Maraton di Banjarmasin

Sdr. A. Eddy Kristiyanto OFM (baju kotak-kotak) bersama Tim Penulisan Sejarah Keuskupan Banjarmasin.

Sdr. A. Eddy Kristiyanto OFM (baju kotak-kotak) bersama Tim Penulisan Sejarah Keuskupan Banjarmasin.

Sabtu, 7 September 2013, ada pesta di STF Driyarkara. Alasan pesta ada dua, yakni serah-terima pembangunan infrastruktur kampus STF, dan melepaspergikan Rm Sarju SJ yang sudah genap 70 tahun. Kepada yang terakhir ini, Sdr. Frumen Gions cs merangkai kata indah lagi santun dalam format buku. Tajuk buku termaksud adalah “Formasio yang Menyenangkan: Memestakan 70 Tahun Rm Sarju SJ”.

Pagi hari sebelum acara di STF Driyarkara itu digelar, saya sudah mencerahi (bukan “menyirami”, suatu terminologi yang digemari kelompok LoTu yang mendamba siraman rohani di tengah desolasi rohani Ibukota Negeri Jayakarta ini) sekitar 90 orang di aula Paroki Bonaventura, Pulomas, Jakarta Timur. Bagian saya adalah menjelaskan Doa Tuhan dari sisi ajaran Gereja Katolik Roma. Menurut rencana, saya akan ditampilkan oleh Panitia Penyelenggara sebanyak dua kali saja.

Mengingat agenda yang padat merayap, begitu acara “pencerahan” di Bonaventura (pk. 10.00-12.30) selesai saya bergegas ke Bandara Soetta untuk meneruskan perjalanan ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Itulah sebabnya, saya absen dalam pesta di STF Driyarkara tersebut.

TIM PENULISAN SEJARAH
Pastor F.A. Susilo Nugroho CP sudah berada kawasan di Bandara Syamsudin Noor, Banjarmasin, ketika pesawat GA 534 yang saya tumpangi mendarat. Perjalanan dari bandara ke Pastoran Katedral Keluarga Kudus, tempat saya menginap, relatif lancar, kecuali di beberapa ruas jalan yang sedang ada pembangunan fly-over.

Sudah menunggu di sana satu tim penulisan sejarah Keuskupan Banjarmasin: Bp Santosa, Bp Abdon Winarko, Bp Bambang Utoyo, Mas Agus Santosa. Malam itu kami menyepakati sejumlah hal tentang apa saja yang akan kami kerjakan, kapan dimulai dan kapan berakhir. Setelah sepakat akan pola kerja esok harinya kami mundur teratur ke pembaringan.

Minggu, 8 September tim bekerja sesuai jadwal, yakni pasca misa pk. 06.00, dan sarapan. Tim ini praktis bekerja maraton s.d. Senin pk. 01.00 dini hari. Memang ada interval 30 menit saja. Bahkan saat makan nasi-kotak dan bakmi bungkus pun kami terus mendiskusikan kerjaan kami. Bekerja non-stop ini merupakan “keterpaksaan”, mengingat Senin, 9 September, pk. 05.00 saya terjadwalkan untuk pergi ke bandara dan kembali ke Jakarta dengan penerbangan pk. 06.25.

Satu hal yang mengakhiri kerja bersama tim penulisan sejarah adalah padamnya lampu, sementara itu genset sedang bermasalah. Namun sebelum kami mengakhiri kerja bersama maraton ini, kami menyepakati sejumlah agenda ke depan yang mutlak perlu dikerjakan.

Memang benar, beberapa hari setelah kembali dari Banjarmasin saya berhasil menulis Prolog yang komprehensif dan memadai. Seluruh perangkat komunikasi modern dimanfaatkan secara optimal, sehingga monitoring atas proses editing juga berjalan dengan bagus. Di era globalisasi ini kita petik manfaat perangkat komunikasi modern, dan kita waspadai eksesnya. ****

Kontributor: Sdr. A. Eddy Kristiyanto, OFM

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *