Gelombang-gelombang Itu

Retret tahunan Saudara Tua (OFM) di Jawa, minus Saudara-Saudara Berprofesi Kekal 6-10 Tahun, berlangsung dalam 2 gelombang. “Kloter” pertama berlangsung di RR Lidwina Sukabumi, 17-21 Juni, “Kloter” kedua bermenung di RR Samadi Shalom Sindanglaya, 23-28 Juni.

Tuturan berikut ini berkisar tentang kegiatan rohani tahunan tersebut, sekaligus hal-hal yang mendahului, yang dilakukan oleh “OFM”, singkatan dari Ordinary Franciscan Motorbikers (Pengendara-pengendara Fransiskan Bersahaja).

PELABUHAN RATU
Perjalanan menuju Sukabumi dilalui oleh tiga “OFM”, pada Minggu pagi, 16 Juni 2013. Dua “OFM” dari Komunitas Vincentius (Kramat Raya), yakni Sdr. St. Sukartanto dan Sdr. N. Trimuryanto; satu “OFM” dari Komunitas Paskalis
(Letjen. Suprapto), yakni Sdr. A. Eddy Kristiyanto.

“Meeting point” disepakati di perempatan Rawasari, pada pk 05.30. Ada satu-dua hal yang membuat perjalanan bersama baru dimulai pada pukul 06.15, dan bukan dari perempatan Rawasari, melainkan depan SPBU (perempatan) Rawamangun, Jakarta Timur.

Satu demi satu nama wilayah ditaklukkan dalam deru dan seru Vespa bekas yang masih dalam kondisi prima. Ternyata ketiga Vespa yang dinaiki ketiga”OFM” tersebut adalah motor generasi Belanda.

Vespa yang dinaiki Sdr Tanto adalah warisan dari Sdr. W. Hofstede OFM. Vespa ini dibeli tahun 1961. Kemudian, Sdr. Trimur mengendarai Vespa tahun 1968, yang hampir 40 tahun ditunggangi oleh Sdr. M. Olsthorn OFM. khirnya, Sdr. Eddy Kris mewarisi Vespa produk tahun 1983, yang semula dirawat oleh Sdr. A. Rijper OFM.

Jadi, ada tiga Vespa dari tiga generasi, yakni 50an tahun, 45 tahun, dan 30 tahun. Semua terawat dengan baik, sehingga awet. Maka, memang lebih baik naik Vespa, apalagi ketika motor-motor lainnya sudah karatan dan menjadi besi tua, Vespa masih mulus dan berlari ngacir.

Kami menjalani “first stop” setelah melewati Cibadak ke arah Pelabuhan Ratu untuk sekedar ngopi dan bergurau di sebuah warung. Sampai dengan saat itu perjalanan sangat lancar. Kami tidak ngebut, hanya berlari cepat! Anda tahu, apa perbedaan antara ngebut dan cepat, bukan?

Rute Cibadak-Pelabuhan Ratu sangatlah menantang, terutama karena lika-liku, kelak-kelok, tikungan patah-tajam, tanjakan-terjal, turunan-menukik. Wilayah perkebunan kelapa sawit dan Cikidang kami lalui sambil bersiul berganti kidung.

Tepat pk 10.50 kami sampai pusat Kota Pelabuhan Ratu. Vespakami tidak mau berhenti di Pelabuhan Ratu, melainkan malah menuju Cikotok, tepatnya di Pantai Karang Haji, tak jauh dari Pantai Sawarna. Pantai Karang Haji relatif sepi pengunjung, jika dibandingkan tempat-tempat wisata Pelabuhan Ratu, yang diserbu wisatawan domestik, terutama saat liburan sekolah seperti sekarang ini.

“OFM” benar-benar menikmati desiran angin, deburan ombak Samudera Hindia Selatan, serta senyapnya gemuruh laut yang sesekali menghampiri bibir pantai. “Ini termasuk liburan, Bro!” Tentu saja, syering-syering pengalaman bertiga sesekali diselingi dengan rujak, kopi panas, dan nasi goreng yang pedasnya tidak-nendang. Semua dinikmati dengan penuh syukur.

Sdr. Trimur mondar-mandir mencari sasaran tembak yang dapat dibidik dengan alat fotografi nan canggih. Yang indah, yang cantik, yang manis, yang bergaya “menggedel” pun kini menjadi koleksi pribadi Trimur, yang pernah dijuluki BRUDER SAMPAH.

Setelah cukup berbaring, bahkan tidur di bawah pohon Ketapang, ketiga “OFM” meninggalkan Karang Haji menuju Pelabuhan Ratu. Di sinilah Keluarga Maya sudah menyiapkan makan malam. Kepala Keluarga berperan sebagai koki, yang mengolah “sea food” dengan rasa “nyamleng” dan “uenak tenan”.

Kami meninggalkan Pelabuhan Ratu pk 18.20, dan mencapai RR St. Lidwina Sukabumi sebelum pk. 21.00, setelah melewati beberapa bagian jalan yang bagaikan sungai kering dan lampa penerang jalan. Sejuknya air murni lereng Selabintana yang mengguyur sekujur tubuh menghapus segenap keletihan hari. 16 Juni 2013 ditutup oleh tiga “OFM” dengan syering bersama mensyukuri pengalaman dan berpuncak pada rebahnya Saudara Keledai dalam naungan Malaikat Pelindung di kamar masing-masing, yang sudah dipersiapkan oleh pengurus Rumah Retret, SFS.

ANTARA GELOMBANG SATU DAN DUA
Retret Gelombang Satu diikuti oleh 23 Saudara. Pada hari terakhir menjelang retret masih ada Saudara yang bergeser dari ikut Gelombang Satu ke Gelombang Dua, dan sebaliknya; bahkan ada yang membatalkan ikut serta. Bukan hanya itu saja, ada yang datang terlambat, ada yang pulang sehari sebelum berakhirnya retret, dan ada juga yang tidak hadir dalam Curah Ilham (baca: konferensi).

Gelombang Dua diminati oleh 14 Saudara. Para pelaku retret gelombang ini bersepakat untuk hening (baca: silentium). Kesannya, kesepakatan itu berhasil dipegang teguh. Syukur kepada Allah!

Pendamping retret pun dimanfaatkan oleh para pelaku retret baik untuk pembicaraan pribadi maupun pelayanan sakramen. Dalam artian tertentu, inilah retret “pertama” yang didampingi oleh Kontributor reportase ini. Sebab penulis ini, baru kali ini mendampingi retret Saudara Tua Provinsi Malaikat Agung St. Mikhael di Indonesia. Pada tahun 1997, saya pernah mendampingi Saudara Muda melakukan retret di Biara St. Klara, Pacet (Jawa Barat). Retret itu kemudian disusul dengan kecelakaan di malam gelap, ketika Bus Vincentius Putra yang ditumpangi 32 Saudara Muda dan saya, terjun bebas di Desa Wates, Pringsewu.

Saya terkenang akan saat itu, Sdr. Saul Wanimbo (Ruud Gullit van Papoea), Sdr. Save Adir dan Marianus Nuhan yang mengalami “bocor kepala”. Rekreasi ke Lampung batal, para suster FSGM disibukkan dengan pelayanan tuntas untuk merawat para Saudara yang TKO, urusan dengan polisi Pringsewu jadi tak terelakkan, bahkan sesampainya di Jakarta (beberapa hari kemudian) ada korban kecelakaan yang terpaksa dibedah ulang, karena masih menyimpan pecahan beling (kaca) di kepalanya.

Retret dua gelombang yang dituturkan di sini, pada hemat Kontributor tulisan ini, berhasil mengantar para plaku retret masuk ke kedalaman hidup bersama Fransiskus Assisi. Tiga aras dibabarkan, yakni hal-hal yang menyangkut pengalaman, apa tautan hidup yang mendalam, dan model penghayatan iman Kristiani yang radikal karena injili, yakni “Il Poverello d’Assisi”.

Kedua gelombang retret ini melibatkan secara aktif semua pelaku retret. Sebab syering hidup para pelaku retret ditatapkan dengan hal-hal minimal yang harus ada dalam hidup bersaudara dalam komunitas religius, apa-apa saja yang perlu diubah (baca: direformasi), dan bagaimana melakukan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat) berkenaan dengan hidup kita sebagai Provinsi, dan proposal tindakan dengan tingkat prioritas yang perlu dikedepankan.

Retret diakhiri dengan pembaruan profesi religius, dengan mengambil secara bulat-bulat rumusan profesi kekal. Semua menyatakan secara publik ikrar setia dalam tangan Sdr. Adrianus Sunarko OFM, yang hadir bersama para Saudara yang memperbarui profesi dengan cara khusus.

Mengakhiri laporan ini, saya bersyukur kepada Allah, karena Ia memberikan kesempatan kepada saya melalui Persaudaraan ini untuk mendulang kekayaan serta kedalaman rohani yang telah menjadi nyata dalam hidup, kesaksian, dan teladan para pendahulu dalam cara hidup ini. Semoga niat-niat baik yang telah dibangun dalam retret ini, terutama untuk menjadi Fransiskan sejati -yang hanya melalui cara itu kita semua memberikan kontribusi kepada Gereja Kristus”- semakin mendekatkan jarak antara realitas manusiawi Kristiani kita dengan cita-cita hidup Kefransiskanan kita.

Kita kembalikan semuanya kepada Dia apa yang sudah Dia mulai, dan semua yang sudah kita hidupi dan kerjakan. Semoga Dia berkenan bukan kepada buih-buih kedangkalan kita, melainkan pada belas kasih-Nya kepada kita. Kalau pun belum berkenan, semoga Ia tak jemu memberikan Roh Pertobatan Yang Berkesinambungan kepada kita semua, Fransiskan malang yang tidak berguna ini. Amin. * * * * *

Kontributor: Sdr. A. Eddy Kristiyanto, OFM

Post navigation

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *