Kuta Mendahului Sassone

[tab name=”Berita”] Dalam rangka Kongres Internasional Pertama tentang Misi dan Evangelisasi yang diselenggarakan Ordo Fransiskan, saya berangkat ke Sassone, Roma, Italia. Acara dibuka pada 18 Mei 2014 dan ditutup pada 28 Mei 2014. Peserta yang hadir ada 150 orang yang berasal dari 30 an negara. Mengingat pentingnya acara ini, maka perlu dirancang dan dilaksanakan dengan ekstra teliti, supaya bukan hanya hasil yang tercapai, tetapi juga proses berjalan sesuai rencana.

BALI BANGETS
Sebelum bernyanyi tentang kongres ini saya hendak menuturkan perbedaan pengorganisasian workshop internasional Office of Theological Concerns, suatu Office dalam Federasi Konferensi Uskup-uskup Asia dengan kongres di Sassone ini.

Pada 4 Mei 2014, berlangsung worshop di Palm Beach Hotel, Jl. Benggala 1, Kuta. Hadir dalam acara itu 18 orang, termasuk 1 perempuan awam dari Philippina, 4 Uskup (Indonesia, India, Bangladesh, Singapura), dan 13 imam (Vietnam, Jepang, Taiwan, Korea, Philippina, Indonesia, Thailand, Malaysia, Sri Lanka, Pakistan, India). Philippina, Indonesia (dan seharusnya juga India) mengutus lebih dari satu. Kardinal Luis Antonio Tagle dari Philippina, yang adalah Ketua OTC, tiba-tiba menyatakan berhalangan hadir.

Waktu itu, saya mengatur segala sesuatunya dengan teliti dan teratur. Dari observasi tentang tempat, fasilitas yang disediakan, biaya per orang, sampai dengan acara. Karena OTC hanya menanggung USD 50 per orang/hari, maka bagaimana caranya agar workshop bisa diadakan di Kuta Bali, padahal biaya per orang/hari IDR 750,000.00? Biaya ini relatif murah! Sebab partisipan menikmati 1 kamar privat, ruang sidang, internet, antar-jemput ke dan di Bandara, makan 3 kali dan snack 2 x.

Selain itu, ada 1 hari “off” (tanpa sidang). Hari itu dimanfaatkan untuk mengenal sebagian kecil kekayaan Bali: Kunjungan ke Museum Kertagosa, Puri Besakih yang disebut sebagai mother temple of Bali Hinduism, Kintamani (dan makan siang dengan view indah), Tanah Lot, dan setelah “sunset” menyaksiakan cultural performance berupa Tari Kecak sebelum makan malam di sekitar Tanah Lot. Semua peserta masuk dalam satu minibus. Karena biaya untuk sightseeing ini di luar tanggungan FABC, maka kami – pihak tuan rumah – mencari donatur yang bersedia menanggung macam-macam biaya ini.

Dicarikan pula donatur yang rela menjamu kami untuk satu perjamuan makan malam (dinner). Berkat jasa Vikaris Jendral Keuskupan Agung Jakarta (Rm Yohanes Subagyo) saya dihubungkan dengan Keluarga Lily, pemilik Resto Bali Bakery, yang bersedia dengan senang hati menjamu para peserta pertemuan internasional ini. Di sini para peserta menikmati hidangan yang uenak bangets dengan keramahtamahan dan kehadiran pemilik resto.

Untuk acara ke luar tempat sidang tidak berakhir di Resto Bali Bakery. Sebab Pastor Hubertus “Ibet” Hadi, Iman Diosesan dan Pastor Paroki Fransiskus Xacerius, Kuta (Bali) masih memanjakan diri kami dengan berkunjung ke Bali Safari and Marine Park di Gianyar, sekitar satu jam berkendaraan dari Kuta. Di sana kami disuguhi cultural performance, sebuah pertunjukan indah dengan memadukan pelbagai unsur: multi media, mitos, wayang, tari, kearifan, gamelan, fauna, perpaduan budaya, dan lain sebagainya. Semua diracik dengan apik, dinamis, dan memanjakan mata. Pokoknya, Bali bangets gilo lhoh! Setelah pertunjukan selama 55 menit itu, kami berkeliling menonton koleksi binatang di Taman Safari, sebelum akhirnya melihat kekayaan laut dalam aquarium.

TETEK BENGEK PELAYANAN

Mengingat keanggotaan saya di OTC – FABC digantikan oleh Pastor Leonardus Samosir OSC (dari Bandung), maka kedatangan saya di Bali memiliki peran khusus. Tahun lalu (2013) dalam pertemuan di Kuala Lumpur diputuskan bahwa annual meeting OTC-FABC pada Mei 2014 akan diselenggarakan di Bali. Saat itu saya masih menjadi anggota OTC. Keputusan itu berdampak lebar. Sebab setelah itu saya tidak lagi berperan sebagai sekretaris eksekutif Komisi Teologi KWI. Salah satu butir Statuta Komisi ini menyatakan, bahwa sekretaris eksekutif komisi menjadi anggota OTC. Kini persoalan muncul: pengganti saya orang baru yang masih hijau mengurus pertemuan OTC, sementara itu Ketua Komisi, Mgr. Petrus Boddeng Timang, melihat saya bisa menangani pertemuan tersebut. Maka, jadilah saya sebagai “general assistant” {sebuah eufemisme untuk peran pembantu umum} untuk seluruh pertemuan itu.

Itulah sebabnya, bukan OTC-FABC yang menanggung seluruh biaya saya selama berada di Bali, melainkan Komisi Teologi KWI. Seluruh pekerjaan ditangani oleh general assistant, seperti menyiapkan dan memastikan hotel, kemudahan yang disediakan, menjemput para peserta (ini penting, karena saya sudah mengenal semua peserta yang hadir) di bandara, dan mengantar mereka, menyediakan diri untuk memfasilitasi penukaran uang, mencarikan informasi tentang tempat-tempat penjualan sourvenir, memastikan alat angkut saat sightseeing dan tempat santap malam di luar hotel, mengatur pembayaran, mencarikan tempat sewa printer dan laptop (untuk para peserta – ini tertutama untuk jaga-jaga jika dibutuhkan), mengkoordinasi ekaristi mari Minggu bersama umat di gereja paroki Kuta, belanja untuk keperluan happy hour (rekreasi malam), menjadi contact person yang menjembatani antara pihak hotel dan OTC, dan lain sebagainya.

Dalam banyak artian peran “general assistant” itu sangat penting dan tidak tergantikan. Ia bagaikan seorang gardian dan induk ayam yang melindungi serta mencarikan makan agar “anak-anak ayam” terpelihara dengan baik, sehingga mampu melaksanakan tugas dan perannya masing-masing dalam kebersamaan. Tugas atau peran ini juga sudah harus dikerjakan sebelum annual meeting. Sebab pelbagai invitation letter bahkan pengurusan clearence letter dari Imigrasi Indonesia harus dibuat dan diurus, terutama untuk peserta dari Sri Lanka, Pakistan, Bangladesh, dan India. Tentu, para peserta dari negara-negara ASEAN, Jepang, Taiwan, Korea tidak membutuhkan samasekali entah invitation letter, entah clearence letter. Yang paling sulit adalah mengurus clearence letter yang didapat dari Kantor Imigrasi RI untuk peserta dari Bangladesh. Sebab Imigrasi Indonesia menuntut: curiculum vitae, ijazah terakhir, fotocopy tiket, fotocopy paspor. Pengurusan clearence letter ini dalam kenyataannya ribet, dan satu-dua hari sebelum acara di Kuta dimulai, barulah clearence letter dikeluarkan pihak imigrasi. Tambahan pula, kebutuhan akan clearence letter itu baru disampaikan seminggu sebelum pertemuan dimulai.

Inti dan jiwa dari urusan tetek bengek ini tidak lain adalah pelayanan. Apalagi ketika penjemputan, misalnya, dua peserta dari Korea Selatan dan Philippina, sungguh memakan energi. Di tempat tunggu (penjemputan) tidak ada kursi. Jadi, penjemput harus berdiri. OK ini bisa dimengerti! Tetapi ketika kedua peserta itu datang pk 00.30 dan 01.30 dini hari, belum lagi menunggu antrean di bagian imigrasi, tentu ini merupakan jadwal yang tidak biasa bagi saya. Pengalaman kita juga memerlihatkan, ketika datang di negeri asing dan dijemput oleh orang yang sudah kita kenal, rasa hati ini aman, nyaman, dan sejuk. Begitu pula yang dirasakan oleh para peserta. Hal itu mereka ungkapkan, ketika mereka sudah sampai lagi di negeri mereka, mereka mengirim e-mail mengucapkan banyak terimakasih dan menyebut hal-hal yang menggembirakan mereka.

Dalam rangka persidangan itu, saya menangani bagian pelayanan yang bisa dirasakan. Hal itu terungkap dari banyaknya e-mail dari para peserta yang saya terima setelah mereka semua sampai di negeri masing-masing. Hospitalitas, fasilitas, kemurahan hati, dan keramahtamahan menjadi kata-kata kunci yang membuat acara ini mencapai tujuan bersama. Pengalaman akan (acara di) Kuta ini menyisakan kenangan sekaligus pengalaman yang membekas.

Saya jadi teringat akan karya Azim Jamal dan Harvey McKinnon yang berjudul The Power of Giving, (2013) yang pada prinsipnya merupakan rahasia. Sebab semakin banyak kita memberi semakin lebih banyak lagi kita menerima. Bukankah Being generous in spirit and deed is a great comfort to the soul? And more, being kind is the simplest way to become who we really are. And when we give, we have a chance to make an incredible impact during and often beyond our life. And when we give without expecting a return, we reap even more benefits.

Dengan bekal ini saya tinggalkan Kuta, untuk melepas hari-hari dalam sepekan sebelum akhirnya mendarat di Fiumicino, Roma untuk mengikuti Kongres Pertama tentang Misi dan Penginjilan Ordo Fransiskan yang diselenggarakan di Sassone, 18-28 Mei 2014.****

Kontributor : Sdr. Antonius Eddy Kristiyanto, OFM
[/tab][tab name=”Foto-foto”]

Para peserta "an annual meeting and workshop" OTC-FABC, 4-12 Mei 2014 di Palm Beach Hotel, Kuta, Bali.

Para peserta “an annual meeting and workshop” OTC-FABC, 4-12 Mei 2014 di Palm Beach Hotel, Kuta, Bali.

Semua partisipan rapat tahunan dan lokakarya OTC-FABC mendapat 'ikat kepala khas Bali". Sdr Eddy Kristiyanto OFM bergaya " beti leas (sakit pinggang) di Tanah Lot.

Semua partisipan rapat tahunan dan lokakarya OTC-FABC mendapat ‘ikat kepala khas Bali”. Sdr Eddy Kristiyanto OFM bergaya ” beti leas (sakit pinggang) di Tanah Lot.

"Berkibar juga menjelang senja". Panorama dari pantai Kuta.

“Berkibar juga menjelang senja”. Panorama dari pantai Kuta.

[/tab][end_tabset]

Post navigation

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *