Menjadi Dina bersama Kristus

“Menjadi Dina bersama Kristus”

Surat Natal Minister General OFM
kepada semua saudara dina

Michael Perry, OFM  MinGen OFM

Michael Perry, OFM MinGen OFM

Saudara-saudaraku se-Ordo yang terkasih

Ketika kita mulai merayakan Kelahiran Tuhan kita, doaku bagi kalian adalah ini: Semoga Tuhan memberi kalian damai: damai dalam negaram kalian, khususnya bila tercabik-cabik oleh kebengisan; damai dalam lingkungan tetangga kalian, khususnya bila sedang mengalami kekerasan; damai dalam persaudaraan kalian, khususnya dalam persaudaraan-persaudaraan yang para anggotanya menderita pada tubuh atau pada rohnya; damai dalam hati kalian, bilamana pun kalian berada dalam Masa yang Kudus ini.

St. Fransiskus menggubah salah satu “mazmur”nya yang khusus perihal Ofisi Sengsara untuk Hari Natal Ibadat Sore (IbSeng V:7). Naskahnya mengungkapkan kegembiraan dan kemanisan pada kelahiran Kristus, tetapi juga mengakui kedinaan yang melingkupi Bayi di Bethlehem itu: Karena Bayi yang Paling Suci telah dianugerahkan kepada kita (Is 9:6) dan telah dilahirkan untuk kita di tengah perjalanan dan di tempat sebuah palungan, karena Dia tidak mendapatkan tempat di penginapan. (Luk 2:7).

Dia dilahirkan bagi kita “di tengah perjalanan”. Dari homili St. Gregorius Agung dalam Ofisi hari Natal, Fransiskus mengambil gambaran Anak miskin itu sebagai peziarah: “dia tidak dilahirkan di rumah orang tuanya, tetapi di tengah perjalanan.” Maria dan Yosef sedang berada di tengah jalan ketika Yesus itu lahir. Berhenti di Kota Daud, tetapi di sana tidak mempunyai rumah yang tetap. Berhubung tidak ada tempat bagi mereka di penginapan, maka mereka menerima lingkungan miskin yang tersedia bagi mereka. Ketika Yesus lahir, Injil Lukas melukiskan adegan ini bagi kita: Maria dan Yosef berada di tempat yang diperuntukkan bagi binatang, dengan bayi yang baru dilahirkan itu berbaring di palungan, dan para gembala yang penuh dengan kegembiraan dari tempat di sekitarnya itu berperan sebagai bentara Kabar Baik perihal apa yang mereka telah lihat dan dengar (Luk 2:17). Akan sulitlah untuk membayangkan bentuk evangelisasi yang lebih sederhana dan lebih penuh kegembiraan daripada bentuk evangelisasi pada Hari Natal yang pertama itu!

Sepanjang hayatnya, Fransiskus digerakkan secara mendalam oleh kenyataan bahwa Yesus, Putera Allah dan Putera Maria, memilih memeluk kedudukan “seorang yang dina”. Pilihan hidupnya yang konsisten adalah berada di antara mereka yang dipandang “kurang daripada” yang lain, para pendosa dan orang-orang Samaria, Bangsa-bangsa kafir dan pemungut cukai.

Pengikut-pengikut-Nya yang paling dekat pun berasal dari latar belakang sederhana, termasuk para nelayan dan bekas pemungut cukai. Daftar panjang dari anggota keluarganya dalam Injil St. Mateus (Mat 1:1-7) memperlihatkan bahwa nenek-moyang Yesus itu melingkupi bentangan kemanusiaan yang luas selama empat puluh dua generasi: dari mereka yang kesetiaannya menjulang tinggi sampai pada mereka yang terkenal justru karena ketidak-setiaan mereka.

Tuhan menyatakan cinta-Nya yang tanpa syarat kepada anak-anak-Nya yang terkasih, tanpa memperhatikan kelayakan mereka, dengan menjumpai mereka dalam perjalanan mereka menuju menjadi manusia yang terpulihkan dan bermartabat.

Marilah kita, pada Pesta “kedinaan” Yesus ini, merenungkan keberadaan-Nya yang “kurang” daripada orang lain, dengan memperlihatkan diri sebagai hamba mereka. Prolog ataupun Pendahuluan Injil St. Yohanes melukiskan pilihan untuk berada di antara “orang-orang dina” ini dalam kata-kata yang bersaha:

“dan Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita” (Yoh 1:14). Dari kedudukan ilahi-Nya yang paling agung, sang Sabda, Putera Yang Terkasih itu merendahkan diri menerima “daging kemanusiaan dan kerentanan kita” dari rahim Perawan Suci Maria (2SuerBerim 5). Pilihan ini, – yang merupakan suatu tindakan yang samasekali bebas dari kasih Tuhan yang berlimpah-limpah, – adalah pilihan untuk menjadi seorang makhluk di antara makhluk-makhluk yang lain, dengan maksud supaya, sebagai Putera, membimbing mereka kembali ke asal-usul mereka di dalam persekutuan dengan sang Trinitas.

Injil Yohanes juga menuturkan kepada kita bahwa kedatangan sang Sabda-yang-menjadi-daging itu terjadi seperti kedatangan terang ke dalam dunia yang diliputi kegelapan (Yoh 1:5). Kita berhenti sebentar pada saat kudus ini, ketika malam-malam yang terpanjang sepanjang tahun membuat dunia bagian utara dalam kegelapan, dan hari-hari yang paling panjang yang memancarkan sinar terang tercerahnya pada dunia bagian selatan. Kita juga dapat merenung perihal ceritera St. Mateus, di mana kegelapan malam diterangi oleh sebuah bintang yang cemerlang (Mat 2:9), yang membimbing Orang-orang bijak itu kepada seorang Bayi di Bethlehem. Demikianlah juga dalam hidup kita, kita mengalami terang Yesus itu.

Dia mengusir kegelapan hati kita, sebagaimana yang dimohonkan Fransiskus sendiri kepada Kristus ketika dia berdoa di depan Salib (DoaSlb). Namun, dalam persaudaraan setempat kita dan dalam Ordo sebagai sebuah persaudaraan global pun kita mengalami saat-saat kegelapan, dan kita tahu kita membutuhkan terang Roh Tuhan untuk membimbing kita dari malam menuju ke siang hari.

Di beberapa tempat di dunia sekarang ini, Saudara-saudara dan Saudari-saudari kita menderita bersama dengan sesama umat Kristen mereka dan warga masyarakat yang lain, dalam situasi keganasan yang mengerikan. Beberapa di antara mereka telah kehilangan nyawanya, telah menderita luka-luka yang parah, sedangkan yang lain-lainnya telah kehilangan orang-orang yang mereka cintai, rumah dan kehidupan mereka.

Doa-doa dan tindakan-tindakan solidaritas kita yang nyata harus mendampingi mereka itu, bersama dengan usaha dan perjuangan kita yang terus menerus demi berakhirnya konflik—konflik yang ganas itu.

Di bagian-bagian dunia yang lain, Saudara-saudara dan Saudari-saudari kita menderita, tertimpa akibat-akibat memusnahkan dari penyakit-penyakit ganas, krisis Ebola, HIV dan AIDS, dan penyakit-penyakit lain yang kendati dapat ditanggulangi, tapi diperburuk dengan keganasan kemiskinan yang menimpa mereka dan suatu “globalisasi sikap indiferens”.

Di beberapa bagian dunia yang lain sekarang ini, terdapat saudara-saudara yang menderita kelemahan dan sakit karena usianya. Di antara mereka itu, ada beberapa yang nyaris putus asa, tidak lagi melihat adanya generasi baru dari saudara-saudara yang mau meneruskan karya besar yang telah mereka lakukan dengan murah hati dan setia selama bertahun-tahun.

Sedangkan yang lain-lainnya menaruh kepercayaan pada kemampuan Tuhan untuk mengerjakan lebih daripada yang kita minta atau bahkan yang kita bayangkan. Mereka ini pun mempercayakan masa depan persaudaraan dan pelayanan mereka kepada Pemeliharaan Allah dalam Gereja, diiringi dengan kepercayaan bahwa tak ada yang baik yang akan hilang dari apa yang telah mereka persembahkan dengan bebas kepada orang lain. Sebagaimana Tuhan telah perbuat bagi kita dalam penjelmaan Putera-Nya yang tercinta, demikian jugalah kita harus perbuat bersama dan bagi orang lain, yakni, menemukan seni pendampingan yang penuh rahmat itu, dengan mengungkapkan perhatian dan belarasa yang sama bagi satu sama lain dan bagi semua umat manusia dan alam ciptaan sebagaimana Tuhan sendiri telah melimpahkannya kepada kita semua masing-masing.

Bahkan di tengah pengalaman-pengalaman akan kekerasan dan kesulitan di dalam Ordo, Gereja dan dunia, kehadiran Yesus adalah terang bagi kita.

Karena itulah, Gereja telah memilih naskah penuh kegembiraan dari nabi Yesaya dalam perayaan Ekaristi Hari Natal, yang dirayakan di tengah kegelapan malam: “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar.” (Yes 9:1)

Dalam kunjungan-kunjungan saya ke banyak persaudaraan Ordo tahun lalu, saya telah dianugerahi keistimewaan untuk menyaksikan terang itu: tanda-tanda yang memberikan semangat pada pertumbuhan dan gairah hidup yang baru di antara Saudara-saudara kita.

Di Asia-Oseania, Afrika, Amerika Utara, Amerika Latin dan Eropa, terdapatlah kegairahan yang mengejutkan terhadap pesan dan teladan St. Fransiskus. Hal ini nampak tumbuh berkembang khususnya di antara anggota-anggota baru umat Katlik yang berkembang di belahan bumi sebelah selatan. Kita tahu bahwa Paus Fransiskus sendiri telah berulang kali mengajak kita memberi perhatian pada St. Fransiskus sebagai pelindung perdamaian, kaum miskin dan pemeliharaan bumi kita. Desakannya yang menggemparkan, Evangelii Gaudium, telah memberikan inspirasi pada banyak orang untuk menggalang komitmen demi pewartaan Injil pada zaman kita ini, dengan energi dan semangat yang diperbarui. Saya mengundang kalian, saudara-saudaraku yang terkasih, untuk memeluk pesan sentral dari Himbauan Apostolik Paus Fransiskus itu dan melihatnya sebagai suatu jalan baru untuk memahami dan menghidupi Injil, Anggaran Dasar Kehidupan kita dan Konstitusi Umum kita.

Dari sudut pandang panggilan insani, Kekristenan dan Fransiskan kita, tantangan yang kita hadapi sekarang ini bukanlah jumlah saudara-saudara dalam Ordo, umur mereka, atau jumlah karya kerasulan mereka, melainkan mutu (kwalitas) dari kesaksian bersama kita perihal Injil dalam dunia zaman sekarang ini. Suatu studi yang komprehensif perihal Ordo, dengan mempergunakan Kwesioner, memperlihatkan kepada kita beberapa bidang yang menuntut perubahan dan perombakan yang radikal dalam hidup kita. Lebih dari separoh saudara-saudara yang mengikuti studi tersebut berkeyakinan bahwa untuk revitalisasi Ordo, sangatlah vital bahwa kita memperbaiki mutu relasi di dalam persaudaraan.

Ada banyak saudara yang menderita karena tidak adanya relasi persaudaraan dalam persaudaraan setempat mereka. Hal ini membawa mereka pada krisis keterasingan dan memperlemah panggilan insani, Kristiani dan Fransiskan mereka. Kerap kali Gardian mengalami kesulitan dalam berkomunikasi secara tulus dengan para saudara dengan maksud untuk membangun suatu persaudaraan yang sejati. Beberapa saudara memperlakukan pekerjaannya, khususnya dalam pelayanan pastoral, sebagai tujuan satu-satunya dari panggilan Fransiskan mereka. Dan mereka ini seringkali bekerja sangat keras, barangkali untuk menghindari kepedihan yang mereka alami, karena kehidupan persaudaraan mereka kurang bermutu. Hal ini pun mengakibatkan bertambah lemahnya ikatan persaudaraan, dan selanjutnya membuahkan individualisme dan hilangnya kepekaan akan kebaikan bersama. Hidup doa pun, baik yang pribadi maupun yang bersama-sama, menderita. Dan hal ini memperlemah hidup rohani batiniah, baik dalam diri orang per orang maupun dalam persaudaraan.

Bahkan di tengah bayang-bayangan ini, terang penjelmaan Tuhan itu tetap terus bersinar!

Selama kunjungan-kunjungan saya, para Saudara pun mengungkapkan bahwa mereka siap untuk lebih mengikatkan diri dengan lebih bersemangat pada hidup doa, persaudaraan dan missi bersama. Banyak saudara sekarang ini bekerja bersama dengan orang miskin, mereka yang kecanduan narkoba, minuman keras, mereka yang tuna wisma dan mereka – seperti orang tua Yesus – yang dipaksa mencari perlindungan ‘di jalan’, hidup sebagai pendatang, tidak diinginkan dalam negara yang bukan miliknya sendiri. Banyak saudara yang siap mengambil jalan bersama dengan Tuhan Yesus dan menaruh nasib mereka bersama dengan anawim Allah, dengan menyederhanakan gaya hidup mereka, sehingga orang lain dapat hidup dengan sederhana dan berkembang. Dalam cara-cara yang banyak dan beraneka ragam itu, kita mampu menunjukkan komitmen kita pada penghayatan ‘kegembiraan Injil’ sebagai penginjil dan misionaris, dengan membawa anugerah, yang telah kita terima, kepada segenap umat manusia dan alam ciptaan.

Sementara kita mempersiapkan diri secara rohani dan dalam persaudaraan untuk merayakan Kapitel General 2015, marilah kita menyerukan perhatian penuh kasih dari Sang Perawan Bunda Bethelehem yang sederhana itu, mohon kepadanya untuk berdoa bagi kita kepada Puteranya yang Tercinta, supaya Dia, yang telah membuat Diri-Nya “saudara dina” kita, boleh menggetarkan lagi dalam diri kita Roh-Nya, yang membaharui muka bumi. Marilah kita berdoa bagi mulainya suatu pembaruan yang mendalam pada seluruh Ordo kita, dari panggilan setiap Saudara masing-masing, sampai pada segarnya kembali cintakasih persaudaraan dan misi bersama dalam persaudaraan setempat, sampai pada hidup dan misi penginjilan Provinsi-provinsi dan kustodi-kustodi dan, sesungguhnya, seluruh Ordo. Dan marilah kita berdoa demi pembaruan kembali segenap umat manusia dan ciptaan, demi merekahnya fajar kerajaan Allah: keadilan, damai, kebenaran, cinta dan pengampunan. Semoga kita dapat memeluk kadar-kadar ilahi itu dalam semangat kemanusiaan yang sama yang di dalamnya Tuhan memeluk kita.

Suatu Hari Natal dan Tahun Baru yang terberkati dan penuh dengan kegembiraan bagimu saudara-saudaraku yang terkasih, dan begi semua Saudari Klara yang miskin dan Konsepsionis serta semua sahabat!

Roma, 8 Desember 2014,
Perayaan Bunda Maria Dikandung Tanpa Noda

Dalam Persaudaraan
Sdr. Michael A. Perry, OFM
Minister General dan Hamba

Sumber: http://www.ofm.org/ofm/wp-content/uploads/2014/12/Natale2014_en.pdf

Post navigation

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *