Kebangkitan Kristus dan Perjuangan Akan Kemanusiaan

Ilustrasi Wafat dan Kebangkitan Kristus

Ilustrasi Wafat dan Kebangkitan Kristus

Pelecehan terhadap martabat manusia marak terjadi di sekitar kita dengan bentuk yang beragam. Misalnya saja pembunuhan, pemerkosaan, penganiayaan, penculikan, dsb. Meskipun marak terjadi, namun banyak orang yang lebih memilih diam daripada bersuara demi pemulihan dan penegakkan hak asasi manusia. Dari kasus-kasus tersebut, salah satu hal yang kini mendapat perhatian publik adalah hukuman mati. Joko Widodo, Presiden RI, dipuji lantaran ketegasannya dalam menjatuhkan hukuman mati bagi para terpidana. Namun ada sebagian kecil orang yang justru mengecam “ketegasan” Jokowi tersebut. Mereka ini termasuk sebagian kecil orang yang berani bersuara demi penegakkan dan penghargaan atas hak asasi manusia.

Isu mengenai hukuman mati inilah yang menjadi salah satu sorotan dalam rekoleksi Saudara Muda. Rekoleksi yang bertempat di Biara St. Antonius Padua ini berlangsung sejak hari Sabtu (11/04/2015) sampai Minggu (13/04/2015), dan dihadiri seluruh Saudara Muda Jakarta. Rekoleksi dibawakan oleh Sdr. Mateus Batubara, OFM dengan mengusung tema “Kebangkitan Kristus dan Perjuangan Akan Kemanusiaan”. Rekoleksi diawali dengan pengantar dan pendalaman tema rekoleksi dari Sdr. Mateus pada Sabtu malam. Rekoleksi dilanjutkan keesokan harinya dengan diawali sharing dalam kelompok mengenai isu hukuman mati, dilanjutkan presentasi hasil diskusi setiap kelompok dan pendalaman hasil diskusi yang dipimpin oleh Sdr. Mateus, dan kemudian dilanjutkan dengan misa bersama. Keseluruhan rekoleksi ini ditutup dengan makan siang bersama.

Dalam refleksinya, Sdr. Mateus berangkat dari pengalaman berjuang bersama masyarakat lingkar tambang untuk memperjuangkan hak hidup di atas tanah adatnya. Sebagaimana pengalamannya, Sdr. Mateus melihat bahwa kaum religius memiliki kekuatan yang cukup berpengaruh sebagai penggerak dalam aksi-aksi perjuangan membela hak asasi manusia manusia. Namun, adakalanya upaya memperjuangkan penegakkan hak asasi manusia masih dipengaruhi oleh emosi, soal rasa suka atau tidak. Ambil contoh adalah kasus Tibo cs dan kasus terorisme Amrozi cs. Ketika Tibo cs hendak dieksekusi mati, kita menjadi garda terdepan dalam menolak keputusan eksekusi mati Tibo cs. Akan tetapi dalam kasus Amrozi cs, kita seakan diam. Bahkan tidak dapat disangkal kalau banyak dari kita saat itu justru mendukung eksekusi mati atas Amrozi cs. “Seorang teroris sudah sepantasnya dihukum mati”, demikian kalimat yang mungkin terlontar dari mulut kita. Perjuangan untuk menolak hukuman mati bukanlah soal emosi, rasa suka tidak suka. Lebih dari itu penolakan atas hukuman mati merupakan perjuangan akan nilai-nilai kemanusiaan. Penolakan atas hukuman mati harus berlandaskan sebuah kesadaran dan pemahaman akan nilai universal kemanusiaan, sebuah penghargaan atas hidup manusia.

Sebagai orang Katolik posisi kita sudah jelas, yakni menolak hukuman mati. Memang tidak dapat disangkal bahwa Gereja Katolik sendiri dalam sejarahnya pernah memperbolehkan dilaksanakannya praktik hukuman mati dalam kasus-kasus tertentu. Akan tetapi semenjak Paus Yohanes Paulus II mengeluarkan ensiklik Evangelium Vitae pada tahun 1995, Gereja Katolik mempertegas posisinya berkaitan dengan hukuman mati. Dengan tegas Gereja Katolik menolak hukaman mati. Gereja lokal sendiri, dalam hal ini KAJ, melalui surat Mgr. Ignasius Suharyo, Pr yang ditujukan kepada para imam, juga dengan tegas menolak praktik hukuman mati.

Lebih lanjut, menurut Sdr. Mateus kematian Yesus merupakan silih atas dosa-dosa manusia, dan dengan kebangkitan-Nya kehidupan manusia dipulihkan. Tindakan Yesus yang rela wafat di salib menjadi tanda kasih tak bersyarat. Selain itu kasih akan menjadi signifikan jika kita pernah diampuni. Kita tidak dapat berbicara panjang lebar tentang kasih apabila kita tidak pernah memiliki pengalaman diampuni. Seorang yang berbuat jahat pasti akan merasa sangat senang apabila ia diampuni. Begitu juga relasi kita dengan Allah. Kendati berulangkali kita berbuat dosa, berulangkali pula Ia mengampuni dosa-dosa kita. Hal yang sama diungkapkan Paus Fransiskus “Allah tidak pernah lelah memaafkan, tetapi manusialah yang lelah untuk meminta maaf”. Akhirnya, Sdr. Mateus mengutip Yoh. 8:1-11 sebagai pegangan bagi kami untuk menaruh hormat yang besar pada kehidupan manusia. Dalam kisah tentang perempuan yang ketahuan berbuat zinah ini Yesus tidak menghakimi perempuan tersebut, tetapi justru ia membela wanita itu terhadap ancaman hukuman mati. Bahkan Yesus menantang ahli-ahli Taurat dan kaum Farisi yang merasa diri benar untuk untuk melempar perempuan itu. Akan tetapi, karena malu maka satu persatu mereka meninggalkan wanita itu bersama Yesus.

Keadilan yang hendak dicapai bukanlah kematian seorang penjahat demi menebus kejahatannya atau demi kebaikan banyak orang, tetapi keadilan yang ingin dicapai adalah penghargaan atas hidup manusia yang diakui secara universal. Siapakah kita sehingga berhak atas mati atau hidup sesama kita? Apakah kita yang menentukan kapan sesama kita datang dan pergi dari dunia ini?

Kontributor : Sdr. Haward

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *