Lalu Apa yang Masih Tersisa?

Salah seorang tokoh besar bangsa ini, Ir. Soekarno, pernah menuturkan: “Jangan sekali-kali kita meninggalkan sejarah!” (Disingkat Jasmerah). Bagaimanapun peristiwa yang terjadi di masa lampau merupakan bagian tak terpisahkan dalam eksistensi kehidupan manusia, sebagai titik tolak dan bahan pembelajaran untuk menjalani masa kini dengan baik demi merangkai masa depan yang cerah.

Cerita-cerita masa lampau memang menarik untuk disimak. Mungkin di masa kecil kita masing-masing, kita biasa mendengar kisah-kisah dongeng dan perjuangan zaman dahulu sebagai pengantar tidur yang baik. Namun “dongeng” dan kisah masa lampau perjalanan Fransiskan ini tentu tidak bermaksud “me-nina bobok-an” kita semua. Justru dengan menyadari identitas awal ini, kita harus bangun dan mengukur, kira-kira sejauh mana nilai-nilai dibalik kisah klasik itu bisa jadi tetap relevan dan nyata di masa ini.

Pertanyaan yang kini muncul yakni hal-hal apakah yang masih bisa dipertahankan (untuk terus dihayati di zaman ini) dari cara hidup mengikuti Kristus dalam teladan Fransiskus Asisi ini setelah sekian ratus tahun? Bersama Sdr. Yan Ladju OFM, kami para saudara muda tingkat II berkesempatan mendalami sejarah Ordo Saudara Dina dari tahun 1517 sampai dengan masa kini (terutama sampai terbentuknya Ordo Fratrum Minorum sebagai sebuah tarekat resmi dalam Keluarga Besar Fransiskan tahun 1897 oleh Paus Leo XIII). Dengan beberapa sumber yang ada, khususnya dari Franciscan history : The three orders of St. Francis of Assisi karya Sdr. Lazaro Iriarte OFMCap, kami dituntun untuk mengenang bersama napak tilas dari jatuh bangun penghayatan cara hidup ini.

Di dalam tulisan singkat ini, saya hendak mengangat beberapa pokok penting yang sekiranya baik untuk direfleksikan bersama secara lebih mendalam. Dari situ, saya mencoba berkaca pada realita kehidupan saya dan kita sebagai Fransiskan, khususnya sebagai seorang saudara muda di zaman ini. Hal pertama adalah pergulatan mengenai hak-hak pribadi seperti privelese, eksempsi dan presidensi dalam persaudaraan di masa-masa awal. Sebagaimana kita ketahui, St. Fransiskus Asisi sendiri menolak semua bentuk keistimewaan seperti itu. Hal ini juga dipertegas oleh pernyataan seorang tokoh Minister Jendral, Yohanes Parenti yang menuturkan bahwa tak ada seorang pun juga yang boleh dipanggil Tuan atau Yang Mulia, tetapi semuanya harus dipanggil saudara-saudara saja. Namun nyata bahwa penghayatan hal ini terus berdinamika dalam sejarah persaudaraan. Jika ditarik pada realita hidup bersaudara kita di era ini juga, bahaya ingin diistimewakan dan dimaklumi semacam ini memang ada dengan bentuk yang agak sedikit berbeda. Dalam refleksiku, bentuk privelese “halus yang sebenarnya destruktif” di zaman ini adalah perasaan terlalu “cepat memaafkan, memaklumi dan mengikuti keinginan diri sendiri”. Hal ini nampak dari semangat hidup bersaudara yang sedang-sedang saja, menjalani kehidupan bersama dan karyanya namun tanpa passion. Contoh konkret “privelese zaman ini” adalah kurang aktif kreatif (malas) mengembangkan hobi, semangat studi yang sekedarnya demi mencapai standar (walaupun sesungguhnya bisa lebih baik), malas kembangkan bentuk pastoral dan relasi dalam pelayanan, atau tindakan “menyatakan diri” sakit ketika terlambat bangun atau malas kuliah, dsb. Jika hal-hal seperti ini yang kita lakukan, tentu perlu diteliti lagi motivasi terdalam kita yang bisa jadi malah ingin terus dimengerti. Selain itu nyata bahwa ternyata permasalahan kepemilikan pribadi menjadi pergulatan yang tak lekang oleh zaman. Ya, tentu ini mengingatkan kita kembali, kira-kira apa yang mungkin masih kita “tumpuk” dalam hidup bersaudara demi keegoisan diri semata.

Hal kedua yang juga penting yakni sepanjang sejarah ordo, pergulatan untuk menepati Anggaran Dasar secara ketat (khususnya menyangkut radikalitas kemiskinan) selalu dihadapkan pada keinginan untuk diberinya aneka kelonggaran dan penyesuaian. Hal ini jadi alasan mendasar yang melatarbelakangi munculnya beranekaragam cara menghayati kekayaan spirit awal Bapa Fransiskus. Dalam suatu bagian kursus disebutkan bahwa sesungguhnya penyebab utama konflik separasi, degradasi spirit dasar, serta perbedaan pandangan penghayatan sebetulnya disebabkan oleh minimnya waktu, kemauan dan kesempatan untuk bagi para saudara untuk menarik diri dan masuk dalam retiro-retiro sebagai “dapur penyegarahan hidup rohani” untuk kembali menggali semangat dasar. Konsep retiro semacam ini sesungguhnya perlu terus didengungkan juga di zaman ini, sehingga setiap saudara perlu mengambil jarak dari segala karya pelayanan dan berkhotbah untuk renungkan kedalaman iman dan penghayatannya sendiri akan jalan hidup ini. Seringkali banyak para saudara yang terlalu sibuk beraktivitas, bahkan sampai hampir memadamkan semangat doa dan kebaktian. Hal ini juga yang niscaya membuat pelayanan, karya dan hidup kita sendiri jadi terkesan kurang berisikan Roh Tuhan. Bagaimanapun setiap komunitas hendaknya memungkinkan suasana retiro ini kembali terwujud agar spirit dapat terus terbarukan.

Hal ketiga yang patut direnungkan adalah mengenai teladan hidup. Bisa dikatakan hampir semua tokoh pembaharu dalam ordo merupakan tokoh yang memiliki kedalaman rohani yang nampak dalam hidup hariannya yang selalu bergembira menjalani hidup sebagai saudara dina, salah satunya sosok Sdr. Felix Cantalice dalam pembaruan Kapusin. Ia menjalani tugas-tugas sederhana, mengemis bagi saudara-saudaranya (bahkan selama ± 40 tahun) dengan hati penuh kegembiraan, miskin dan senantiasa berlaku tapa dan sadar akan kehadiran Allah sehingga menjadi inspirasi bagi kegairahan menghayati panggilan Injili seperti para saudara awal. Bagiku dari para tokoh seperti ini kita bisa belajar bahwa kebahagiaan menjalani cara hidup ini nampak dari kesetiaan menjalankan tugas-tugas sederhana (baik dalam studi maupun karya) dengan riang gembira. Niscaya gairah inilah yang nantinya menjadi awal dari terciptanya hal-hal besar.

Singkat kata, satu-satunya jenis “kekayaan” yang mungkin diperbolehkan dan diharapkan oleh Bapa Fransiskus untuk dimiliki setiap saudara dina adalah “kekayaan rohani”, keinginan untuk selalu memiliki Roh Tuhan yang menjadi inspirasi pikiran, perkataan dan perbuatan seorang saudara dina. Kekayaan spiritualitas kita ini haruslah jadi warisan tak kunjung habis karena terus dibagikan hingga berbuah. Akhir kata, kita berani berkata bahwa semangat itu masih ada (tersisa) dalam hati, budi dan tingkah laku kita.

Kontributor: Sdr. Eduard Salvatore da Silva OFM

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *