Fransiskan di Penjara

Sama-sama kepala gang

Sama-sama ‘kepala geng’

Pastoral penjara bersama Tarekat Stigmatine amat mengesankan. Kami mengunjungi beberapa penjara secara rutin. Pengakuan dosa, perayaan Ekaristi, sharing kitab suci dan katekisme bahkan pembaptisan di dalam penjara dilaksanakan. Hidup terasa lebih hidup. Kami sumbangkan beberapa jilid Disctionary, karena mereka juga melatih berbicara bahasa Inggris untuk bekal hidup selanjutnya. Tempat ini merupakan penjara teladan. Pemeriksaan amat ketat. Kamera, uang dan anggur tidak boleh dibawa. Tetapi kami tidaklah kalah akal, seperti penjahat lain tetap bisa menyelundupkan anggur untuk keperluan misa. Macam-macam cara kami gunakan. Anggur di taruh dalam botol juice buah-buahan, botol PPO, atau ditaruh di kaus kaki. Penyelundupan kudus. “Cerdik seperti ular…”.

Terberkatilah engaku diantara 632 wanita

Terberkatilah engkau diantara 632 wanita

Tiap tahun, 3 bulan sebelum dibebaskan, seluruh tahanan dikumpulkan dan dipersiapkan kembali ke masyarakat. Tahun ini terdapat 632 wanita. Umumnya berusia muda, 20-40 tahun. Mereka dibekali macam-macam ketrampilan. Tergantung pada bakat dan  ketrampilan masing-masing. Misalnya pijat. Bahkan selama latihan pun mereka telah mendapat upah. Menjahit pakaian, sambil latihan mereka juga bekerja dan mendapat upah. Kerajinan tangan, patung Buddha yang begitu indah dan harga mahal, merupakan hasil karya mereka. Penjara tidak lah terkesan angker seperti dalam bioskop, tetapi terasa seperti tempat pelatihan dan asrama, bahkan seperti dalam komunitas hidup religius.

Dosamu telah diampuni

Dosamu telah diampuni…

Kami mendapat bagian untuk berbagi atau berbicara tentang martabat manusia. Kami diberi waktu mulai jam 09.00 hingga 17.30. Cukup leluasa. Macam-macam kami sajikan. Mengingat bahwa dari 632 wanita hanya terdapat 4 katolik. Maka kami hindari kata-kata yang menyangkut keagamaan. Tetapi nilai-nilai kemanusiaan lebih kami utamakan. Acara terasa tak membosanakan karena diselingi berbagai video klip lucu-lucu dan permainan yang mengundang gelak tawa. Lagu jawa pun saya nyanyikan. Bahkan acara penutup kami jalankan di halaman terbuka. Kami merasa bahagia menyaksikan mereka tertawa-tawa. Para petugas pun lega bebas kerja sepanjang hari. Semoga berkenan kepadaNya.

Aku menyertaimu...

Aku menyertaimu…

Menjelang Natal tahun lalu, 16 orang dipermandikan. Dalam sharing kitab suci Anita mengungkapkan penglamannya. Ia amat sedih dan menangis teringat anak-anak di rumah serta sanak keluarga. Betapa malang mereka karena aku. Pada saat itu ia melihat seseorang mengulurkan tanganNya dan meneguhkan, “Janganlah menangis kuatkanlah hatimu…”. Waktu ditanya, “Siapakah orang itu?”. Ia pun tidak tahu karena belum pernah mengenalnya. Tetapi ia menunjuk gambar yang terpancang di depan…Tuhan Yesus dengan hati kudusNya. Sejak itulah ia mengenal Tuhan Yesus. Angelina menanyakan, “Bila saya keluar dari penjara diperkenankankah saya memasuki biara?”. Cukuplah memiliki keingan suci. Walalupun pada akhirnya barangkali tidaklah terwujud. “JalanKu bukanlah jalanmu” (Yes 55:8). Andriani menuturkan, “Waktu itu saya selalu memikirkan, kapan kerabat saya datang beerkunjug. Tetapi sekarang setiap bulan selalu merindukan, “Kapan kelompok katolik, para romo dan suster datang berkumpul?” Betapa bahagianya hidup sebagai saudara…

Kontributor: FX. Sutarja OFM (missionaris fransiskan asal Indonesia di Thailand)

Tertawalah bersama dengan mereka

Tertawalah bersama mereka

Bersama tim katolik

Bersama tim Katolik

Ada waktu untuk bermain

Ada waktu untuk bermain

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *