Carita dan Kisahnya

carita dan kisahnyaKapitel Rumah Formatif St. Antonius Padua- Rawasari, Selasa 12 Mei 2015 memutuskan untuk rekreasi akhir tahun di Pantai Carita. Waktu pelaksanaan direncanakan pada tanggal 22-24 Mei 2015. Rencana rekreasi akhir tahun ini sebenarnya sudah di rencana sejak tiga tiga tahun lalu, namun dalam waktu dua tahun yang telah berlalu selalu gagal dieksekusi, demikian kesaksian seorang saudara senior yang enggan disebut namanya.

Agenda dalam rekreasi akhir tahun ini adalah evaluasi komunitas, evaluasi diri dari setiap saudara dan hari raya Pentekosta. Untuk kelancaran dan terlenggaranya kegiatan itu kapitel juga memutuskan untuk membuat panitia khusus (pansus). Beberapa hari setelah kapitel dibentuklah pansus tersebut. Semua saudara ikut tergabung dalam pansus tersebut. Ada yang menjadi panitia konsumsi, transportasi, rekreasi, penginapan, liturgi, dan olah raga.

Hari yang telah ditentukan pun tiba. Semua perlengkapan sudah dibereskan. Saudara-Saudara sudah siap baik jasmani maupun rohani. Namun ada sedikit yang mengganjal, hari itu juga telepon rumah Padua berdering, ternyata ada kabar dari Rumah Singgah, seorang pasien (oma Tira) dijemput saudari maut. Karena tugas dan tanggung jawab, dua orang saudara (sdr. Didi dan Sdr. Marciano) batal ke Carita. “Biar kami rasakan indahnya Carita dari jauh saja dan dengan mengantar Oma Tira ke liang lahat dengan baik, kami sudah merasakan Charita”, begitu penulis berita ini menebak perasaan kedua pelayan inti Rumah Singgah ini. Pukul 06.00 pm, kami meninggalkan rumah kami yang tercinta menuju Carita dengan Teronton dengan label yang sangat jelas “ Tentara Angkatan Laut” (harap dimaklum, mobil sewa…hahahah..tapi labelnya itu membuat orang segan….). Hembusan angin malam yang masuk lewat ventilasi mobil yang terbuka lebar menemani perjalanan hingga di Carita. Saudara-saudara juga tidak vakum. Ada yang terkagum-kagum melihat malam harinya Jakarta “ole….ternyata seperti siang kalau malam hari di Jakarta ini e..demikanSdr berinisial FH bergumam ketika melihat Jakarta yang dihiasi dengan lampu yang terang benderang”. Sementara Sdr. Mus memimpin padua suara, untuk memecahkan keheningan malam dalam mobil. Lagu-lagu era Siti Nurbaya ternyata masih hafal oleh sauduara yang akan berkaul kekal ini. Saudara-Saduara lain juga ikut menyanyi. Pada mulanya suara masih terdengar merdu tetapi kemudian semuanya menjadi penyanyi rock. Sdr. Damas pun memofifikasi suaranya sehingga kedengaran seperti penyanyi rock. Neka rabo ge sdr….. Carita pun digapai ketika jam menunjukkan pukul 11.00 pm. Semua saudara masih semangat. Sehingga tiba di sana langsung dilanjutkan dengan main tenis meja. Bergantian para saudara bermain sampai kamudian masing-masing mencari kamar untuk memanjakan saudara keledai dan mengalami euforia mimpi di Carita.

24 Mei adalah hari kedua di Carita. Ketika sang raja siang muncul di ufuk Timur, para saudara bangun dari tidur. Di meja makan sudah tersedia nasi goreng racikan mas Eddy. Para saudara melahap nasi tersebut dengan penuh syukur pada saudari bumi dan penuh solider dengan orang miskin dengan melahap habis nasi tersebut, sampai tidak ada yang terbuang. Sarapan pagi selesai kemudian dilanjutkan dengan ibdat pagi. Setelah ibadat para saudara masuk dalam salah satu agenda inti yaitu evaluasi baik komunitas maupun diri pribadi setiap saudara. Rapat evaluasi dipimpinoleh Sdr. Virgi, sang ketua rumah. Dalam evaluasi komunitas, setiap seksi melaporkan kinerja masing-masing selama setahun. Dari laporan tersebut ada yang patut diapresiasi dan ada yang harus segera dibenahi. Sedangkan pada evaluasi pribadi, setiap saudara diberi kesempatan untuk mengatakan tentang dirinya: kegalaunnya, kegembiraannya, harapannya dalam jalan hidup fransiskan ini. Rapat evaluasi ditutup dengan santap siang. Menu kali ini adalah ikan kuah. Enak. Setelah itu para saudara menikmati suasana di bibir pantai Carita. Di bibir pantai Carita terjadi dialog penuh makna antara Sdr. Damas Dan Sdr. Darmin. “Sdr.Darmin: Mas (sapaan akrab oleh Sdr. Darmin untuk Sdr. Damas), mari ke bertolak ke tempat yang lebih dalam. Sdr. Damas: (sambil menceburkan diri ke air laut yang dalamnya sekitar satu meter) Ah..aku di sana saja...Di sini juga ada kedalaman.”

25 Mei, hari raya Pentekosta. Rangakaian kisah di Carita disyukuri dengan perayaan Ekaristi.Sdr. Darmin ditunjuk sebagai selebran. Perayaan Ekaristi dikemas secara sederhana, namun tidak mengurangi maknanya. Dalam renungan yang dibawakan dalam metode narasi permenungan pribadi Sdr. Darmin di bibir Pantai Carita, ada lima hal yang ingin direnungkan yaitu Carita (cinta), roh daging, roh kebenaran, rekreasi, dan formatif. Setelah perayaan ekaristi dilanjutkan makan untuk terakhir kali di Carita.

Walau pun Carita masih menarik untuk dinikmati, Padua tetap lebih menarik. Lebih baik satu hari di Padua dari pada 1000 hari di tempat lain. Warga komunitas Padua pun harus kembali ke Jakarta. Meninggal keindahan pantai Carita dengan segala kisahnya untuk terus melanjutkan formasi diri untuk semakin menjadi Fransiskan yang “dina dan saudara” di zaman ini. Sebelum belum tak lupa untuk mengabadikanya dalam bentuk gambar. Sayonara for you Carita….Carita lenyap dari pandangan mata, tetapi di dalam hati saudara-saudara membara semakin membara semangat untuk menjadi fransiskan dan juga terutama untuk UAS di awal bulan Juni. Tiba di pangkuan ibunda rumah Padua pukul 08.00 pm. Di sambut dengan wajah ceria dari dua orang Saudara yang terpaksa harus menjaga rumah. Terutama Sdr. Marciano yang hari itu merayakan hari ulang tahunnya. Sementara Sdr. Didi masih agak murung, mungkin karena masih bergumul dengan perasaan rindu pada Oma Tira yang sudah di liang lahat.

Bagi seorang musafir dan perantau, kebahagian, kegembiraan, sukacita, dsb bukan pertama-tama dialami ketika dia bersama yang lain pergi ke suatu tempat yang menyenangkan dan tentu sifatnya hanya euforia semata. Bagi mereka, momen berkumpul bersama, saling bertukar pikiran, saling berbagi pengalaman, dan memberikan kualitas pada setiap perjumpaan tentu memiliki makna kedalaman magis yang tidak terlupakan dan senantiasa dikenang dalam rangka memformasi diri. Itulah yang kami rasakan sebagai anggota komunitas formatif St. Antonius Padua. Rekreasi juga tidak hanya sebagai tempat saling mengutarakan apa yang ada di dalam hati setiap saudara, tetapi juga menjadi tempat locus theologicus. Mengapa kami mengatakan itu? Karena kami (komunitas Padua) diajak untuk menghargai alam semesata yang diciptakan oleh Allah bagi umat manusia. Tidak sampai pada bentuk penghargan tetapi setiap saudara berkewajiban untuk merawat dan menjaga kelangsungan hidup alam semesta ini dengan sikap saling melayani sebagai sesama saudara dan saudari; antara saudari ibu pertiwi dengan saudara manusia.

Kontributor: Sdr. Rian Safio & Sdr. Miko B

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *