Menjadi “Humus” di Paroki St. Theresia Lisieux Boro

Gereja Katolik Sedunia menjadikan Minggu Paskah IV sebagai Minggu Panggilan. Tahun ini, Minggu Panggilan jatuh pada  25 April 2021. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, pada kesempatan ini, Para Saudara Dina dari Komunitas Biara Santo Bonaventura, Papringan, Yogyakarta mengadakan Promosi Panggilan di Paroki St. Theresia Lisieux Boro. Paroki ini memiliki sejarah kekatolikan yang sangat indah dan kental. Namun, menurut cerita, benih panggilan di paroki ini belum begitu banyak. Lalu, mengapa, sampai diadakan Prompang di tempat ini?

Singkat cerita, Komunitas OFM Yogyakarta, diminta oleh Panita Prompang Paroki Boro untuk membawakan koor saat misa minggu panggilan, dan sekaligus mempromosikan apa dan bagaimana Tarekat OFM itu. Dengan senang hati, para saudara menerima tawaran tersebut. Namun, kami juga  menyadari adanya bahaya virus Covid-19 yang sedang mewabah. Oleh karena itu, kami tidak bisa menurunkan full squad. Akhirnya, dari 14 postulan, dipilih 8 orang yang bersuara emas, ditambah para saudara muda tingkat I dan II yang dikoordinir oleh Sdr. Sipri OFM, selaku Gardian RB Yogyakarta dan Sdr. Bambang OFM selaku “tuan rumah” di Paroki Boro, karena beliau saat ini sedang bertugas di RS Boro, yang juga dipercayakan sebagai Panitia Prompang Paroki Boro.

Persiapan koor untuk Prompang ini, bisa dikatakan cukup baik dan matang, meskipun hanya lima hari persiapan. Semua saudara sangat antusias menyiapkan koor dan juga materi untuk ditampilkan di Paroki Boro. Dari Komunitas, kami berangkat pukul 6:45 wib. Kami dibagi dalam tiga kelompok perjalanan. Kelompok 1, para saudara muda yang menggunakan sepeda motor, kelompok 2, tujuh orang postulan menggunakan mobil rumah sakit yang dikendarai oleh Sdr. Bambang OFM, dan kelompok 3, Sdr. Sipri OFM, Sdri. Sr. Skolastika OSC dan 2 Aspirannya, serta Sdr. Kristian (postuan) mengendarai mobil biara yang disopiri oleh Fr. Juan, OFM.

Selama perjalanan ke Boro, kami disuguhi pemandangan indah seperti persawahan yang hijau permai di sekitar daerah Kulon Progo. Udara sejuk nan segar sungguh kami rasakan sepanjang perjalanan ini. Pukul 8:15 wib, kami tiba di Boro. Rombongan para saudara dan saudari yang menggunakan mobil, mampir sebentar di Panti Asuhan Putra Santa Maria Boro, tempat penginapan Sdr. Bambang OFM, yang dikelola oleh Para Bruder FIC. Sedangkan rombongan para saudara yang menggunakan sepeda motor, mampir sejenak di Panti Asuhan Putri, Brayat Pinuji yang dikelola oleh Para Suster OSF Semarang.

Setelah kunjungan persaudaraan yang singkat itu, kami semua, akhirnya beranjak ke Gereja Paroki St. Theresia Lisieux Boro yang menjadi tujuan utama kami, mengingat Perayaan Ekaristi minggu panggilan akan di mulai pukul 10:00. Setibanya di Gereja, kami semua harus melakukan registrasi dan yang terpenting adalah tetap menjaga dan melakukan protokol kesehatan seperti: tetap memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, dan mengukur suhu badan. Setelah registrasi, kami semua berbaris masuk ke dalam gereja dan menyusun formasi di tempat koor. Para saudara yang bertugas menyanyikan suara 1 “sopran” mendapat bantuan suara “malaikat nan suci” dari Sr. Skolastika, OSC bersama 2 aspiran Klaris. Sedangkan, para saudara yang bertugas menyanyikan suara alto, tenor, dan bas masih dengan komposisi yang sama seperti pada saat latihan. Nah, satu hal yang perlu diketahui bahwa selama 5 hari latihan tersebut, para Saudari kita, Suster-suster Klaris, belum pernah ikut bergabung. Mereka baru saja mengadakan latihan lagu-lagu tersebut di mobil selama perjalanan menuju Boro bersama Sdr. Sipri OFM, Sdr. Kristian (postuan), dan Sdr. Juan (organis) yang juga seorang driver. Alhasil, para Saudari kita ini, pada akhirnya dapat menyanyikan lagu-lagu koor dengan sangat baik, indah, dan merdu. Pada akhir perayaan ekaristi, semua umat yang hadir secara spontan memberikan standing ovation walaupun seharusnya hal tersebut tidak perlu dan bahkan tidak boleh dilakukan di dalam gereja pada saat perayaan ekaristi berlangsung.

Selanjutnya, kalau melihat situasi dan kondisi di dalam gereja Boro pagi ini, ada hal yang terasa berbeda dengan hari-hari Minggu sebelumnya. Mengapa demikian? Iya, karena di barisan bangku koor terdapat orang-orang berjubah coklat kehitam-hitaman yaitu para Saudara Dina (OFM) dan Para Saudari Klaris (OSC). Sedangkan, di bangku umat, terdapat banyak orang berjubah warna-warni, dengan ada yang mengenakan kerudung dan ada  yang tidak. Mereka itu adalah para Suster, Bruder dan Frater dari berbagai Tarekat, seperti para Suster OSF Semarang, FCH, AK, ADM, HK, PIJ, CM, Bruder FIC, dan Para Frater Projo Semarang dan Purwokerto. Moment ini dikatakan mungkin jarang terjadi di Paroki ini. Ditambah lagi kami Para Saudara dan Saudari dapat membantu mereka menghayati Perayaan Ekaristi Kudus Minggu Panggilan ini. Adapun Perayaan Ekaristi ini dipimpin langsung oleh Pastor Paroki Boro, Rm. Romualdus Subyantara Pr selaku selebran utama yang didampingi oleh Romo Adhi Muda, Pr sebagai konselebrannya.

Dalam khotbahnya, Romo Suby Pr, berpesan demikian: “Panggilan bukanlah sesuatu yang langsung terjadi seketika. Hal itu melalui suatu proses yang diwarnai dengan berbagai macam cobaan, tantangan, hambatan, dan rintangan. Dan, proses tersebut sangat perlu dilalui dengan hati yang penuh dengan kesabaran dan ketulusan yang disertai dengan harapan yang pasti dari yang menjalaninya.” Selanjutnya, beliau menambahkan bahwa meskipun kadang kala panggilan itu diawali dengan sebuah motivasi yang tidak begitu matang, tetapi akan dimurnikan dalam perjalanan selanjutnya. Intinya, seseorang harus berani menanggapinya dengan penuh keyakinan kepada Tuhan yang senatiasa setia memanggilnya. Khotbah ini tidak ditujukan kepada para peserta Prompang, yaitu anak-anak SEKAMI saja, tetapi kepada para biarawan dan biarawati yang hadir pada saat itu. Sebab, semuanya sedang berproses dalam panggilannya, baik yang sudah, sedang, maupun yang akan menjalaninya. Singkat cerita, setelah mengikuti Perayaan Ekaristi Kudus, kami semua berdinamikan di dalam kelompok, sebagaimana telah dibagi oleh Panitia Prompang. Setiap Tarekat, mendampingi dan membina 1 kelompok anak SEKAMI yang telah dibagi Panita. Khusus untuk Tarekat OFM, karena memiliki jumlah yang cukup banyak, maka diberi kepercayaan untuk mendampingi dan membina 5 kelompok peserta Prompong yang terdiri dari anak-anak SEKAMI.

Jujur, saya dapat mengatakan bahwa moment berdinamika kelompok dengan anak-anak SEKAMI merupakan hal yang baru bagi Para Saudara Postulan, tetapi tidak untuk para saudara muda. Maka, para saudara muda yang sudah berpengalaman tersebut, langsung diperayai sebagai ketua di setiap kelompok. Anak-anak SEKAMI di Boro sangat antusias mengikuti dinamika kelompok. Mereka begitu bersemangat mendengarkan dan aktif terlibat dalam berbagai kegiatan dinamika kelompok. Meskipun juga, ada beberapa anak yang terlihat asyik bermain handphone (HP) saat kegiatan berlangsung. Iya, maklumlah, namanya anak-anak milenial yang lahir di zaman teknologi digital. Kendati demikian, kami mampu menarik perhatian mereka melalui permainan yang menarik, sekaligus mengajak mereka menonton video promosi panggilan yang telah disiapkan.

Kami berharap penglaman yang berharga ini kiranya tidak hanya menjadi sarana bermain saja, tetapi menjadi sesuatu yang berguna bagi para generasi muda Gereja Katolik, khususnya di Paroki St. Theresia Lisieux Boro dalam menanggapi panggilan Tuhan. Oleh karena itu, sesuai dengan judul tulisan ini, Para Saudara Dina (OFM) datang dan hadir di Paroki Boro dengan satu tujuan, yaitu ingin menggarami dan menjadi “humus” yang dapat menyuburkan benih-benih panggilan bagi Para Remaja Paroki Boro yang masih kental semangat Kekatolikannya. Istilah tanah yang berhumus ini, setidaknya, menurut saya pribadi, sangat cocok dengan warna jubah pertobatan yang dipilih dan dikenakan oleh Bapak kita, St. Fransiskus Assisi, yaitu cokat kehitam-hitaman. Makna dari warna jubah pertobatan yang dikenakan St. Fransiskus Assisi dan para pengikutnya (Para Fransiskan) tersebut adalah menebarkan benih-benih panggilan dengan cara menobatkan semua Umat Allah yang dijumpai di setiap tempat karya di muka bumi ini dengan Injil Suci Tuhan kita Yesus Kristus.

Selanjutnya, sebagai akhir dari kegiatan ini, sebelum kembali ke Komunitas Biara Papringan dan Klaris, kami Para Saudara dan Saudari Dina mangadakan kunjungan ke Panti Asuhan Putri Brayat Pinuji yang dikelola oleh Para Suster OSF Semarang. Di Panti tersebut, kami berjumpa dengan anak-anak yang sangat baik yang merupakan titipan Tuhan untuk dijaga, dirawat dan dipelihara oleh para Suster OSF beserta para karayawti di panti tersebut. Sambil bercengkrama dengan anak-anak panti tersebut, kami disuguhi Bakso dan beraneka-macam makanan lainnya oleh Para Suster OSF. Jujur, kalau soal makanan, kami tidak dapat menolaknya karena kami mengganggap bahwa itu semua adalah anugerah dan pemberian Tuhan yang patut disyukuri, diterima, dan dinikmati. Oleh karena itu, tanpa basa-basi dan merasa sungkan, kami semua menikmati hidangan tersebut dengan lahap, sukacita, dan kegembiraan Melihat reaksi kami itu, para Suster hanya menggelangkan kepala, sembari tesenyum bahagia dan menyadari serta mengagumi bahwa inilah Para Saudara dan Saudari Dina yang selalu bersyukur dan bersukacita menerima dan menikmati setiap hidangan yang disajikan dalam situasi apa pun. Sungguh, kebahagiaan dan sukacita meliputi panti asuhan ini dengan kehadiran Para Saudara dan Saudari Dina. Tidak hanya itu, kehadiran Para Saudara dan Saudari Dina juga membawa sukacita dan berkat bagi anak-anak panti asuhan yang terkesan langsung akrab dan tidak merasa malu untuk bergaul dan bersendagurau dengan kami. Bersama mereka, kami bercerita, bercanda, tertawa, dan berbagi sukacita Kristus. Pengalaman yang paling berkesan dari perjumpaan ini terjalinnya rasa persaudaraan dan kekeluargaan yang mendalam di antara kami, seperti yang telah diwariskan oleh Bapak kita Santo Fransiskus dari Assisi. Meskipun baru pertama kali bertemu, namun, terasa seperti sudah pernah bertemu berkali-kali karena keakraban dan persahabatan yang terjadi di antara kami.

Akhirnya, sebagaimana pepatah yang berbunyi: ada perjumpaan maka pasti ada perpisahan. Maka ketika waktu telah menunjukkan pukul 16:00, saatnya kami harus berpamitan untuk kembali ke Komunitas kami masing-masing. Pace e bene. *

By Sdr Gregorius Paskalis (Postulan Yogyakarta)

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *