Ingin Tahu Indonesia (Bagian 5)

[tab name=”Berita”]

Semua panelis dari Indonesia: Musa, Joas, Eddy mempresentasikan materi dengan menggunakan power point, kecuali Musa, yang membawakan pemikirannya tidak genap dari 10 menit. Sementara itu, Joas dan Eddy dari segi waktu yang disediakan berhasil memenuhinya, yakni 12-15 menit.

Di Vancouver, Prof Musa memperkenalkan UIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta. Pada lima menit terakhir beliau menyebutkan gagasan tentang “character building” dengan ungkapan-ungkapan yang sangat standar. Bagi telinga orang Indonesia yang hidup di Indonesia, rumusan-rumusan yang diutarakan oleh Prof. Musa bagaikan pidato elok pejabat pemerintah, yang mengemban amanat kerakyatan.

Joas menuturkan pemikiran dengan suara meyakinkan layaknya seorang pendeta dengan argumentasi yang runtut. Diangkatnya alam pikiran tentang bersahabat dengan orang-orang asing, yang dalam hal ini orang berkepercayaan lain bagaikan orang asing. Bagaimana tidak? Setiap agama berkecenderungan eksklusif dan bahkan memutlakkan keyakinan keagamaannya. Berhadapan dengan orang-orang berkeyakinan lain, sikap tepat yang dikedepankan adalah bersahabat. Hal ini mengingatkan kita akan firman Tuhan yang mengatakan, “Aku tidak menyebut kamu hamba, melainkan sahabat” (bdk. Yoh 15: 14-15).

Selain itu, dipaparkannya suatu paradigma berpikir mengenai keindahan akan ketidaktahuan. Paradigma ini dapat saja merujuk pada “virtus” (keutamaan) yang ditemukan dalam agama-agama lain, tetapi juga (dan terutama) pada Hyang Ilahi. Agama/sesama, apalagi Hyang Ilahi adalah pihak-pihak yang keberadaannya melampaui keterbatasan pengenalan nalar insani. Joas tidak melewatkan contoh urgen yang mengesankan ditunggangi oleh ketidakpahaman penguasa, yakni kasus GKI Yasmin.

Pada gilirannya Eddy membeberkan dinamika minoritas Katolik. Terlebih dahulu ia minta izin untuk menyapa hadirin dengan sebutan “saudara dan saudari”. Sebab menurut Fransiskus Assisi, semua ciptaan Allah adalah saudara dan saudari. Eddy adalah seorang Fransiskan, maka dia berada pada garis pandang sebagaimana diperkenalkan oleh Fransiskus Assisi (lihat Mat 23: 8).

Setelah itu, Eddy bergegas memperlihatkan data statistik resmi (dari Badan Pusat Statistik), yang memperlihatkan bahwa jumlah umat Katolik di Indonesia 3,02%, atau sekitar 3,6 juta. Tetapi data dari statistik gerejawi menunjukkan bahwa jumlah orang Katolik sekitar 6,6 juta. Suatu perbedaan yang signifikan! Mengapa berbeda? Mana yang benar? Eddy sudah mengantisipasi pertanyaan tentang perbedaan itu dengan mengatakan, “Saya tidak tahu!”

Kemudian Eddy mengembangkan tuturannya dengan menyebutkan fakta-fakta historis. Misalnya, bagaimana para misionaris Katolik terlibat sepenuh hati pada peningkatan martabat hidup manusia Indonesia, yang berhubungan dengan pelayanan pendidikan (persekolahan), perawatan kesehatan, dan karya sosial karitatif. Selain itu, sudah sejak dini para misionaris bersama awam Katolik sangat peduli pada kebudayaan. Sentuhan kultural ini merupakan suatu cara menjadi semakin Indonesia.

Perhatian dan keterlibatan pada perkara-perkara kemanusiaan di Indonesia merupakan pilar-pilar Gereja Indonesia. Selain itu, berkat para “founding fathers” yang telah merumuskan Pancasila, maka ideologi bangsa sekaligus cara berada yang disebut Pancasila itu, telah menjadi rumah bersama semua orang Indonesia. Sungguh, cara Gereja Katolik yang minoritas menjadi kian bermakna di bumi Indonesia yang mayoritas memeluk Islam adalah menghayati kutipan “Gaudium et Spes” artikel 1, yang sangat masyhur itu.

Eddy menutup paparannya dengan menggemakan kembali kata-kata bertuah St. Irenaeus, “Homo totaliter vivens est gloria Dei”. Ini dikemukakan demi melawan sejumlah tindak kekerasan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu yang memaksakan kehendak mereka dengan cara-cara premanisme. Lebih konyol lagi, tindak itu dilakukan demi membela kebenaran Allah sebagaimana mereka sendiri mengerti. Dan anehnya, aparat pemerintah tidak mau bertindak tegas, apalagi kelompok-kelompok itu dipelihara oleh penguasa tertentu untuk melindungi kepentingan-kepentingan tersembunyi.

PENANYA
Banyak hadirin yang ingin mengetahui tentang Indonesia. Keingintahuan itu berkenaan dengan kerjasama Katolik-Protestan, peran perempuan dalam politik dan agama, fatwa MUI yang “melarang” orang Islam mengucapkan selamat Natal pada orang-orang Kristen, confusianisme sebagai budaya dan agama, kebebasan beragama, Pancasila, konflik-konflik horisontal di pelbagai daerah, ahmadiyah, hak asasi manusia, soal Papua, dlsb.

Maraknya pertanyaan kiranya hendak menyatakan bahwa tidak ada yang tersembunyi di atas muka bumi ini. Selain itu, hadirin juga mengikuti perkembangan di Indonesia. Penanya-penanya itu haus akan informasi dari para pelawat yang datang ke Kanada. Mereka sesungguhnya dapat melacak jawaban persoalan mereka di situs jejaring sosial.

Deretan pertanyaan juga dilontarkan pada Dr. Jamhari setelah beliau menyampaikan “evening keynote” yang berjudul “justice in a interfaith context: the significance of Indonesia”. Misalnya, mengapa Protestan dan Katolik tidak dijadikan satu di bawah nama KRISTEN, sementara di Islam, bukankah ada macam-macam Islam (Sunni, Syiah, Ismaili?, kekerasan atas nama agama, dlsb.

Betul, 27 November merupakan hari yang sangat padat bagi Delri. Berangkat meninggalkan hotel pk 9.30 pagi, kembali menuju hotel pk 9.30 malam. Empat pembicara (Musa, Joas, Eddy, Jamhari) terlibat aktif, plus Sekjen Kemenag, Bpk. Bahrul Hayat yang sesekali intervensi (karena beliaulah yang kompeten dalam beberapa soal kebijakan pemerintah).

Tetapi empat Delri yang bekerja di Kemenag R.I. sama sekali tidak angkat bicara. Sepatah kata pun tidak. Mereka itu adalah Bpk. Dr. Mahsusi (Kepala Biro Kepegawaian), Bpk. Drs. H.M. Mudhofier MSi (Kabid Harmonisasi Umat Beragama), Bpk. H. Mubarok SH, MSc (Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama), Bpk. H. Abdul Fatah (Staf Ahli Menteri agama). Wajar-wajar saja kalau orang kemudian mempertanyakan, sesungguhnya untuk tujuan apa keempat orang itu ikutserta dalam forum seperti ini, jika ternyata mereka samasekali tidak ikut “nimbrung” dalam diskusi-diskusi panel ini?

Mengakhiri kegiatan padat seluruh hari ini, Konsul Jendral R.I. di Vancouver, Bpk. Bambang Hiendrasto, menyelenggarakan resepsi di kampus SFU. Banyak pihak mengacungi jempol atas seluruh kegiatan hari ini. Acara lancar dan teratur rapi, pertanyaan-pertanyaan dari para hadirin sangat kritis dan hadirin pun sangat ingin tahu tentang Indonesia, banyak sekali hadirin yang bertahan dari pagi hari hingga malam tiba. Keletihan segera sirna, jika melihat entusiasme yang hidup dari semua yang terlibat dalam acara ini.

Centre for the comparative study of muslim societies and cultures, yang dipimpin oleh Derryl Maclean telah berhasil pula mengatur acara ini, bahkan mengundang President SFU, Andrew Petter, untuk memberikan sambutan yang berbobot. Keberhasilan ini pasti berkat kerja keras koordinatornya, yakni Ms. Ellen Vaillancourt.

Acara ini belum tuntas! Sebab masih menyisakan beberapa hal yang masih perlu dibicarakan bersama antara pihak Delri dan SFU dalam sarapan, 28 November, di Kampus SFU. Pastilah, reportase ini terlalu panjang jika masih harus memuat apa yang ditulis di bagian selanjutnya. * * * * *

Kontributor: Sdr. A. Eddy Kristiyanto, OFM

[/tab][tab name=”Foto-foto”]

Prof Chris Dagg, indonesianis, sedang membacakan curiculum vitae para pembicara sebelum memulai diskusi panel.

Prof Chris Dagg, indonesianis, sedang membacakan curiculum vitae para pembicara sebelum memulai diskusi panel.Prof Chris Dagg, indonesianis, sedang membacakan curiculum vitae para pembicara sebelum memulai diskusi panel.

Paper yang dipresentasikan Sdr. Eddy Kristiyanto OFM dalam diskusi panel di Simon Fraser University.

Paper yang dipresentasikan Sdr. Eddy Kristiyanto OFM dalam diskusi panel di Simon Fraser University.

Sdr Eddy Kristiyanto OFM sedang membawakan materi diskusi panel

Sdr Eddy Kristiyanto OFM sedang membawakan materi diskusi panel

Sdr Eddy Kristiyanto OFM sedang mencocokkan materi presentasi dengan tayangan power point.

Sdr Eddy Kristiyanto OFM sedang mencocokkan materi presentasi dengan tayangan power point.

Para panelis tekun menyimak presentasi.

Para panelis tekun menyimak presentasi.

[/tab][end_tabset]

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *