Kapitel Provinsi OFM-Indonesia 2013 Dimulai

[tab name=”Berita”] Minggu Sore, 22/9, di keheningan Biara Santa Clara Pacet, Puncak, Jawa Barat, Kapitel Provinsi OFM St. Mikhael Malaikat Agung Indonesia dibuka dalam ibadat dan Ekaristi yang dipimpin Sdr. Adri Nahal, pastor Paroki St. Fransiskus Assisi Karot, Ruteng-Flores, NTT. Acara pembukaan berlangsung khidmat, hening, dan reflektif. Tiga puluh enem peserta hadir untuk mengikuti perhelatan selama delapan hari ini, 22-29 September. Mereka datang dari Timor Leste, Atambua, Flores, Jogja, Jawa Barat, dan Jakarta.

Nuansa persaudaraan sungguh terasa dalam perjumpaan para saudara di hari pertama, semenjak pagi hingga sore itu. Namun sayang, ibadat dan Ekaristi pembukaan kapitel sore itu berlangsung tanpa kehadiran Saudara Vitalis Nonggur, dan Saudara Agung Setiadi yang belum tiba. Keduanya peserta kapitel dari Gardianat Bonaventura Jogjakarta.

Nahal dalam homilinya mengajak para saudara untuk tetap setia menghayati cara hidup fransiskan. “Kesempatan kapitel ini,” demikian Nahal, “mengundang kita untuk melihat kembali kesetiaan kita dalam mewujudkan panggilan kita. Hanya kita sendiri yang tahu sejauh mana kita telah menunjukkan kesetiaan dalam tugas dan pelayanan.”

Mengutip Jose R. Carballo, dalam dokumen ordo Identitas Fransiskan Kita, Nahal juga mengajak para Saudara untuk menjadi pemberontak-pemberontak Injili. Di tengah berbagai krisis yang dihadapi saat ini, sang pemberontak Injili mampu mengubah krisis itu menjadi kesempatan mewujudkan nilai-nilai mendasar yang telah kita dijanjikan untuk dihayati. Dengan itu, panggilan kita menjadi lebih profetis dan bermakna bagi zaman ini.

Acara pembukaan hari pertama dilanjutkan dengan rekoleksi sesi pertama dari tiga sesi yang akan berlangsung selama tiga hari pertama kapitel. Di sesi pertama malam itu, pkl 20.00-20.45, Sdr. Martin Harun mengajak para Saudara untuk menggeluti tema Hidup Injili secara radikal. “Marilah kita” demikian Harun, “mengikuti Yesus secara lebih dekat, berpegang pada Injil Suci, merenungkan Sabda Tuhan dan menghayatinya dalam doa dan kebaktian terus-menerus. Dengan itu, hidup kita menjadi persembahan diri yang utuh kepada Allah dalam cinta kasih”

Hidup Injili juga mencakup pertobatan terus menerus. “Kita tidak saja diharapkan untuk memiliki semangat tobat tetapi memiliki pertobatan yang menghasilkan buah yang pantas. Pertobatan St. Fransiskus memberikan kita dua dimensi pertobatan. Di satu sisi, tobat berarti berbalik kepada Allah. Di sisi lain, tobat berarti berbalik kepada orang kecil” pungkas profesor emeritus Kitab Suci STF Driyarkara ini.

Lebih lanjut ia menegaskan, “Sebagaimana Santo Fransiskus memulai hidup pertobatan dengan melayani orang-orang kusta dan mengenali Yesus Kristus di dalam diri mereka, demikianlah hendaknya Saudara-saudara dalam pertobatan berusaha untuk melayani orang-orang yang paling kecil, sementara mengenali Putera Allah di dalam diri mereka.”

Dalam konteks globalisasi saat ini, misionaris kelahiran Belanda ini menengarai adanya segi negatif yang menghambat dan juga segi positif yang membantu kita untuk maju. “Kita, dalam situasi dan budaya kita, ditantang untuk memberi warna baru dalam menghayati dimensi fransiskan kita!” Di tengah situasi ini juga kita menegaskan identitas kita.

“Berdasarkan Konstitusi Umum” demikian Harun, “ada tiga hal yang merupakan identitas kita.” Pertama, hidup Injili secara radikal dalam doa dan kebaktian yang berpancar dari roh. Kedua, memberi kesaksian tentang pertobatan dan kedinaan dalam persekutuan antarsaudara. Ketiga, wajib membawa berita Injil. Hal ini menegaskan misi kita dalam gereja dan dunia. )*
[/tab][tab name=”Foto-foto”]

Adrianus Nahal OFM memimpin misa pembukaan.

Adrianus Nahal OFM memimpin misa pembukaan.

Suasana makan di ruang makan Biara Klaris Pacet.

Suasana makan di ruang makan Biara Klaris Pacet.

Suasana konferensi sesi pertama

Suasana konferensi sesi pertama

Martin Harun OFM membawakan tema "Hidup Injili secara radikal."

Martin Harun OFM membawakan tema “Hidup Injili secara radikal.”

[/tab][end_tabset]

Post navigation

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *