francisco ditempuh dalam sebelas jam sekian menit. Beruntung sekali, penerbangan yang lama dan melelahkan itu menjadi tak begitu terasa karena saya sempat tertidur.

Rombongan Delri dalam penerbangan ini terdiri atas 9 (sembilan) orang. 5 orang duduk di kelas bisnis (eksekutif), 4 orang lainnya di kelas ekonomi. Bersama Pendeta Joas Adiprasetya (STT Jakarta), Bapak Muhammad Antoni (wartawan Senior Kantor Berita Antara), Muhammad Mudhofir (Bagian PKUB), saya didudukkan di klas ekonomi.

Jangan Anda bertanya, mengapa kedua calon pembicara Kristen – Katolik didudukkan berbeda klas dengan kedua calon pembicara dari UIN Sunan Kalijaga (Yogyakarta) dan UIN Syarif Hidayatullah (Ciputat, Jakarta)? Mungkinkah karena dua calon pembicara terakhir ini bukan Guru Besar? Satu hal yang saya tahu dengan sangat baik adalah: saya tidak tahu jawaban yang tepat.

TANPA MENCIUM IBU BUMI
Ada sedikit kekacauan ketika hendak masuk ke bagian imigrasi AS. Pemimpin Rombongan, Bpk. Bahrul Hayat maju dalam baris paling depan. Tapi ia langsung ditolak, karena tidak menyertakan alamat lengkap yang dituju. Tak satu pun di antara kami yang tahu alamat yang mau kita tuju.

Nomor telpon Konsulat Jenderal R.I. di San Francisco tidak kami catat. Alamatnya pun tidak! Semua anggota rombongan Delri mundur sejenak. Semestinya semua tetek bengek ini disiapkan oleh tim Kemlu atau Kemenag. Nomor telpon Bpk. Azis Nurwahyudi dari Kemlu, yang sehari sebelumnya telah tiba di San Francisco segera dihubungi.

Telpon itu tak segera dijawab. “Gandrik galiasem putrane Ki Ageng Sela!” Akhirnya diperoleh alamat ini, IIII Colombus Avenue. Inilah alamat KonJen RI. Dengan demikian kami semua lolos imigrasi AS yang terkenal ketat, meski demikian, konon, tak seketat imigrasi India.

Dua penjemput dari KonJen RI sudah siap menunggu dengan dua mobil yang relatif besar. “American size”. Inilah Tanah Air Paman Sam. Saya tak sempat mencium tanah air ini, layaknya (alm.) Paus Yohanes Paulus II setiap saat mengunjungi suatu negara untuk pertama kalinya. Hal itu karena, “belalai” yang menghubungkan pesawat dengan bumi ini tak menyisakan spasi untuk berlutut dan mencium! Welcome to United States of America!

BOROBUDUR DI SAN FRANCISCO
Mobil yang menjemput kami dari Bandara SFO langsung menuju Resto Borobudur. Kiranya ini hanya salah satu dari Resto Indonesia di kota ini. Di resto ini Bapak Konsul Jendral RI di SFO sudah menunggu bersama beberapa stafnya.

Kami makan masakan yang tidak istimewa di Resto Borobudur ini. Satu hal yang istimewa adalah masakan tidak istimewa itu disantap di tempat dan kota yang istimewa bagi saya dan beberapa rekan rombongan.

Menurut pengetahuan umum saya yang sudah lama tidak diup-grade, San Francisco dulu merupakan wilayah Mexico. Nama-nama kota di dekat San Francisco, misalnya San Jose, Sacramento, memerlihatkan bahwa nama-nama itu berbau Neo-Latin, dan bukan Anglo-Saxon. Tetapi dalam peperangan wilayah-wilayah itu akhirnya diserobot oleh “Amerika Serikat”.

Mungkin penyerobotan itu merupakan jalan terbaik, sehingga wilayah-wilayah itu “makmur” di bawah asuhan negara federasi AS. Tetapi bisa jadi, para Gringos (istilah orang-orang Mexico untuk menyebut orang-orang kulit putih yang perkasa, yang datang dari Utara untuk membikin kekacauan di Selatan) sudah melihat dan memperhitungkan bahwa wilayah-wilayah itu memiliki prospek yang bagus dan strategis. Itulah sebabnya the Gringos terdorong untuk merebutnya dengan kekuatan senjata. Lalu, daerah-daerah itu menjadi bagian tak terpisahkan dari Amerika Serikat.

Setelah makan malam bersama KonJen menandai masuknya kami di USA, kami diantar ke Powell Hotel yang terletak di Cyril Magnin. Hotel ini tidak istimewa. Biasa-biasa saja! Satu-satunya hal yang istimewa adalah letaknya di pusat kota. Waktu check-in di hotel ini kami ketahui bahwa masing-masing anggota rombongan membayar sendiri biaya penginapan 3 malam. Harga inap semalam USD 109 plus pajak 19%.

Satu hal yang segera saya cari dan beli adalah colokan listrik untuk perangkat iPad. Kemudian saya segera mencoba tidur, namun lebih dari 4 jam mata ini punya caranya sendiri untuk tidak harmonis dengan seluruh tubuh yang letih. Inikah yang disebut jet lag (mabuk pasca penerbangan)?

Baru sekitar pukul 4 subuh, saya tertidur, dan segera bangun pk. 8.32. Mengapa? Tempat sarapan di hotel ditutup pukul 9. Hanya dengan cuci muka saya turun ke tempat sarapan a la “Amerika” yang sangat sederhana nian. Muka ini rasanya tebal banget dan masih mengantuk. Saya mencoba untuk tidur lagi, namun tidak berhasil.

Hari itu Hari Minggu terakhir dalam tahun liturgi. Hari “penutupan” tahun iman. Saya tidak ke pergi gereja. Tidak berusaha bertanya di mana gereja Katolik. Tidak mempunyai kenalan orang Indonesia di San Francisco. Kepada Tuhan Sang Pengemban Segala Sesuatu Yang Ada, saya persembahkan seluruh kekurangan, termasuk kesengajaan saya, di tanah rantau ini.

Pada pukul 12 mobil Konsulat Jendral R.I. sudah siap membawa kami keliling kota. Beberapa tempat yang “wajib” dikunjungi tidak kami lewatkan. Di antara program sightseeing ini kami menikmati masakan Jepang. Akhirnya, kami diantar ke hotel dan cari makan malam sendiri-sendiri.

UNIVERSITY OF CALIFORNIA, BERKELEY

Senin, 25 November, Delri dijemput di Hotel Powell pukul 9 pagi. Sebuah mobil yang muat 11 penumpang membawa Delri ke Konsulat RI. Di sini saya mengenal lebih baik Sdr. Anselmus dari Lamba Leda, teman seangkatan Sdr. Saturninus nDaus di Seminari Pius X, Kisol. Dia bekerja sebagai staf lokal KonJen R.I. di San Francisco.

Di KonJen Delri dibriefing oleh Konsul, Bpk. Asianto Sinambela, seorang anggota Gereja HKBP. Macam-macam hal disampaikan dari urusan pekerjaan Konsulat sampai masyarakat San Francisco, termasuk universitas-universitas di wilayah ini. Setelah itu, Delri meluncur ke Universitas California, Berkeley.

Mendengar kata “Berkeley” mungkin kita teringat akan orang-orang tertentu yang “menjadi pembantu R.I. No. 1”. Di universitas yang kami datangi inilah akan digelar diskusi panel tentang “Interfaith Dialogue in a Plural Society”. Di suatu bagian Universitas California di Berkeley itu kami berkumpul. Tidak untuk diformat atau dikader menjadi mafia, melainkan untuk sesuatu yang lain.

Itulah yang akan diceritakan dalam Bagian 3. *****

Kontributor: Sdr. A. Eddy Kristiyanto, OFM
[/tab][tab name=”Foto-foto”]

Salah satu objek wisata, yang selamat dari gempa bumi dahsyat tahun 1902. Saat itu San Francisco rata tanah, kecuali gereja Kristus Pertama ini.

Salah satu objek wisata, yang selamat dari gempa bumi dahsyat tahun 1902. Saat itu San Francisco rata tanah, kecuali gereja Kristus Pertama ini.

 Bersaudara dengan Rektor UIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta, Prof Dr Musa Asy'arie dengan latar belakang Golden Bridge

Bersaudara dengan Rektor UIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta, Prof Dr Musa Asy’arie dengan latar belakang Golden Bridge

Sisi lain San Francisco.
[/tab][end_tabset]

Post navigation

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *