Fransiskus Ber-Idul Adha

Fransiskus Ber-Idul AdhaYayasan Santo Fransiskus yang menjalankan karya pendidikan di tujuh unit sekolah (TK Fransiskus, SD Fransiskus 1, SMP Fransiskus 1, SMA Fransiskus 1, SMK Fransiskus 1, SMA Fransiskus 2 dan SMK Fransiskus 2) genap berusia 50 tahun di tahun ini. Bukanlah sebuah perjalanan yang pendek untuk dapat terus bertahan mendidik dan membina siswa-siswa menjadi bagian dari manusia Indonesia. Dengan usianya yang genap mencapai setengah abad, raut-raut “ketuaan” mulai terlihat dalam seluruh penampilan Yayasan Santo Fransiskus. Di atas segala situasi yang ada kata yang patut terujar adalah “Syukur ke hadapan Allah” atas segala penyertaan-Nya dalam seluruh sejarah hidup Yayasan Santo Fransiskus.

Fransiskus Ber-Idul AdhaSabtu (26/09/2015), Yayasan Santo Fransiskus mengungkapkan Syukur kepada Tuhan bersama belasan karyawannya yang beragama Muslim dalam semarak BerIdul Adha. Semua berkumpul melingkar di halaman sekolah SMP Fransiskus. Hari itu seluruh siswa-siswi lagi liburan di rumah masin-masing. Hewan kurban yang dipersembahkan adalah seekor kambing yang ditambatkan di tiang basket. Bapak Irwanta, yang adalah karyawan Yayasan bertindak sebagai Ustad hari itu. Ia melantunkan ayat-ayat suci al quran dengan ujud bersyukur ke hadapan Allah atas pencapaian usia 50 tahun karya persekolahan fransiskus seraya memohon berkat Tuhan agar dianugerahi rahmat bagi persekolahan fransiskus di masa-masa yang akan datang sehingga semua guru dan karyawan mengalami peningkatan kesejahteraan serta memohon berkat agar seluruh rangkaian perayaan syukur pesta 50 tahun Yayasan berjalan lancar. Tepat pukul 09.30 WIB hewan kurban disembelih setelah lantunan Takbir Kebesaran Allah, “Allahu akbar Allahu akbar Allahu akbar! La ilaha illa-Llah wa-Llahu akbar, Allahu akbar Wa li-Llhai l-hamd!

Fransiskus berIdul Adha hari itu seakan menghidupkan kembali raga Santo Fransiskus dari Assisi yang berjalan melampaui batas-batas perbedaan manusia guna membangun keindahan harmoni hidup. Hidup menjadi lebih menarik dan indah dalam bingkaian perbedaan yang saling menghormati, mengakui dan menghargai.

(Kontributor : Sdr. Mateus L. Batubara OFM)

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *