Fransiskus Assisi di Semarang

[tab name=”Berita”]

Dalam rangka merayakan kelahiran Fransiskus Assisi di antara para kudus di surga, 3 Oktober setelah tengah hari saya ke Semarang. Kefas (Keluarga Fransiskan Semarang) bekerjasama dengan OSF Semarang mendatangkan saya dari Jakarta.

KERJA KERAS
Kefas memastikan bahwa Kamis, 3 Oktober, saya akan membawakan materi berjudul “KERJA KERAS SEBAGAI WUJUD IMAN FRANSISKAN SEJATI”. Materi ini dibawakan mulai pk 16.30, setelah 95 % peserta hadir di aula Rumah Sakit Elisabeth, jl. Kawi, Semarang.

Jumlah hadirin tembus angka 200. Mereka datang dari tarekat OSF, MTB, FSE, KSFL, SFS, MTB, OFS, FCJM, dan OFM. Di aula ini juga hadir Sdr Albertus Bambang TrimargonoOFM, yang baru saja menyelesaikan retret di Jawa Tengah. Saudara kita ini ternyata menaiki Vespa Tua, yang sudah berusia 40 tahun, dari Jakarta menuju Semarang, Ambarawa, dan nantinya akan ke Sukoharjo.

Materi yang saya bawakan dipahami dengan saat baik dan ditanggapi dengan entusias oleh skurang-kurangnya 2 Suster OSF, yang mengajukan pertanyaan. Pada slide terakhir presentasi, saya menegaskan bahwa semakin fransiskan bekerja keras dengan dan demi peace and all good, semakin kita menjadi Fransiskan sejati.”

Begitu pencerahan yang berhubungan dengan KERJA KERAS itu selesai dilaksanakan, acara mengenangkaan detik-detik transitus Fransiskus siap dipanggungkan. Para Novis II dan Postulan OSF siap menghadirkan Transitus dalam format dramatisasi.

Orang-orang muda itu terkesan sangat kreatif, dengan tetap setia pada teks baku transitus. Itulah sebabnya pesan transitus ditangkap dengan baik oleh para hadirin, apalagi suasana yang mendukung pun sengaja diciptakan, misalnya dengan memainkan lampu, memanfaatkan lilin, pengeras suara yang apik, aluman rekaman musik pun diatur untuk menggerakkan emosi religius. Di sini pun layak diucapkan terimakasih kepada para tim “Novisiat Banyumanik” yang telah memfasilitasi para hadirin untuk bermenung.

DARI EKARISTI KE EKARISTI
Ekaristi Hari Raya St. Fransiskus dirayakan di Novisiat OSF pk 05.30 dalam kehadiran beberapa anggota OFS, OSF, Bruder-bruder FIC. Semua berjumlah sekitar 50 orang.

Para novis-postulan OSF menyanyi dengan semangat dan jauh lebih baik daripada 3 bulan lalu, ketika saya selama sepekan ada di novisiat itu untuk berbagi kefransiskanan. Sungguh, saya bisa merasakan perkembangan yang ditampakkan oleh para novis dan postulan OSF. Dalam hal ini, perubahan yang signifikan semoga menegaskan formasio yang mengakar dan mempengaruhi hidup dan pelaksanaan tugas-tugas mereka semua.

Khotbah dalam Ekaristi ini disengaja dibuat agak panjang. 30 menit! Ini jelas-jelas melanggar adagium dalam Ilmu Homilitika yang pernah saya ajarkan, “After fifteen minutes no soul will be saved”. Latar belakang khotbah panjang pagi ini adalah adanya pesan agar khotbah “diperpanjang” untuk mengganti konferensi, yang sedianya diselenggarakan dari pk 7.30-9.00 untuk para Novis-Postulan OSF. Tetapi rencana ini tidak kesampaian, karena acara di Jl. Pemuda, Poncol, Semarang dimulai dengan Ekaristi pk 09.00.

Betul, setelah sarapan di Novisiat dalam suasana Hari Raya, yakni dengan ragam pilihan yang beraneka – berkat kemurahan hati donatur – saya diantar ke Aula Marsudirini, Jl. Pemuda, Poncol. Di sana sudah bersiap 9 orang karyawan yang berpesta: 5 orang merayakan pesta perak berkarya di Yayasan Masudirini, 4 orang menjalani purna bakti.

Tema perayaan “Persaudaraan Wujud Iman” yang dirajut dalam Syukuran Ekaristik dimeriahkan oleh paduan suara yang empuk dan gandem-marem. Ibu-ibu dan bapak-bapak, karyawan Marsudirini, melantunkan lagu-lagu indah layaknya Paduan Suara Secilia. Setelah Ekaristi sederetan grup penghibur pada memamerkan kebolehannya: dari TK sampai dengan SMP. Semua “boleh”!

Perjalanan Fransiskus Assisi dari Italia Tengah sampai Semarang bukanlah langkah-langkah yang serba ringan dan cepat. Para pendahulu dengan pelbagai cara dan kualitas menyebarluaskan kefransiskanan baik dalam bentuk kehidupan maupun dalam forma kerasulan apostolik.

Kini dampak penyebarluasan itu masih, bahkan kian terasa, terutama dalam spirit yang hidup. “Di tangan” kita, para Fransiskan, warisan rohani itu diserahkan untuk semakin ditebarkan, sehingga diharapkan “seluruh bumi dipenuhi dengan Injil Kristus, yang dihayati dan didharmabaktikan oleh Fransiskus Assisi”. Kini tiba giliran kita, para Fransiskan. Semoga!

Kontributor: Sdr. A. Eddy Kristiyanto, OFM
[/tab] [tab name=”Foto-foto”]

Suasana Transitus, 3 Oktober 2013 di Wisma Katharina, Jl. Kawi, Candi, Semarang.

Suasana Transitus, 3 Oktober 2013 di Wisma Katharina, Jl. Kawi, Candi, Semarang.

 

Para Novis-Postulan OSF membawakan permenungan tentang Transitus Fransiskus Assisi dalam bentuk "peragaan dramatisasi".

Para Novis-Postulan OSF membawakan permenungan tentang Transitus Fransiskus Assisi dalam bentuk “peragaan dramatisasi”.

 

Syukuran Ekaristik di Marsudirini Jalan Pemuda, Semarang, dalam rangka 25 tahun berkarya dan purna tugas. Semua "dijatuhkan" pada pesta 4 Oktober.

Syukuran Ekaristik di Marsudirini Jalan Pemuda, Semarang, dalam rangka 25 tahun berkarya dan purna tugas. Semua “dijatuhkan” pada pesta 4 Oktober.

 

Anak-anak SD pada unjuk kebolehan demi membahagiakan pestawan, sekaligus meramaikan Pesta 4 Oktober.

Anak-anak SD pada unjuk kebolehan demi membahagiakan pestawan, sekaligus meramaikan Pesta 4 Oktober.

[/tab][end_tabset]

Post navigation

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *