Keistimewaan FSGM di Akhir November

[tab name=’Berita’]Tidak seperti yang sudah-sudah, pesta pada 27 November 2012 di Lingkungan Keluarga Religius FSGM kali ini menyibakkan beberapa hal yang patut dicatat. Pesta itu berlangsung di Jl Gereja 13, Pringsewu, Lampung.

Perihal jumlah pestawan, bukanlah sesuatu yang luar biasa di lingkungan FSGM. Sebab jumlah 6 Suster FSGM (Amanda, Klarina, Alice, Febriane, Isabella, Mariela) yang mengucapkan profesi kekal, bukanlah angka luar biasa, meskipun berapa pun jumlahnya tak bakal FSGM dan kita semua menahan ucapan syukur kepada Tuhan.

Jumlah 5 Suster FSGM (Felisita, Filipa, Kornelia, Aquina, Adriana) yang bersyukur kepada Tuhan atas kesetiaan-Nya menyertai mereka selama 25 tahun hidup dalam profesi religius, juga tidak istimewa.

Kalau demikian halnya, apa saja keistimewaan yang dapat dicatat? Berikut ini dikemukakan catatan singkat berdasar penglihatan sepasang “mata bola”.

TUJUH KEISTIMEWAAN

SATU. Dua pestawati, yakni Sr M Leonardi FSGM dan Sr M Dominica FSGM, melangkah maju dalam prosesi awal Ekaristi dengan mantap, tegak, dan bungah-semringah (wajah berseri). Betapa tidak? Pernik-pernik dalam wujud seperangkat kuntum bunga yang dipasang di atas kap (sluijer) itu berwarna emas. Warna itu dimaksudkan untuk menunjukkan mereka berhasil menyabet “emas”. Sabetan itu dimungkinkan terutama oleh Tuhan yang hidup dan berkarya bagi mereka berdua. Hal ini istimewa! Sebab angka 50 (tahun) bukannya angka yang pendek dalam hitungan waktu. Ada pelbagai sebab yang membuat banyak orang tidak sampai “menyabet emas” dalam hidup religius. Pasti kedua suster itu berucap syukur tiada putus kepada Tuhan.

DUA. Selebran utama Ekaristi adalah Uskup Keuskupan Agung Palembang, Aloysius Sudarso SCJ. Beliau tengah merangkap tugas sebagai Administrator Apostolik Keuskupan Tanjung Karang. Peristiwa ini sangat langka dan istimewa. Mengapa? Sebab selama bertahun-tahun Ucapan Syukur dalam Ekaristi seperti ini dipimpin oleh Bapak Uskup Tanjung Karang, Andreas Henrisoesanto SCJ. Banyak orang merasakan, khotbah Selebran Utama sangat sejuk. Karena diungkapkan terimakasih yang komplit. Selain itu, siraman rohaninya memberi inspirasi segar.

TIGA. Sejauh mata memandang dan membandingkan dengan tahun-tahun yang silam, peristiwa 27 November kali ini sangat mencolok mata. Hal ini berhubungan dengan kehadiran imam-imam diosesan Keuskupan Tanjung Karang. Istilah untuk mereka yang kini dipopulerkan adalah RD, singkatan dari Rama Diosesan atau Reverendus Dominus. RD ditulis di depan nama, sehingga istilah Praja (Pr) pelan-pelan mulai digudangkan. Menarik, bahwasanya para Tuan Diosesan itu banyak sekali yang hadir. Hal ini merupakan sesuatu yang bagus, dan menjadi pertanda yang berbicara.

EMPAT. Peristiwa 27 November juga ditandai oleh kehadiran OFM dalam jumlah sangat besar. Para Fransiskan yang terlibat langsung dalam pendampingan Retret FRIP (Sdr Aloysius Triyono OFM dan Bonefatius Budiman OFM) hadir dalam kekuatan penuh. Selain mereka, tentu saja, Minister Provinsi (Adrianus Sunarko OFM). Tidak ketinggalan kehadiran Sdr Damasus Ujan Lekan OFM, Sdr Anton Widarto OFM, Sdr Agustinus Agus Dewantara OFM, Sdr Stanislaus Sukartanto OFM, Sdr Kristian Emanuel Stefan OFM, Sdr Hendrik Seta OFM, dan kontributor reportase ini. Jadi, seluruhnya berjumlah 10 Saudara. Sebuah Angka yang genap! Apalagi, mereka ini mewakili OFM seluruh Provinsi St Mikhael Indonesia.

LIMA. Lagu “Kubersyukur pada-MU, TUHAN” yang diciptakan oleh Sdr Stanislaus Sukartanto OFM dinyanyikan oleh semua pestawan dengan sepenuh hati dan penjiwaan. Syair lagunya mengena. Jiwa lagunya hidup. Irama lagunya dinamis. Sukartanto telah mengerahkan kemampuannya untuk mengungkapkan hatinya yang disentuh oleh Tuhan. Lagu itu menjadi istimewa karena para pestawan melantunkannya tanpa memegang teks, dan penuh perasaan mengungkapkan kandungan lagu tersebut.

ENAM. Di luar gedung gereja, saat ramah tamah, kedua komposer FSGM (Sr M Edita) dan OFM (Sdr St Sukartanto) berhasil dipertemukan. Peristiwa pertemuan ini sangat langka, dan penulis reportase ini menjadi saksi perjumpaan tersebut. Bisa dibayangkan, perjumpaan para pakar kiranya mengungkap kedalaman estetika tingkat tinggi.

TUJUH. Keistimewaan peristiwa 27 November terletak dalam rangkaian lagu yang disiapkan dengan sungguh-sungguh oleh koor. Paduan suara berhasil menyanyikan semua lagu yang bagus-bagus, baru-baru, merdu-merdu, dan empuk-empuk. Koor berhasil mendominasi semua lagu, sehingga umat sangat jarang membuka mulut untuk ikut bernyanyi. Tetapi semua umat tetap bernyanyi dalam hati untuk memuji dan bersyukur kepada Tuhan.

Setelah acara syukur di Komunitas Pusat, Jl Gereja 13, Pringsewu tersebut usai, sekitar 80an Suster FSGM, yang terbilang dalam kelompok Pelayan Persaudaraan FSGM bergeser ke RR La Verna, Padang Bulan.

Di La Verna ini berlangsung Temu Akbar Pelayan Persaudaraan (TAPP) FSGM. Selama 2 (dua) hari penulis reportase ini mendampingi para hadirin untuk mengenali lebih baik lagi rancangan hidup dan kerja selama 2013.

Selama tahun 2013 tersebut, FSGM memfokuskan perhatian dengan memandang dan menimba dari Sang Sumber Kehidupan. Fokus itu diuraikan dalam penghayatan profesi religius: kemurnian, kemiskinan, dan ketaatan.

Akhirnya, selamat menempuh hidup religius secara lebih sungguh setelah mengucapkan profesi kekal, merayakan pesta perak dan emas dalam biara sebagai Fransiskan. “Angkatlah pujian, dan naikkan syukur atas campur tangan Tuhan dalam hidup manusia beriman. Terimakasih atas kesaksian hidup para pestawati, FSGM.”

Kontributor: A. Eddy Kristiyanto, OFM [/tab][tab name=’Foto-foto’]

Sdr. St. Sukaranto OFM & Sr. M. Editha FSGM

Sdr. St. Sukartanto OFM & Sr. M. Editha FSGM

[/tab][end_tabset]

Post navigation

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *