DELRI-SFU Gandengan (Bagian 6)

[tab name=”Berita”]

Sebelum mengadakan kunjungan ke tempat-tempat suci di Vancouver, Delri dan wakil SFU mengawali hari baru, 28 November, dengan sarapan di suatu ruang, kampus SFU. Di bagian akhir waktu sarapan ini, Derryl MacLean meminpin pembicaraan. Maksudnya, menemukan simpul-simpul pengikat yang akan ditindaklanjuti setelah lawatan Delri ke SFU ini.

Akan dipelajari secara serius kemungkinan studi keindonesiaan di SFU, yang berarti ada kerjasama SFU dengan pihak Indonesia (dalam hal ini Kemenag) yang akan berkoordinasi dengan sejumlah lembaga pendidikan tinggi di Indonesia. Kemudian, akan diselenggarakan summer course untuk belasan mahasiswa Indonesia ke SFU (catatan: selama ini summer course diselenggarakan “abidin” -atas biaya dinas Kemenag- ke Australia, Jepang, Korea), diselenggarakan dialog ilmuwan dan workshop yang membahas isu gender dan multikulturalisme. Direncanakan dialog dan worshop ini akan berlangsung Agustus 2014 di Indonesia. Lalu, dijajaki kemungkinan adanya beasiswa bagi mahasiswa Indonesia ysng hendak mendalami Islam dan kebudayaan di SFU.

Kiranya -ini penafsiran saya- pokok terakhir ini merupakan siasat SFU untuk menarik Indonesia pada dirinya, mengingat selama ini mahasiswa Indonesia yang mendalami Islam di Canada, hampir selalu berlari ke McGill University, Montreal, Quebec (Universitas dengan 11 fakultas dan terbaik di Canada, dengan hampir 40 ribu mahasiswa).

Canada tentu terus berusaha agar diminati oleh Indonesia, terutama dari jalur pemerintah. Sebab orang-orang sipil Indonesia lebih menyukai studi di Amerika Serikat daripada di Canada. SFU sebagai universitas yang relatif baru, yang didirikan pada tahun 1965 dan bermotto “nous sommes prets” (kami semua siap), memang terus bebenah demi menjadi perguruan tinggi yang menawan karena kualitas-tingginya.

Tentu saja, kerjasama SFU dan Indonesia ini tidak dapat menutup mata atas kehadiran Delri dalam sosok dua UIN, STT Jakarta, STF Driyarkara. Oleh karena itu, keempat lembaga ini akan terus berkontak dan bersinergi untuk mengawasi terwujudnya tindaklanjut tersebut, yang sudah barang tentu dengan keterlibatan empat pendidikan tinggi tersebut.

Hanya hati kecil saya mendambakan pokok berikut ini. Dalam tatapan sekejap saya, STF Driyarkara baik Program Studi Filsafat maupun Teologi akan banyak dilirik dan laku jual jika program itu secara serius mengolah, meneliti, dan melakukan publikasi berbobot tentang Filsafat dan Teologi dalam keterkaitan erat dengan kebudayaan, terutama lokal-setempat. Kita ini bangsa besar, tetapi selalu kikuk dan merasa tidak memiliki harga diri yang layak. Kesan saya, sampai saat ini matakuliah pokok di kedua program studi itu masih didominasi oleh transfer ilmu barat. Itulah sebabnya, dominasi barat dengan pelbagai keunggulan dan juga kemiskinannya tetap belum laku jual, apalagi jika jagad kerjasama itu “dunia dan warga barat”. Bagi saya pribadi, Indonesia dengan segenap alam pikirannya -yang masih perlu diteliti dan diolah- layak jual karena unik dan kaya.

TEMPAT SAKRAL
Gandengan Delri dan SFU berlanjut dengan “interfaith dialogue in the context of Vancouver”. Jadi, setelah sarapan di kampus SFU, kami jalan kaki ke tempat umum, di mana coach (bus) besar yang memuat 50 orang akan membawa kami semua berkeliling ke tempat-tempat sakral.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Christ Church Cathedral (Anglikan) Vancouver, di mana Rev. Alisdair Smith sudah menunggu kedatangan kami. Ternyata rombongan besar yang tidak ikut sarapan di SFU sudah menunggu di gereja ini. Di masing-masing tempat yang kami lawati, pemuka tempat ibadat menjelaskan selama 30 menit tentang dinamika kelompok agamanya, dan kemudian kami semua keliling melihat-lihat “monumen keagamaan”.

Berturut-turut kami kunjungi Richmond Jamia Mosque. Di sini Imam Azhar Syed menjadi host, yang memandu kami semua. Sejumlah anggota Delri berkesempatan untuk sholat lohor di mesjid ini.

Kemudian kami bergeser ke Guru Nawak Niwas Sikh Gurdwara. Berperan sebagai host di sini adalah Chain Batth. Semua laki-laki yang masuk rumah ibadat Sikh harus mengenakan ikat kepala. Saya saat itu mengenakan Beret Jamiko, yang saya beli di Lourdes Desember 2012 yang lalu. Ketika saya melepas beret dan mau menggantinya dengan ikat kepala yang disediakan oleh kaum Sikh, petugas mngatakan bahwa saya tidak perlu melepas beret. Jadi, beret yang saya kenakan multi fungsi. Di lantai bawah rumah ibadat sikh inilah kami makan siang sehat: no alchohol, no meat, no tobacco.

Kunjungan dilanjutkan ke International Buddhist Temple. Kami menunggu relatif lama, sebelum bikhu agung yang bertugas mendampingi kami keluar untuk menerima kami. Tempat ibadat ini indah, bersih, sarat makna. Semua pengunjung kagum akan keindahannya. Apakah indah seperti Bait Allah di Jerusalem pada zaman Yesus Nazareth?

Akhirnya, kami mengunjungi Synagogue Beth Tikvah Congregation. Kami semua disambut hangat oleh Rabbi Claudio Kaiser-Blueth. Dasar orang Yahudi, hampir 45 menit ia habiskan untuk menjelaskan sejarah agama Yahudi tidak secara kronologis, melainkan dengan memperhatikan gagasan utama, yakni Yahwe yang mau membebaskan umat-Nya dari praksis perbudakan. Baru pada 10 menit terakhir sang rabbi menjelaskan khazanah sinagog tersebut, upacara keagamaan, kekhasan agama Yahudi, dlsb. Di sini pun kami semua, terutama yang laki-laki wajib mengenakan “soli deo”, kupiah kecil ysng menutup ubun-ubun, layaknya kupiah uskup Katolik, hanya kupiah Yahudi ini berwarna hitam.

SFU, terutama dalam diri Ellen Vaillancourt, telah mengatur acara “interfaith dialogue in plural society: a Vancouver context”, dengan sangat baik. Sebuah “tour of sacred spaces” dari pk. 10.15 pagi hingga pk. 18.00 yang memperkaya perbendaharaan pengetahuan semua peserta tour yang berjumlah 50an orang.

Sedianya kami mengakhiri gandengan SFU dan Delri ini pada pk 18.00. Tetapi, ternyata bukan hanya Jakarta yang macet-cet, melainkan juga Vancouver. Anggota Delri diturunkan di depan KJRI untuk resepsi dengan segenap warga R.I. di Vancouver. Tak sempat mandi.

Kami masuk KJRI pk 19.10. Di sana warga R.I. sudah menunggu. Sebab acara resepsi dimulai pada pk. 19.00. Setelah merapikan diri, Bapak Konjen (Bambang Hiendrasto) angkat bicara, yang intinya mempersilakan semua hadirin untuk makan malam dan setelah itu ramah tamah.

Dalam acara ramah tamah, Sekjen Kemenag (Bpk. Bahrul Hayat) berkisah panjang lebar tentang kesuksesan Indonesia baik dalam bidang ekonomi, politik, agama, dan sosial, tanpa mengurangi bidang-bodang yang masih perlu ditingkatkan dan diperbaiki, bahkan dirombak. Setelah itu, giliran keempat pembicara dari Indonesia (Musa, Joas, Eddy, Jamhari) berbagi “ilmu” di hadapan hadirin yang mencapai 125 orang.

Ada 1 SMS masuk ke ponsel Jamhari. SMS itu dikirimkan oleh seorang peserta resepsi di KJRI. Jamhari membeberkannya pada, Jumat, 29 November. Oleh pengirim SMS dikatakan, “Terimakasih atas kunjungan Delri kali ini yang jauh melampaui Delri-Delri sebelumnya, yang juga dijamu di KJRI. Saya mengikuti pembicaraan Delri kali ini: bagus, segar, mendalam, ilmiah, kaya, dan inspiratif. Baru kali ini!!”

SMS itu boleh dipandang sebagai wakil dari kesan umum atas visitasi Delri di Vancouver. Jangan lupa, keempat pembicara Delri kali ini berasal dari lingkungan akademisi. Mereka bukan dari kalangan legislatif. Bukan pula pejabat pemerintah. Juga bukan anggota dewan yang terhormat atau komisi tertentu.

Benar, Delri kali ini memasang sebagai garda depannya adalah para akademisi. Kendati demikian, lebih dari separuh anggota Delri yang tidak saya mengerti fungsi dan perannya dalam lawatan kali ini. *****

Kontributor: Sdr. A. Eddy Kristiyanto, OFM

[/tab][tab name=”Foto-foto”]

Sdr Eddy Kristiyanto di rumah ibadat kaum Sikh.

Sdr Eddy Kristiyanto di rumah ibadat kaum Sikh.

Bpk Bambang Hiendrasto, KonJen RI di Vancouver bersma Sdr Eddy Kristiyanto dalam visitasi ke Tempat Ibadah Buddhisme

Bpk Bambang Hiendrasto, KonJen RI di Vancouver bersma Sdr Eddy Kristiyanto dalam visitasi ke Tempat Ibadah Buddhisme

 Pendeta Joas, Ms Ellen, Mas Agung Sinurat (Staf KJRI) mendengarkan guru Sikh berkata-kata.

Pendeta Joas, Ms Ellen, Mas Agung Sinurat (Staf KJRI) mendengarkan guru Sikh berkata-kata.

Sebagian interior Sinagog di Vancouver.

Sebagian interior Sinagog di Vancouver.

[/tab][end_tabset]

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *