Malam Natal 9 Kali Bersama Suku Pakanyo

(Berikut ini tuturan pengalaman dari Pater FX Sutarjo OFM, seorang fransiskan asal Indonesia yang menjadi misionaris di Thailand.)

Pakaian adat suku Pakanyo - Chiangmai - Thaialand

Pakaian adat suku Pakanyo – Chiangmai – Thaialand

Dengan 4 mobil pick up kami menjelajah pengunungan daerah suku Pakanyo. Satu mobil mengangkut generator listrik dan perlengkapan. Satu mobil memuat sound system serta paket-paket hadiah natal. Satu mobil mengangkut anak-anak asrama, para pemaian drama natal serta para suster dan frater. Satu mobil lagi mengangkut lampu-lampu disko dan assesoris natal. Selama dua pekan kami mengunjungi stasi-stasi di perbukitan.

Di stasi-stasi umat telah menyiapkan panggung pentas dan makanan. Kami datang segera memasang lampu-lampu, perhiasan Natal. Pastor paroki ternyata ahli dalam pelistrikan dan sound system pengeras suara serta computer. Para frater bersama para suster mempersiapan lagu-lagu liturgi dan berlangsungnya acara. Tugas saya menyampaikan homili. Pengkhotbah keliling bersama tim pastoral.

Suhu udara di pegunungan begitu dingin mencapai 8-9 derajat Celcius. Tetapi umat sekitar 300 hingga 400 orang bertahan di lapangan terbuka hingga larut malam. Tak ada hadiah gratis. Semua umat harus membeli tiket untuk memdapat hadiah. Yang beruntung bisa mendapat TV dan Rice Cooker, walaupun tak ada listrik, yang lain berupa selimut dan baju hangat serta boneka dan makanan ringan.

Di paroki Hati Kudus Yesus terdapat 45 desa yang terdiri dari 20 stasi. Perayaan natal tak akan selesai dalam waktu satu bulan. Dua orang imam tidaklah cukup. “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.”

Sera Laurence Kcihpo C’rekco

Sera Laurence Kcihpo C’rekco

Bapak Sera Laurence Kcihpo C’rekco. Beliau nampak amat sederhana. Jasanya luar biasa, telah menerjemahkan seluruh kita suci dalam bahasa Pakanyo dan menulis beberapa buku rohani. Pendidikan formal tak selesai karena perang dunia kedua. Ia dijemput dari perbatasan Burma oleh Pastor Joseph Seguinotte, missionaris perintis di daerah Pakanyo, untuk menjadi katekis. Sera Laurence cerita bahwa sementara sibuk mengajar anak sekolah ia mendengar suatu pesan yang ia sendiri sulit untuk mengungkapkan. Ia juga menyaksikan bahwa usaha terjemahan yang dimulai oleh Pastor Joseph terbengkalai karena sakit. Ia mengambil alih tugas terjemahan kitab suci dan selesai dalam waktu lima tahun. Dia bilang bahwa sulitnya menerjemahkan kitab suci bisa dibandingkan dengan mengukir di atas batu. Semangat ketekunannya tak pernah padam. Apalagi Pater Alfonso de San Juan, SJ, pemerhati masyarakat local memberi harapan bahwa ia sanggup membantu menerbitkan hasil terjemahan.

Terjemahan telah selesai tetapi janji tak kunjung tiba. Dengan perantaraan anaknya yang menjadi imam diocesan ia pun berhasil bertemu dengan P. Alfonso. Tapi dana yang dijanjikan tidaklah cukup. Tuhan Allah memberikan jalan. Congregasi Suster Salesian menyumbangan beberapa juta bath untuk penerbitan. Hasil penerbitan dipakai dalam liturgi dan katekisme hingga kini. Karya Allah lewat orang sederhana patut dipuji. Duns Scotus bilang bahwa kita memperolih ilmu pengetahuan melalui dua cara, dengan studi dan latihan serta inspirasi langsung dari Allah.

Hasil panen padi, jagung dan kacang tanah serta kacang-kacangan yang lain

Hasil panen padi, jagung dan kacang tanah serta kacang-kacangan yang lain

Tanah subur. Hasil padi, jagung, buah-buahan berlimpah. Masyarakat juga mememihara kerbau, sapi, babi dan ayam kampung. Saat ini musim kemarau tetapi masyarakat bisa menanam sayur-mayur dan bunga-bunga. Bagi keluarga yang tidak punya mobil bisa sewa dengan harga 1 kilo sayur dengan 1 bath. Hanya terdapat jalan setapak di lereng gunung cukup menakutkan. Tetapi di beberapa bagian telah diperlebar. Suatu saat bila jalan raya dan listrik masuk desa…luar biasa.

P Suthon SCJ

P Suthon SCJ

P Suthon SCJ,  Betharam. Beliau dicintai umat. Blusukan, tidur di keluarga, makan di dapur dan di halaman Gereja. Dari umat untuk umat. Menyanyi karaoke juga mantap, banyak umat memberikan derma dan bunga waktu dia tampil menyanyi karaoke di panggung.

Saya sendiri didaulat untuk menyanyikan lagu-lagu natal ala Indonesia. Bailklah sharing kebahagiaan natal. Betapa bahagianya berada bersama mereka.

Menyanyikan lagu-lagu natal indonesia

Menyanyikan lagu-lagu natal indonesia

Dua hari sebelum kembali ke Bangkok, kami pergi ke hutan lindung untuk mencari kayu bakar bersama dengan anak-anak asrama. Mereka bilang bahwa hanya pohon kering boleh ditebang. Sekitar 1 km mendaki bukit kami temukan banyak pohon kering. Anak-anak bilang, “Mari kita pergi ke puncak bukit untuk melihat pemandangan”. “Kerja dulu”, saya jawab. Kami tebang satu pohon cukup besar. Ternyata pohon tersebut berlobang dan terdapat tikus hutan bersarang di dalamnya. Kami berhenti kerja dan bersama-sama menangkap tikus. Kami berhasil menangkap 1 ekor tikus hutan, cukup besar. Ekor tikus seperti ekor tupai dan bila merenggangkan ke dua kaki depan nampak bersayap seperti kelelawar. Mereka bilang dagingnya lezat. Mereka pun melirik ke pohon lain yang terdapat lobang. Mereka bilang bahwa terdapat tikus di dalamnya. Sementara mereka menangkap tikus, saya memikul kayu ke jalan. Jalan tersesat-sesat. Saya bikin pertanda dengan ranting-ranting pohon. Mereka berhasil menangkap 3 ekor tikus hutan.

Masyarakat biasa memasak “kau buek”, semacam makanan tradisional berupa bubur daging tikus hutan dengan herbal, bumbu-bumbu dan ramuan tradisional. Sungguh lezat. Saya amat menyukai makanan tersebut. Di setiap stasi yang kami kunjungi selalu tersedia makanan tersebut. Bila tidak bisa menangkap tikus hutan, mereka menangkap ayam kampung sebagai ganti.

Cara kerja anak-anak memang lain. Dua pohon berhasil ditumbangkan. Mereka segera mendaki ke puncak bukit untuk melihat pemandangan. Mereka pun mencari buah-buah hutan seperti asam polong dan kedondong. Rasanya sepet-sepet, tetapi waktu meminum air tawar terasa manis. Cara membawa kayu tidaklah dipikul seperti saya, tetapi hanya ditarik dan diguling-gulingkan. Saya pun mengikuti cara kerja mereka. Kerja keras tapi tak melelahkan. Pukul satu siang kami kembali dengan kayu bakar penuh mobil pick up. Ternyata perlulah saya belajar cara kerja dari anak-anak setempat. Kerja keras tetapi dengan sukaria. Setelah makan siang mereka pergi lagi. Mereka menangkap satu ekor ayam kampung untuk dibakar di hutan. Betapa alami cara hidup mereka.

Post navigation

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *