Memahami Perpecahan Ordo

Berbekal surat, Jakarta 8 Desember 2012 (No. 01/Wandikdi/2012-2013), yang ditandatangani Sdr A Triyono OFM, saya bergerak untuk menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan.

Surat itu berisi permohonan untuk memberikan pelajaran kefransiskanan, terutama Sejarah terbentuknya Ordo sampai lahirnya Ordo Capusin. Saya pribadi sudah “pensiun” dari pengajaran tentang pokok ini setahun silam. Untuk mengisi kekosongan itu, Sdr Th Ferry Suharto OFM setahun lalu telah berkenan menggantikan saya.

DI STF DRIYARKARA

Menurut surat tersebut, pengajaran sekurang-kurangnya 24 jam dari waktu yang disediakan, 21-25 Januari. Akan tetapi dalam kenyataannya, pengajaran melonjok sampai 26 Januari.

Tatap muka yang diadakan pada sore hari, mulai pk 16, itu berlangsung di Ruang Seminar I, Gd A, STF Driyarkara. Ruangan ini sangat nyaman, dan dirancang untuk tepat guna.

Dari hari pertama sampai terakhir, pengajaran ini hanya dihadiri oleh 11 (sebelas) Saudara Muda (Jogjakarta dan Jakarta), yakni mereka yang sedang kuliah pada semester 2 (dua). Ada satu yang tidak dapat hadir, karena sakit demam berdarah.
Secara tidak terduga, 24 Januari, pengajar absen, karena melayat ke Jogjakarta. Ketidakhadiran ini diisi oleh para Saudara Muda dengan melaksanakan tugas, yakni membaca teks terpilih yang diambil dari L Iriarte, A History of Franciscan Order, (terjemahan Patricia Ross).

Setelah dilihat dengan saksama, ternyata karya Iriarte ini tidak gampang dimengerti oleh Saudara Muda. Sejujurnya perlu dimengerti, apakah memang karya Iriarte itu sulit, ataukah sumber kesulitan harus ditemukan bukan pada karya Iriarte?

Buku Iriarte tersebut merupakan sumber jika kita hendak mempelajari sejarah Ordo, di samping karya J Moorman, D Nimmo, M Carmody, KB Osborne, JA Merino, I Tonna, G Buffon, H Holzapfel, Th MacVicar, CH Lawrence, S da Campagnola, P Sella.

MATERI

Selama sepekan, kami belajar dengan mengulas bersama konteks historis gerakan Fransiskan, Bonaventura dan alam pikirannya yang antara lain melembagakan gerakan Fransiskan sebagai “komunitas” (Konventual), Kaum Spiritual, Observan Regular, Alkantari, Reformati, Rekolek, dan Kapusin.

Tidak lupa didalami pula diagram dua versi. Satu versi dibuat oleh keluarga Konventual, yang dalam perspektif tertentu menonjolkan keaslian Konventual yang berasal langsung dari Fransiskus Assisi. Diagram ini baik dipresentasikan, supaya kita semua paham duduk perkaranya, tetap kritis (dengan tidak menelan bulat-bulat suatu informasi, yang masih terbuka untuk diperdebatkan).

Diagram lainnya, saya persiapkan dengan berdasar pada sumber-sumber yang dapat diverifikasikan. Itulah sebabnya diagram ini lebih objektif, selain karena proporsional juga disertai penjelasan yang komprehensif, tanpa memihak, dan tiada kepentingan apa pun yang hendak diperjuangkan, kecuali kebenaran historis.

Para peserta pembelajaran ini pun akhirnya disadarkan akan kompleksitas historis yang melatarbelakangi perpecahan dalam Ordo, tetapi juga dan terutama faksi-faksi yang berikhtiar tiada henti untuk mengupayakan pembaruan sejati. Satu hal yang pasti, setiap forma pembaruan dalam Ordo selalu bertumpu pada kecintaan dan kesungguhan dalam pelaksanaan Anggaran Dasar.

Fransiskus Assisi dengan seluruh misterinya mewariskan daya tarik yang luar biasa. Hidup dalam pertapaan, cinta akan keheningan dalam doa dan kontemplasi, pelayanan kepada dunia, kepedulian pada studi, keberpihakan pada Gereja dan kepentingannya yakni pewartaan Kabar Sukacita, einfach Leben wie Franz (hidup sederhana seperti Fransiskus) merupakan kata-kata magis yang menggetarkan kalbu.

TAK MENGENAL PRINSIP D3T

Para peserta pekan studi ini terlibat aktif. Sesekali memang terlihat ada yang berjuang memelekkan mata. Jika terlihat demikian, maka inilah tanda untuk istirahat. Break! Metode belajar-aktif yang diterapkan dalam tatapmuka tidak memungkinkan para peserta mengagungkan prinsip D3T, yakni Datang, Duduk, Dengar, Tidur.

Pendamping, pembuat reportase ini, juga memberi tugas untuk membuat dua tulisan. Tugas pertama sepanjang satu halaman saja: membuat tuturan tentang Fransiskan macam apa yang dibayangkan ingin diwujudkan dalam millenium ketiga ini. Tugas kedua (tanpa pembatasan jumlah halaman, dengan menggunakan sumber yang tersedia) adalah membuat tulisan tentang tokoh, alam pikiran, kontribusinya, seperti Antonius Padua, Roger Bacon, Alexander Hales, Fransiskus Solanus, Ramon Lull, William Ockham, Yohanes Capistrano, Bernardinus Siena.

Evaluasi para peserta pekan studi ini digiring untuk mengatakan tentang makna apa yang dapat dipetik dari isi atau materi aktivitas ini. Mayoritas peserta mengatakan tentang pemahaman yang kian lengkap dan baik tentang duduk perkara sejarah Ordo. Perpecahan Ordo memang sangat kompleks, tetapi selain karisma Fransiskus Assisi tidak mungkin “tertampung” hanya oleh satu Ordo, juga pluralitas Ordo Fransiskan memperjelas dinamika yang sehat dalam hidup Persaudaraan.

Selain itu, para peserta juga mengungkapkan kegembiraannya, karena kini semakin memahami identitas diri sebagai Fransiskan (khususnya OFM) dan tantangan serta peluang yang nyata tersedia di depan mata. Inilah beberapa makna belajar sejarah. Pembelajaran ini sesungguhnya bisa sangat menarik, jika semua yang terlibat membaca sumber-sumber sejarah.

Kendala utama yang sangat konkret adalah gairah membaca yang belum membanggakan, di samping keterbatasan ketrampilan untuk mengetahui bahasa sumber. Keadaan ini dapat dikendalikan oleh siapa pun, terutama para pengajar yang juga tidak rajin dan tekun dalam usaha menyegarkan pengetahuan melalui pembacaan buku-buku sumber.

Belajar Sejarah Ordo akan semakin menggairahkan kalau semua rajin membaca, mendiskusikan bahan bacaan, dan menuangkan dalam kertas dengan “pena yang tidak pernah kehabisan tinta”.******

Kontributor: Sdr A Eddy Kristiyanto OFM

Para Saudara Muda, Peserta Pekan Studi Sejarah Ordo, Jakarta 21-26 Januari 2013, bersama pendamping Sdr A . Eddy Krisrtiyanto OFM (tak tampak dalam gambar).

Post navigation

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *