Kembali Ke Masa Depan

[tab name=’Berita’]

Di sela-sela Sidang Sinodal Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), 5-15 November 2012, Saudara Uskup Jayapura (Leo Laba Ladjar) meluangkan waktu untuk berziarah dan beranjangsana.

Bersama Sdr. St. Sukartanto OFM (driver handal mobil PA Vincentius), A Eddy Kristiyanto (pembuat reportase ini), Saudara Uskup berziarah ke makam para Fransiskan di Kali Mulya, Depok. Praksis, seluruh hari Minggu, 11 November 2012 digunakan untuk kegiatan tersebut.

Pertama, mobil meluncur ke Kali Mulya. Di sana segera dibakar lilin-lilin yang nyalanya tidak lama. Karena angin bertiup kencang. Kunjungan ke Kali Mulya ini merupakan “langkah kembali ke masa depan”. Sebab, semua Fransiskan Provinsi St Michael (Indonesia) berharap wafat sebagai Fransiskan dan dimakamkan di Kali Mulya. Sdr Uskup memimpin doa dan memberikan berkat untuk intensi semua Saudara yang beristirahat di makam tersebut.

Di makam Kali Mulya ini, kami berjumpa dengan dan mengenali pekerjaan “penjaga makam” Katolik, yakni Bp Dalimin. Rombongan kecil peziarah ini tak lupa singgah dan mendoakan semua saudara yang beristirahat di pemakaman tersebut.
Kedua, tema “ziarah” dialihkan ke tema “anjangsana”. Oleh karena itu, kami berkunjung singkat ke keluarga Jl Mawar 11 (orangtua Sdri Berliana, yang tengah studi alkitab di Roma), dan Jl Kamboja, yakni Novisiat Transitus.

NOSTRADE

Kami sudah memberitahu, akan bergabung dalam makan siang di Novisiat Transitus Depok (Nostrade). Terpampang di sana daftar 25 penghuni Nostrade. Tetapi de facto penghuninya tidak sebanyak itu. Mengapa? Karena, de facto para novis hanya ada 18 orang. Ada beberapa orang yang sudah meninggalkan Nostrade, tetapi nama “panggilannya” masih tertulis di papan. 3 Saudara Tua (Sdr. Edy Wiyono, Bone Budiman, Yoseph Ogut) tidak semuanya menetap di Nostrade.

Setelah makan siang sederhana: nasi, ikan, sayur, buah kami pamitan. Saudara Uskup tidak lupa melemparkan pertanyaan kepada para novis, “Siapa yang berminat ke Papua?” Tak genap 5 novis yang mengangkat tangan. Anjangsana dilanjutkan ke Casa di Ritiro, yang siang ini hanya dihuni oleh Sdr. Alex Lanur. Karena Sdr. Yan Ladju sedang melayani retret di Kalimantan Barat. Fransiskan kelahiran Lengko Ajang (Manggarai) itu segera menyambut rombongan kecil dan berbicara dengan Saudara Uskup di ruang tamu.

TUNGGU URUTAN

Kata-kata yang diungkapkan Saudara Uskup di hadapan Sdr Alex Lanur adalah “Tunggu urutan, jangan meloncat”. Apa maksudnya? Dalam dua bulan terakhir 2 Saudara (Petrus Djehadan dan Ferdinand Sahadun) seakan tak menghiraukan urutan dan meloncat – mendahului “berangkat” ke alam baka.

Kedua Saudara yang sudah “berangkat” itu relatif muda, dan ada Saudara-Saudara yang usianya lebih banyak daripada kedua Saudara tersebut. Ungkapan Saudara Uskup itu mendorong saya untuk memunculkan pertanyaan reflektif berikut.
Apakah gaya hidup dan pola makan kita, para Fransiskan, sehat? Hidup sehat adalah hidup yang seimbang. Makan makanan yang sehat. Olah raga cukup terjamin. Meditasi (doa-kontemplatif) terjaga.

Ungkapan bijak mengatakan, “Tubuh dan hidupmu bukanlah milikmu!” Makanya, tubuh bukan untuk disia-siakan, tidak dipelihara dengan hormat, melainkan dijaga dan dipertanggungjawabkan. Ketidakacuhan pada tubuh dengan gaya dan pola makan tidak sehat hanya berarti pelecehan terhadap anugerah Tuhan.

Anjangsana sesungguhnya hendak dilanjutkan kepada Sdr. Urbanus K Ratu di Pastoran St. Paulus, Jl. Melati, Depok. Tetapi rencana ini dibatalkan karena tidak ada respon dari yang bersangkutan setelah dihubungi dari Nostrade.
Lain halnya dengan kunjungan kepada Sdr Aegidius Ngarut di Pastoran St. Paskalis, Cempaka Putih, Jakarta. Pastor Rekan Paroki St Paskalis ini sudah siap menerima Saudara Uskup. Sebotol bir Bintang sudah disiapkan. Pengalaman dan ingatan akan masa lalu menghidupkan pembicaraan di ruang komunitas Paskalis.

Sudah sekian tahun lamanya, Saudara Uskup tidak berjumpa dengan Sdr. Aegidius Ngarut, Sdr Yosef P Tolok. Maka itu, kunjungan-kunjungan Saudara Uskup pasti meneguhkan perjalanan banyak Saudara di Provinsi. Sekaligus, kunjungan itu memperlihatan keterikatan tak terceraikan, yakni spirit kefransiskanan yang masih dan terus hidup dalam diri Saudara Uskup kita. Terimakasih atas hati yang tetap bernyala, Saudara Uskup Leo Laba Ladjar!****

Kontributor: Sdr A Eddy Kristiyanto OFM[/tab][tab name=’Foto-foto’]

Mgr. Leo L. Ladjar OFM & P.Alex Lanur OFM

(ki-ka) Br. St.Sukartanto OFM, P.Bone Budiman OFM, Br. Edi Wiyono OFM

Makan siang di Nostrade bersama para novis OFM

Bersama pengurus makam di Kali Mulya, Depok.

[/tab][end_tabset]

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *