Inspirasi dari Sassone

Pada akhir Mei, tepatnya pada 18-28 Mei 2014, berlangsung Kongres Pertama tentang Misi dan Evangelisasi Ordo Saudara-saudara Dina (OFM). Betul! Untuk pertama kalinya Ordo menggelar hajat ini. Kongres ini diselenggarakan di Casa di Camello, milik Ordo Carmelit, di luar kota Roma. Provinsi Malaikat Agung Santo Michael mengutus saya untuk berpartisipasi dalam kongres tersebut.

Terus terang saja, saya lama tidak menurunkan reportase ini karena penurut penilaian saya Kongres ini sangat jauh dari aspektasi saya. Saya malas menulisnya. Tak ada motivasi yang cukup besar untuk mengkalimatkan pengalaman berkongres. Maksud saya, pengharapan saya barangkali terlalu besar pada kongres ini. Namun yang de facto terjadi tak besar-besar amat. Namanya saja besar KONGRES INTERNASIONAL, tetapi isi, bobot, kualitas, muatannya tidak sebanding dengan bunyinya!

“Jika Kamu Bisa Dipercaya pada Perkara Kecil …….”

Pintu Gerbang tempat Kongres Misi OFM di Sassone.

Pintu Gerbang tempat Kongres Misi OFM di Sassone.

Rencana tentang akan diadakannya kongres ini saya dengar dari Sdr. Paskalis B. Syukur OFM, ketika ia masih menjadi Definitor Jendral di Roma. Kemudian Minister Jendral OFM, Michael Perry OFM meneguhkan ulang rencana tersebut, saat beliau menghadiri tahbisan Uskup Bogor di Sentul City, 22 February 2014. Tetapi sampai pertengahan Maret 2014 provinsi tidak menerima undangan apa pun untuk acara termaksud, padahal Kustodi “Duta Damai” sudah menerimanya, dan malahan sudah mulai mengurus visa Schengen atas nama Sdr. Tarsi Lengari OFM.

Bertolak dari komunikasi satu arah yang tidak beres itu, saya berprakarsa untuk bertanya ke Panitia Kongres melalui alamat e-mail yang diberikan Sdr. Michael Perry pada February tersebut. Dalam e-mail itu saya antara lain meminta Surat Undangan, jika memang kehadiran saya diharapkan dan dibutuhkan. Sesudah itu komunikasi Panitia Kongres dan saya begitu lancar via akun e-mail yang saya berikan.

Undangan, Daftar Acara, Petunjuk Mencapai Sassone, Besaran Biaya Kongres, Anjuran tentang Dokumen Ordo yang perlu dibawaserta, dlsb disampaikan melalui sarana elektronik, kecuali Undangan Asli.

Setelah segala bentuk persiapan untuk pertemuan internasional itu selesai, saya berangkat pada 17 Mei 2014 dengan Qatar Airways. Bahwa saya pergi pada 17 Mei sehingga sampai di tempat pertemuan 18 Mei, saat pertemuan itu dibuka dan dimulai, persis itulah kelemahan pengorganisasian pertemuan akbar ini. Hanya tiga hari sebelum pertemuan dimulai Panitia Kongres menginformasikan, bahwa para partisipan boleh masuk ke tempat pertemuan di Sassone dua tiga hari sebelum acara dimulai. Selain itu, Panitia Kongres memberitakan, Collegio San’Antonio (via Merulana), dan Curia Generale dei Frati Minori (via Maria Mediatrice) dapat diinapi dua tiga hari sebelum Kongres, terutama oleh para Saudara yang datang dari jauh. Informasi ini jelas bagus, tetapi tidak ada gunanya sama sekali. Mengapa informasi tidak disampaikan jauh hari sebelumnya, sehingga para peserta dari jauh dapat mengatur waktu keberangkatan? Pemberitaan yang mendadak dan spontan memerlihatkan bahwa Panitia Kongres tidak bekerja secara profesional, terutama karena tidak memerhitungkan dengan tepat “para Saudara yang jauh”, yang sudah harus mengatur itinerary plan jauh-jauh hari.

Lima dari Sepuluh

Ketidakprofesionalan Panitia Kongres juga tercermin dari data yang tersebar. Diinformasikan bahwa ada bus dari Bandara Fiumicino ke Bandara Ciampino. Saudara tahu, tempat pertemuan (Sassone), terletak tidak jauh dari Bandara Ciampino? Tetapi ternyata tidak ada! Yang ada bus dari Fiumicino ke Stasiun Termini, lalu ganti bus yang mengantar ke Bandara Ciampino. Lalu informasi Panitia menyatakan dari Bandara Ciampino, peserta dapat mengambil taksi. Tetapi Panitia tidak menginformasikan berapa biaya taksi dari Bandara Ciampino ke Casa di Carmello, tempat pertemuan itu? Ternyata taksista (pengentara taksi) di Ciampino “memermainkan” sejumlah partisipan. Ada yang menarik 80, ada yang 40, ada yang 30 Euro!. Betul-betul pemerasan! Kekeliruan Panitia Kongres (yang mungkin tidak pernah menaiki kendaraan umum) adalah memberikan informasi yang utuh dan lengkap. Misalnya, ongkos taksi Bandara Ciampino ke Sassone tidak lebih dari 10 Euro.

Para partisipan membayar biaya kongres sebanyak 700 Euro. Apakah biaya sebanyak itu bisa dibayar a.l. dengan “intensi misa”? Tidak ada informasi. Outing ke Assisi pun dinilai oleh hampir semua partisipan sebagai “buruk” dan “sangat buruk”: dari factor Ekaristi yang kaku dan “terlalu Roma”, tidak familiar (karena partisipan tidak dibukakan pintu selama 2 jam) di San Damiano, di Porziuncola para partisipan juga dibiarkan begitu saja dan tidak dipersilakan singgah di komunitas, sampai segala bentuk pengorganisasian yang tidak smooth. Semua ini meruntuhkan derajat kefransiskanan!

Kegagalan besar Panitia Kongres juga terlihat dengan nyaris tidak adanya paper, referat, atau makalah yang dibagikan kepada para partisipan sebelum atau pada saat kongres. Seandainya, Panitia Kongres berpegang pada prinsip “paperless”, tetapi minimal ada CD yang dibagikan sebagai “oleh-oleh” dari Kongres. Bukankah ini “KONGRES INTERNASIONAL”, di mana semua makalah/paper sudah disiapkan jauh hari dan “siap” dibagikan sehingga semua peserta dapat memelajarinya dan menyimaknya? Panitia hanya menyatakan, bahwa semua materi nanti dapat diunduh di website Ordo. Betul-betul, bagi saya, ini merupakan Kongres Internasional dengan kualitas paroki di pedalaman! Bagaimana tidak? 150 Fransiskan hadir dari 40-an Negara.

Pemilihan narasumber pun tidak seluruhnya optimal. Jumlahnya terlalu banyak, dan mengesankan “peserta Kongres dianggap oleh Panitia perlu dikucuri input dan informasi sebanyak mungkin”. Padahal, pengakuan ini jujur: sesungguhnya input dan informasi itu tak banyak yang baru dan segar. Ada narasumber yang membawakan presentasi dengan bahasa “local”, khoq bisa narasumber semacam ini dipilih oleh panitia? Apakah tidak ada yang lebih baik daripada dia yang ternyata “tulalit”, karena tidak mampu menjawab pertanyaan yang diajukan. Dalam skala penilaian saya, jumlah narasumber yang layak paling banyak 40%. Lainnya, abal-abal. Dalam evaluasi umum, para peserta mengeluhkan tentang jumlah narasumber yang terlalu banyak. Diskusi, workshop teramat sedikit. Liturgi yang terlalu generik dan tidak kreatif, kurang hening, dan berdoa dengan berlari, terlalu cepat. Peranserta para partisipan pun terlalu banyak, terutama dalam hal mengambil gambar/foto. Kerlap kerlip lampu pijar. Bebunyian piranti komunikasi mengabadikan dalam forma foto apa yang sedang terjadi.

Dalam Kongres Misi ini dikenang pula Kepergian Sdr G. Bini OFM beberapa hari sebelum Kongres dibuka.

Dalam Kongres Misi ini dikenang pula Kepergian Sdr G. Bini OFM beberapa hari sebelum Kongres dibuka.

Arah umum Kongres ini mengesankan terlalu diwarnai oleh “Italia”, dan gelontoran massa Fransiskan dari Amerika Latin. Sementara itu, kurang disentuh Eropa Timur, Asia dan Afrika. Praktis ketiga wilayah terakhir ini hanya layak difoto untuk dipamerkan, yang syukur-syukur bisa mendatangkan rasa iba dan welas asih, yang kemudian menyisihkan dana untuk proyek di wilayah-wilayah tersebut.

Yang bagus tentang pemilihan tempat di Sassone adalah menu dan hidangan makan yang sangat bagus. Tidak ada kritik, tak ada kekecewaan atasnya. Tetapi tidak kurang yang menyatakan bahwa tempat ini terlalu terisolasi. Jauh dari kota. Ada kolam renang, tetapi tak pernah ada airnya. Tak pernah ada snack dan rehat kopi atau teh yang terhidang untuk para peserta. Semua harus dibayar sendiri, dan dibeli di bar.

Banyak narasumber yang membawakan presentasinya dalam waktu yang molor-molor. Hampir selalu moderator mengingatkan pembicara tentang waktu di samping cara bicara mereka yang terlalu cepat sehingga menyulitkan penerjemah menunaikan tugasnya. Maka itu ditanyakan, “Apakah Panitia Kongres tidak memberi petunjuk dalam TOR (term of reference) kepada semua pembicara tentang jatah waktu, sehingga persiapan materi bersesuaian dengan waktu yang tersedia?” Beruntung jika presentasi itu “membumi”; sebab hampir semua kelompok mengevaluasi tentang gagasan narasumber yang tidak mendarat dan hal itu terukur dari banyaknya ungkapan seakan di atas awan.

Panitia Kongres mengesankan tidak melibatkan kekayaan Fransiskan, misalnya dari Keluarga Luas Fransiskan. Memang ada 1 Conventual, 1 Capusin, 1 FMM, 1 OFS yang diundang untuk berperan sebagai narasumber. Dilibatkan pula 1 keluarga yang berperan sebagai misionaris. Bagi saya bahwa pengorganisasian kongres ini sangat buruk. Nilainya 5 (lima) dari 10 (sepuluh).

Ini beberapa hal yang kelihatan dan terukur. Narasi berikutnya soal isi atau materi yang dibahas dalam Kongres Internasional tersebut. ****

Kontributor: A. Eddy Kristiyanto OFM

Post navigation

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *