Dari Teologi ke Sekolah yang Berpihak

[tab name=”Berita”]

Selama sepekan Komisi Teologi Konferensi Waligereja Indonesia (Komteo KWI) mengadakan rapat kerja tahunan. Tempat berlangsungnya raker adalah “Alamanda Retreat House”, Bukit Doa, Kakaskasen, Tomohon, Sulawesi Utara.

Komisi mengatur perjalanan raker sesederhana mungkin, meski tetap menjaga muatan pembicaraan yang berdayaguna. Para peserta mulai berdatangan di tempat raker pada Senin, 23 Juli 2012 dan meninggalkan tempat pada Sabtu, 28 Juli 2012.

Dari Bandar Udara Soekarno-Hatta, Cengkareng, berangkatlah pada 23 Juli empat anggota Komteo KWI. Mereka itu adalah Mgr. FX Hadisumarta OCarm, S.r M.Henrika FSGM, Romo Adrianus Sunarko OFM, dan saya (Eddy K, OFM).

Sdr. Mateus berbaik hati dengan menawarkan diri untuk menemani kami hingga Bandara Soetta dengan terlebih dahulu menempuh rute Kramat V – Soeprapto – Bangunan Barat, tempat seorang FSGM yang menjadi anggota Komteo KWI menginap.

Perjalanan ke Manado berjalan lancar dengan transit sekali di Bandara Sultan Hasanudin, Makassar, Sulawesi. Kami mendarat di Bandara Sam Ratulangi, Manado pada pukul 14.45. Ini berarti 15 menit terlambat dari waktu yang dijadwalkan. Ketiga anggota Komteo KWI langsung menuju Bukit Doa, Kakaskasen dengan taksi berbiaya 150 ribu Rupiah, sedangkan saya menginap semalam di Komunitas DSY (SMSJ), Lotta. Seorang suster, Sr. Constansia namanya, menjemput saya di bandara.

Setelah melakukan urusan seperlunya di Lotta, Selasa, 24 Juli, saya diantar oleh RD Julius Salettia, pada pukul 8 diantar ke Bukit Doa untuk bergabung dengan anggota Komteo KWI lainnya.

BERBAGI

Pada Selasa sore rangkaian pertemuan dimulai dengan perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Ketua Komteo KWI, Mgr. Petrus B Timang. Raker tahunan ini dihadiri oleh semua anggotanya, yakni Mgr. Petrus B Timang, Mgr. Anicetus B Sinaga, Mgr. FX Hadisumarta, Sr. M Henrika, RP Adrianus Sunarko, RP Leonardus Samosir, RD Vincentius Indra Sanjaya, RP Mateus Mali, RP Raymundus Sudhiarsa, Sr. Inosensia Loghe Pati, RP Paulus B Kleden, RD Octavianus Naif, RD Neles Tebay, RD Julius Salettia, RP William Chang Jit Mieu, dan saya. Hanya satu anggota Komteo KWI yang tidak hadir, yakni RP Kornelus Sipayung, wakil dari STFT St. Yohanes Rasul, Pematangsiantar, Sumut.

Evaluasi bersama, syering, diskusi, perencanaan langkah bersama, dan berbagi gaudium et spes, penyampaian pandangan kritis dan pastoral mewarnai seluruh sesi-sesi raker. Kami mengemukakan pemandangan – karena ditugaskan oleh Presidium KWI – berkenaan dengan karya-karya KPKIB (Kelompok Pelayanan Kasih dari Ibu yang Berbahagia), yang pernah didampingi oleh (alm) Mgr Isaak Doera. Beberapa buku, selebaran, dan surat-surat yang berhubungan dengan kelompok itu kami telaah dari segi pandang teologis (-pastoral).

Kami juga memberikan pertimbangan-pertimbangan berkenaan dengan Surat Apostolik “Porta Fedei” (Pintu kepada Iman). Konkretnya: apa saja yang dapat dilakukan dalam rangka Tahun Iman (mulai 11 Oktober 2012) di tingkatan Konferensi Waligereja, Keuskupan, dan Paroki.

Tiga sesi kami pakai untuk presentasi, penjelasan, diskusi, penyempurnaan naskah yang akan diterbitkan dalam tahun 2012 ini. Buku ini berhubungan dengan Dokumen-dokumen Konsili Vatikan Kedua. Sasaran publikasi ini adalah pemuka jemaat, katekis, umat Katolik yang terutama tidak berkesempatan mengenyam pendidikan teologi. Itulah sebabnya pola penyajian naskah ini dibuat sesederhana mungkin, agar sosialisasi atas Vatikan Kedua mencapai sasarannya.

Apa saja yang akan Komteo KWI kerjakan dalam setahun ke depan ini juga menyita perhatian hadirin. Hal ini berhubungan dengan penerbitan buku yang diharapkan nantinya “go international”. Ditengarai bahwa sumbangan pemikiran dan refleksi teologis khas Indonesia mengesankan tidak dikenal oleh dunia di luar Indonesia. Hal ini kemungkinan sangat besar dipengaruhi oleh “bahasa yang dipakai para teolog untuk mengekspresikan alam pikiran mereka”. Ada mimpi yang semakin mendekati kenyataan untuk menyebarluaskan refleksi teologis khas Indonesia dalam Bahasa Inggris.

Tetapi baik pula untuk dikerjakan, yakni seminar dan workshop yang dimaksudkan untuk mempertajam, memperkaya karya teologis yang sudah direncanakan. Topik hangat tentang multikulturalisme yang dikaji dari pelbagai disiplin ilmu dapat dijadikan wahana untuk menegaskan suatu wawasan baru teologi di Indonesia.

Ada kesempatan pula bagi Sekretariat Komteo KWI untuk melaporkan apa yang sudah dan yang akan dikerjakan dalam kaitannya dengan kerjasama di dalam Sekretariat Jendral KWI. Termasuk dalam rangkaian sesi raker adalah presentasi draf statuta atau lebih tepat Catatan tentang Kebiasaan-kebiasaan Sehat Komteo KWI.

OUTING

Kami berkesempatan pula “outing”, sekedar jalan-jalan untuk melihat beberapa “khazanah” Minahasa-Kawanua: menghirup udara segar di kawasan Danau Berwarna, Linow, menikmati desiran angin dengan seruputan kopi, juice, teh, dan hidangan pisang goreng plus sambal. Kami juga memberikan mata pada rancangan rumah kayu di Woloan. Bukan rumah kayu yang qmenarik perhatian saya, melainkan kata “Woloan”. Kata ini pernah dicatat oleh Achilles Meersman dalam Franciscans in the Indonesian Archipelago, Leuven 1967. Kata itu berkaitan dengan kehadiran misionaris dan warga wilayah setempat yang menjadi sasaran penginjilan.

Sebelum senja tiba kami mengunjungi Lembaga Pendidikan yang dimiliki oleh pemodal Keluarga Ronal Korompis-Wewengkang. Kompleks SMA-SMP St Nikolaus, yang dikenal dengan Sekolah Lokon, sangat luas. Terletak di suatu lereng Gunung Lokon. Sarana prasarana Lembaga Pendidikan ini terbilang mewah. Kesan saya, sekolah ini bukan untuk orang miskin. Sebab rata-rata keluarga siswa merogoh koceknya dan membayar 4,5 juta per bulan all in. Maksudnya: biaya itu untuk ongkos sekolah, uang asrama (biaya akomodasi), dan segala sesuatu yang berhubungan dengan formasio.

Setelah mendengarkan dengan saksama penuturan Bp Ronal Korompis dan melihat dari dekat Sekolah Lokon hati saya tertambat bukan pada Sekolah Lokon yang elit dengan segala prestasinya, melainkan Sekolah Kemasyarakatan Ndoso di Tentang yang dikelola oleh para Fransiskan (OFM). Ada proses belajar-mengajar, ada asrama, siswa-siswi membayar sangat murah, ada semangat untuk meraih ilmu, dedikasi para Fransiskan yang tidak mau bermata bisnis dan enterpreneur.

Ini baru artinya sekolah yang mencerdaskan dan berpihak. Visi dan misi tntang sekolah yang benar-benar membebaskan telah diemban oleh para Fransiskan di Ndoso. Mencerdaskan dan membebaskan anak-anak dari keluarga miskin itu lebih sulit daripada memintarkan dan menjuarakan anak-anak dari keluarga kaya dan beruang. Para Saudara Fransiskan di Ndoso tengah menjadi kepanjangan tangan Allah untuk menyelenggarakan mukjizat. Apa yang dirindukan oleh Paulo Freire, yang mengungkapakan gagasannya dalam Paedagogy of the Oppressed, telah diwujudkan oleh Sekolah Kemasyarakatan Ndoso, bukan oleh Sekolah Lokon! (Fr. A. Eddy Kristiyanto, OFM)

[/tab][tab name=”Foto-foto”] komisi-teologi-2
komteo-kwi-juli-12
komisi-teologi
[/tab][end_tabset]

Post navigation

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *