Jangan Lupakan Sr. Rima dan Ratusan Korban Perang Ini

Sr. Rima

Sr. Rima

Nuntio Vatikan untuk Suriah:
Jangan Lupakan Sr. Rima dan Ratusan Korban Perang Ini.

Sr. Rima adalah salah seorang korban dari serangan 15 Januari lalu di Universitas Aleppo. Sampai saat ini jenazahnya masih belum bisa diidentifikasi. Sr. Rima lahir di Aleppo, ia berkarya sebagai seorang guru dari Konggergasi Sisters of St Dorothy, selama bertahun-tahun ia terlibat dalam misi di kalangan anak muda di universitas dan karya amal lainnya. Pada pagi hari sebelum wafatnya ia berdoa kepada Tuhan, merelakan hidupnya untuk meringankan penderitaan penduduk Suriah. Uskup Agung Mario Zenari (Nuntio Vatikan untuk Syria) memberi kesaksian bahwa ia adalah salah seorang biarawati yang menjadi korban dari banyak korban lain yang juga hancur karena pembantaian.

AsiaNews di Damaskus melaporkan bahwa Sr. Rima (40 thn), adalah seorang biarawati dari konggergasi Sisters of St Dorothy. Bersama dengan beberapa suster dari italia, sedang melayani karya misi di kalangan anak muda, yang menjalankan sebuah sekolah berasrama untuk anak perempuan, yang terletak beberapa meter dari Universitas Aleppo. Pada tanggal 15 Januari, suster itu telah menjadi korban dalam serangan yang diklaim oleh kaum ekstrimis islam ke universitas yang menewaskan 87 orang. Sampai saat ini, jenazahnya belum teridentifikasi. Namun Mgr. Mario Zenari sebagai Nuntio Vatikan di Damaskus telah mengkonfirmasi kematiannya.

Nuntio mengatakan bahwa ada dua suster tinggal di biara tersebut. Empat lainnya berkebangsaan Italia telah kembali beberapa bulan lalu karena alasan keamanan. Bersama dengan suster lain, Sr Rima berbagi penderitaan perang ini. Meskipun rasa takut, dingin dan risiko kematian karena pemboman itu, setiap hari mereka tetap mengunjungi setiap keluarga, Kristen atau Muslim, menawarkan bantuan tempat tinggal dan hal spiritual untuk para pengungsi, khususnya kepada para mahasiswa di universitas.

“Pada pagi sebelum serangan itu terjadi –menurut keterangan Mgr Zenari – Sr Rima bermeditasi merenungkan kisah Yesus yang mengusir setan, dan kemudian ia mengaku kepada Allah bahwa ia bersedia menyerahkan hidupnya jika pengorbanan itu bisa meringankan penderitaan penduduk Suriah.

Setelah berdoa, ada dua suster keluar untuk melakukan kunjungan sebagaimana biasa dilakukan ke keluarga dan orang-orang sakit, mereka berjanji akan kembali pada saat makan siang nanti.

“Uskup memberi kesaksian bahwa orang terakhir yang melihat Sr. Rima adalah tukang kebun dari Biara Carmelit yang ada di sebelah biara mereka, yang juga terletak beberapa puluh meter dari universitas. Sekitar jam 12, orang itu berbicara dengan suster ketika kerja pagi, beberapa saat tengah saling berbicara, mereka terkena ledakan yang melanda diding biara. Sang tukang kebun tak sadarkan diri dan terluka, ketika tersadar ia hanya melihat puing-puing berserakan.

Mgr. Zenari mengatakan bahwa keluarga korban telah “mengunjungi semua rumah sakit di kota, dan berharap setidaknya menemukan jenasah suster, namun sebagian besar jenasah yang diambil dari puing-puing sudah tidak dapat dikenali dah harus dilakukan tes DNA untuk mengenalinya.

Mgr. Zenari menegaskan bahwa Sr. Rima adalah korban religius Katolik pertama dari perang. “Dia hanya salah satu dari banyak nyawa yang juga hilang karena pembantaian, yang menghancurkan kehidupan semua rakyat Suriah tanpa membedakan keyakinan, etnis, dan afiliasi politik.” Situasi kini amatlah tragis: Mereka yang tidak mati karena reruntuhan bom atau penembakan, harus tetap mampu bertahan dalam kesulitan (seperti di Aleppo dan kota lain) karena kekurangan: listrik, gas, makanan, dan obat-obatan. Untuk pemanasan di rumah-rumah, orang-orang menebang pohon di taman umum.

Menurut keterangan Mgr. Zenari terdapat setidaknya 120 orang tewas pada hari serangan di Universitas Aleppo itu. Sementara secara keseluruhan korban tewas dalam satu hari mencapai angka 216 korban. Angka-angka ini telah menjadi kehidupan kami sehari-hari. Media juga sudah tak kaget lagi memberitakannya. Namun dibalik setiap cerita, selalu ada penderitaan dan rasa sakit yang tak pernah boleh dilupakan.

diterjemahkan dari: http://www.asianews.it/notizie-it/Siria,-Nunzio-vaticano:-Non-dimenticate-suor-Rima-e-le-centinaia-di-vittime-di-questa-guerra-26920.html oleh: Sdr. Melanius Sesar Jordan, OFM

foto credit: www.asianews.it

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *