Catatan Hari Keempat Kapitel Provinsi, 25 September 2010

Hari ini, Sabtu, (25/09), peserta kapitel lagi-lagi masuk dalam diskusi yang serius. Sesuai agenda untuk hari keempat, topik pembicaraan secara khusus membahas laporan tentang karya-karya persaudaraan.  “Bagaimana kita mengimplementasikan nilai-nilai fransiskan dalam karya?” Ini menjadi pertanyaan yang selalu muncul dalam diskusi. Selain itu, pemikiran perihal strategi-strategi baru dalam berkarya juga menjadi topik yang laku dibicarakan.

Sejak pagi, pkl.08.00 para kapitularis bersama-sama mendengar laporan tentang karya persekolahan yang disampaikan oleh Sdr. Ferry Suharto dan didampingi Ketua Yayasan St. Fransiskus-Jakarta, Sdr. Bimo Prakoso serta Ibu Maya, selaku sekertaris Yayasan. Ibu Maya, seorang volunteer yang sudah lama bekerja sama dengan persaudaraan fransiskan, mengapresiasi pilihan ordo untuk menjadikan karya persekolahan sebagai sarana penanaman nilai-nilai fransiskan. Salah satu hal konkret yang memang sudah lama diupayakan adalah melayani anak-anak dari golongan masyarakat menengah ke bawah sekaligus memperhatikan pendidikan nilai di sekolah.

“Namun, hal yang juga senantiasa perlu diupayakan adalah peningkatan sumber daya tenaga pengajar, totalitas pelayanan serta sumbangan pemikiran dari semua saudara. Hal-hal ini dibutuhkan untuk meningkatkan mutu sekolah-sekolah kita”, tandas ibu Maya yang secara khusus datang dari Jakarta untuk menyampaikan laporan sekaligus sharing tentang pengalaman kerjasamanya dengan para fransiskan.

Diskusi berlangsung sangat seru. Sdr. Robby Wowor, sebagai fasilitator pada sesi ini terpaksa membatasi waktu diskusi pada pukul 10.05 karena sudah melewati limit waktu yang ditentukan sebelumnya. Setelah jeda sejenak sambil menikmati snack di kamar makan, pkl. 10.30 peserta berkumpul lagi. Kali ini, giliran Sdr. Gabriel Maing dan Sdr. Dedie Kurniadi yang memberikan laporan tentang karya Panti Asuhan dan Asrama. Pokok-pokok yang dibicarakan merupakan evaluasi terhadap kinerja dan pengelolaan panti (Vincentius Putra – Jakarta serta St. Yusuf – Sindanglaya) dan asrama (Tentang) sekaligus refleksi perihal cara berkarya. Ini kemudian menjadi patokan dalam menyususn strategi-strategi selanjutnya.  Karya-karya parokial, yang merupakan karya terbesar persaudaraan dilaporkan pada sore hari, pukul 16.00. Sdr. Laurens Tueng dan Sdr. Agung Suryanto menjadi pembicara pada sesi ini dengan fasilitator Sdr. Ignas Wagut.

Usai makan malam, pertemuan berlanjut. Saudara Pudi yang selama ini berkarya di Sentul membagi pengalamannya sebagai petani. Sdr. Anton Padmono yang juga memilih menjadi petani dan menetap di Cianjur Selatan ikut mensahringkan pengalamannya. Meski kedua saudara ini tinggal sendiri-sendiri, tetapi setiap akhir pekan mereka kembali ke komunitas untuk bergabung bersama saudara lain. Usai mendengarkan “sharing dari hati ke hati” dengan Sdr. Pudi dan Sdr. Anton, sebagian besar peserta kembali ke kamar masing-masing. Sedangkan anggota Steering Commitee berkumpul untuk membahas pokok-pokok yang penting untuk didiskusikan lagi.*** (rdgr)

laporan-karya-parokiLaporan karya paroki Sdr. Agung (kanan) & Sdr. Laurens (tengah).

laporan-tim-karya-asrama-dan-pantiLaporan tim karya asrama dan panti Sdr. Gabriel (kiri) & Sdr. Dedie (tengah).

laporan-tim-karya-persekolahanlaporan-tim-karya-persekolahan Sdr. Ferry (tengah), Sdr. Bimo (kanan), Ibu Maya (kiri).

sdr-eddy-sedang-menanggapi-analisa-karya-persekolahanSdr. Eddy sedang menanggapi analisa karya persekolahan.

sharing-karya-alternatif-sdr-antonSharing karya alternatif Sdr. Anton.

sharing-karya-alternatif-sdr-pudiSharing karya alternatif Sdr. Pudi.

Post navigation

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *