Berlari Ke Sawangan, Atma dan Palingsah

[tab name=’Berita’]

Hari-hari di Desember 2012 terasa berlari cepat. Perasaan ini terutama karena kecintaan akan kehidupan di dunia ini yang mesti dipertanggungjawabkan. Salah satu caranya adalah menempuh hari-hari hidup ini dengan kegiatan yang bernilai dan berdaya guna. Hal ini bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga dan terutama bagi sesama.

Tuturan berikut mengisahkan tiga aktivitas yang bertautan, dan yang selalu berhubungan dengan sesama. Ketiga aktivitas itu terkait Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Universitas Katolik Indonesia Atmajaya, dan Paguyuban Lingkaran Sahabat (PaLingSah) Sukup Ignatius Suharyo.

SAWANGAN

Para sekretaris Komisi Lembaga Sekretariat dan Dewan (KLSD) yang berjumlah belasan mengadakan Rapat Kerja pada 3-6 Desember. Tempat acara ini sangat nyaman, yakni Sawangan Golf Resort. Panoramanya asri, karena ada kombinasi yang pepak: danau, lapangan hijau, pepohonan, track untuk jalan kaki, kolam renang, dan lain sebagainya.

Dalam rapat kerja ini hadir Sekretaris Jendral KWI, Uskup J. Pujasumarta. Pada kesempatan pertama dihadirkan Bp. J. Kristiadi dari LIPI yang menyampaikan peta dan suasana politik kekuasaan menjelang 2014. Hal ini perlu disampaikan mengingat pada tahun 2013 akan banyak kegiatan di Bumi Indonesia yang dipandang berhubungan dengan hajat demokratis 2014.

Di Sawangan para Sekretaris KLSD, termasuk penulis reportase ini yang membidangi Komisi Teologi, menyampaikan program kerja dan kemungkinan kerjasama lintas KLSD. Ancang-ancang program kerja ini terutama berjangka waktu satu tahun (2013).

Satu hal yang menandai sangat kuat Gereja Semesta pada tahun 2013 adalah TAHUN IMAN. Oleh karena itu, evangelisasi (baru) yang digaungkan dalam Sinode Uskup-Uskup Sejagad, 3-28 Oktober 2012 di Vatikan, sangat menjiwai KLSD dalam menyusun program kerja.

Fasilitas hidup sehat di Sawangan Golf Resort memungkinan para sekretaris KLSD untuk refreshing. Salah satu cara terbaik refreshing di sini adalag olahraga. Maka itu. Sejak pukul 04.30 terlihat ada aktivitas sport yang dimaksudkan untuk menjaga kebugaran tubuh (dan jiwa). Aktivitas ini tentu mendahului Ibadat Pagi dan Ekaristi bersama.

ATMA

Mengingat 6 Desember adalah hari terakhir kegiatan belajar-mengajar di Atmajaya (pra UAS), maka dari Sawangan saya langsung menuju ke universitas Atmajaya. Di sini ada 19 mahasiswa yang menanti muatan tatap muka terakhir.

Tatap muka ini dimaksudkan untuk mengganti ketidakhadiran dosen Sejarah Gereja. Dengan kehadiran ini maka seluruh tatap muka selama satu semester berjumlah empat belas, inilah jumlah minimal yang harus dipenuhi oleh setiap dosen.

Tatap muka kali ini terasa paling lama, karena berlangsung dari pk 14.00-17.30. Tetapi senyatanya tatap muka ini hanya berlangsung hingga pk 17.10. Mengapa? Karena dosen kehabisan tenaga dan minta diri.

Tidak seperti biasanya, kedatangan ke dan kepulangan dari Atmajaya ditempuh dengan Vespa Tua warisan P. Rijper OFM, kali ini segala sesuatunya khusus. Karena dosen ilmu Sejarah Gereja memberikan kisi-kisi UAS. Inilah yang dinanti-nantikan para mahasiswa.

Tetapi kekhususan kali ini terletak dalam sarana transpor. Dosen Sejarah Gereja menuju tempat tinggalnya di. Pastoran St. Paskalisdengan menggunakan jasa Trans Jakarta. Ditinggalkannya Kampus Atmajaya pada pk 17. 20 dan masuk Pastoran Paskalis pk 20.15.

Seandainya budaya transpor seperti ini menjadi konsumsi harian sebagian besar warga Ibukota, siapa yang akan bertahan bertahun-tahun? Oleh karena itu, keterpaksaan “orang-orang kecil” dengan memakai motor atau kendaraan roda dua, merupakan cara terbaik. Inilah solusi mujarap sampai saat ini untuk melawan arus macet di Ibukota.

PALINGSAH

Pada mulanya adalah Bp A.Kunarwoko yang menghubungi saya. Beliau meminta kesediaan untuk mendampingi Bapak Uskup Ignatius Suharyodalam satu rangkaian acara: talk show disambung Ekaristi.

Acara itu berlangsung pada Hari Raya Santa Maria Dikandung Tanpa Noda Asal, 8 Desember, di Bintaro, di kediaman Keluarga Kaduha. Acara ini diprakarsai oleh Palingsah, yang anggota-anggotanya adalah lingkungan dekat Uskup Agung Jakarta. Umumnya mereka adalah teman-teman Bapak Uskup di Seminari Mertoyudan (dulu) yang tinggal di Jakartadan sekitarnya, bahkan ada yang tinggal di Bandung.

Acara talk show ditiadakan karena para pembicaradatang sangat terlambat. Sekali lagi, keterlambatan itu disebabkan oleh kemacetan jalanan menuju Bintaro. Sesungguhnya pembagian talk show sangat transparan, satu berbicaratentang Konsili Vatikan II, yang lain bicara tentang pengalaman Sinode Para Uskup, 3-28 Oktober di Vatikan yang baru saja berlalu.

Kegiatan Paguyuban ini terasa sangat bermanfaat, bukan saja bagi anggota dan keluarganya, tetapi juga bagi masyarakat warga. Mengapa? Karena perjumpaan antar-anggota bermakna saling meneguhkan dalam keras dan ganasnya perjuangan hidup di Jakarta. Selain itu, anggota paguyuban ini juga menyampaikan pandangan, pertimbangan bagi Pimpinan Gereja Lokal.

Bisa dipastikan, bahwa Bapak Uskup KAJ sendiri memandang adanya dukungan konkret dari paguyuban inidalam konteks penggembalaan. Paguyuban ini juga sebentuk Kelompok Kategorial, bahkan Kelompok Umat Basis yang anggota-anggotanya saling meneguhkan. Pada gilirannya, Palingsah juga berbakti sosial.

Akhirnya, rangkaian kegiatan di Sawangan, Atmajaya, dan Palingsah memperlihatkan dinamika hidup orang-orang beriman. Beginilah cara-cara elegan mempertanggungjawabkan iman-harapan-kasih. *****

Kontributor: Sdr. A. Eddy Kristiyanto, OFM
[/tab][tab name=’Foto-foto’]

[/tab][end_tabset]

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *