Masih Tentang Mariologi

[tab name=’Berita’]

Untuk kesekian kalinya saya diundang untuk berperan sebagai narasumber dalam Seminar tentang Mariologi. Kali ini Seksi Pewartaan yang bekerjasama dengan Seksi Kitab Suci Paroki St. Lukas Penginjil bertindak sebagai panitia penyelenggara. Seminar-seminar tentang Bunda Maria seperti ini kiranya menegaskan kebenaran ungkapan ini, “De Maria numquam satis”. Artinya, perihal Bunda Maria orang tak pernah merasa cukup. Selalu ada saja yang dapat dikatakan tentang Bunda Yesus Kristus itu.

MISTAGOGI

Seminar Mariologi disenggarakan pada Minggu, 14 Oktober 2012, di Aula Henrikus. Acara yang berawal dengan registrasi jam 09:15, dilanjutkan dengan presentasi materi sebanyak dua kali, masing-masing 75 menit, baru berakhir jam 15:15.

Tentu saja, di dalam acara ada kesempatan untuk tanya jawab, santap siang, dan mengangkat kidung pujian, yang dimotori oleh dua anggota PDKK. Dalam dua sesi presentasi materi, masing-masing dipaparkan “Peran Bunda Maria dalam Gereja”, dan “Berdevosi yang Benar”. Seminar yang dihadiri oleh lebih dari 400 peserta ini menurut evaluasi yang masuk pada panitia sangat positif. Peserta berantusias dari awal hingga akhir acara. Jumlah yang sedemikian banyak itu disebabkan acara seminar ini dijadikan media rekoleksi bagi para calon penerima Sakramen Krisma. Mereka ini mencapai jumlah 230an. Kehadiran Umat Katolik, yang sudah menerima Sakramen Krisma, sangat dibatasi, yakni sekitar 150 orang. Hal ini disebabkan ruang dan tempat duduk yang terbatas. Mereka menyayangkan “pembatasan” yang dilakukan oleh Panitia, tetapi tidak menemukan jalan keluar alternatif.

Sesungguhnya, seminar seperti ini merupakan bentuk baru dari mistagogi. Maksudnya, umat yang sudah dibaptis mendalami pengetahuan iman mereka dengan mempelajari pokok-pokok iman dalam format seminar. Inilah salah satu cara untuk memelihara pengetahuan iman (the deposit of faith). Mistagogi semacam ini bagaikan “pelajaran agama”, atau “pendalaman iman”. Diharapkan para mistagog lama-kelamaan memiliki iman yang lurus, kokoh, jernih, dan benar.

ENTUSIASME

Beberapa kali saya menjadi pembicara dalam seminar yang diadakan di Paroki Hati Kudus, Kramat. Paroki ini dalam pandangan saya merupakan ikon tentang bagaimana Fransiskan mengelola dan melayani paroki. Bagi saya, hal ini agak aneh. Pada kurun waktu tertentu, umumnya umat Paroki Hati Kudus tidak begitu entusias dengan seminar-seminar. Sekali waktu memang seminar kami dibanjiri hadirin, yaitu ketika diulas film kontroversial berdasar novel imaginatif karya Dan Brown, berjudul The Da Vinci Code. “Kramat” saat itu fenomenal.

Kadang-kadang seminar massal seperti ini “menjemukan”, terutama karena kualitas pertanyaan yang jauh dari harapan narasumber. Tetapi kalau mau adil, keadaan dan pelbagai jenis pertanyaan perlu didengarkan serta ditanggapi. Sebab, itulah keadaan konkret, itulah pengetahuan yang umat miliki. Misalnya, “Mengapa Patung Maria Chestochowa di Polandia wajahnya hitam?” Bahkan ada yang membelokkan diri, dan jauh dari apa yang dibicarakan dalam seminar, misalnya, “Kalau orang terlambat menghadiri misa, sampai bagian mana orang itu masih boleh menerima komuni suci?”, “Berapa kali kita boleh membuat tanda salib dalam perayaan Ekaristi?”, “Apakah saya boleh memanggil-manggil nama suami yang sudah meninggal, saat saya berdoa di kuburannya?”, dlsb.

Contoh-contoh ini memerlihatkan masih perlunya pendalaman iman, pembenahan metode katekese umat. Sampai di sini, saya teringat akan para Fransiskan Generasi Pertama yang masuk ke jantung Manggarai, seperti Fulco Vugts, Hans van der Hoogen. Mereka mempopulerkan katekese umat dengan pola retret dari paroki ke paroki.

Melalui syering dan ungkapan gagasan ini, secara pribadi saya berharap semoga entusiasme umat dibangkitkan, terutama karena Saudara-Saudara Fransiskan yang melayani Paroki sudah lebih dahulu memiliki entusiasme tinggi. Kiranya, kita tidak akan mampu mempengaruhi orang lain tentang suatu kebaikan atau keutamaan, kalau kita sendiri jauh daripadanya. Kalau ada panggang yang jauh dari api, niscaya panggang tak pernah akan matang. Kalau panggang itu sate, maka sate itu tetap mentah. Terimakasih atas kesaksian hidupmu, ya Bunda Maria!

Kontributor: A. Eddy Kristiyanto, OFM[/tab][tab name=’Foto-foto’]

masih-tentang-maria-1
masih-tentang-maria-2
masih-tentang-maria-3

[/tab][end_tabset]

Post navigation

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *